Cerpen

Nasib Burungku

(Padang Ekspres, 19 Januari 2014)

nasib burungku

Simah, istriku, baru saja membunuh kutilang punyaku. Padahal kutilang itu sudah kusimpan rapat dalam sangkar bambu dan kugantung di teras belakang setinggi tiga meter. Hanya di waktu-waktu tertentu –memberi makan, menyetok air, dan memandikan– aku mengeluarkannya. Itu pun masih butuh kursi plastik untuk sambungan berdiri. Aku memang lengah. Simah seperti sudah merencanakan dan mengintai kutilang itu sejak lama. Mencari waktu paling tepat untuk mengeluarkan kutilang tanpa sepengetahuanku dan menggorok leher burung yang kalau bernyanyi melebihi kemerduan lagu-lagu di radio.

Apa salah kutilang itu?

Aku baru saja memasukkan keping film. Hari-hari pensiun paling enak dihabiskan untuk menghibur diri. Film baru mulai beberapa menit, tiba-tiba muncul gaduh di teras belakang. Mungkin itu suara Telon –kucing belang tigaku– yang suka menendang-nendang tumpukan kaleng bekas biskuit.

Biarkan saja. Hewan kaki empat itu memang terlampau aktif. Sambil kuraih toples keripik, mataku menangkap Telon yang sedang tidur melingkar dekat kaki meja telepon. Telon nyenyak, perutnya kembang kempis. Lantas suara ganduh? Aku bermaksud menengoknya, tapi aku tidak rela untuk mem-pause film. Aku menumbuhkan prasangka baik saja. Bisa jadi suara gaduh itu bersumber dari kenakalan kucing tetangga, atau Simah yang tanpa sengaja menyenggol perkakas dapur. Biarkan! Kutengok saja nanti setelah seratus menit film diputar.

Simah datang membawa nampan teh suam-suam kuku. Blus lengan pendek berlumuran darah. Tangan basah, usai dicuci. Aroma sabun tercium seperti jarum menusuk jantung. Rambut digelung ke belakang. Dan senyum menyeringai persis tokoh-tokoh antagonis. Licik dan menyimpan rahasia bengis. Mengintimidasi. Aku melongok dan terdiam beberapa saat. Kepalaku berputar memikirkan sebuah pertanyaan yang merubung pikiran. Ia duduk di kursi sebelah kananku, menyeruput teh dengan tenang, sesekali tertawa ketika adegan film lucu, juga meminta mendekatkan toples keripik.

Apa Simah sudah sedemikian kalut? Sehingga ia tidak risih dan jijik pada darah di pakaian.

“Kutilangmu kubunuh!” Simah berkata dengan ringannya, seperti perkataan seorang yang setengah mabuk bercerita dosa-dosa masa lalu. Enteng-enteng saja.

“Kutilang itu berkicau merdu kalau pagi,” aku membela dengan susunan kata dan notasi halus agar tidak terkesan menuduh. Kalau Simah sudah marah, ia bisa uring-uringan hingga seminggu. Imbas paling nyata adalah meja kosong tanpa makanan.

“Aku bosan. Aku terus yang memberi makan. Sedang tuannya hanya nonton film dan memainkan itu burung saban hari,” Simah mengutarakan alasan yang terkesan mengada-ada.

“Itu saja?”

Aku tahu istriku menyimpan alasan lain. Aku menuju ruang belakang tanpa melirik Simah yang tidak memiliki gimik bersalah walau setitik. Aku ingin memastikan apa bangkai kutilang dikubur dengan layak oleh Simah. Tetapi seketika kutepis. Kuyakin Simah tak akan melakukannya. Pekerjaan yang bisa diserahkan suaminya, ia diam menunggu kurampungkan.

Sangkar kutilang menganga terbuka di lantai semen. Tergeletak dekat kran dan selang untuk menyiram tanaman. Voer dan air minum tumpah berceceran. Di atas batu warna hitam, dekat rimbun bunga matahari, bulu-bulu kutilang terserak bersama bercak darah. Pasti bertumpu batu itu Simah menebas leher kutilang. Tidak kutemukan bangkai kutilang. Meskipun ada segerumbul amarah pada Simah, aku tetap tidak bisa mengajukan protes. Lebih menderita lagi, aku tidak bisa menerka alasan Simah.

Kutilang bagiku pelipur lara dan pengisi senggang. Aku bisa menyiulinya kalau aku capek bermain-main dengan Telon.

Apa aku juga tidak punya hak seperti ia yang asyik arisan dengan sahabat-sahabatnya juga?

***

Beberapa minggu lalu, ia pernah mengeluhkan kotoran kutilang yang susah dibersihkan. Tripleks penadah kotoran rusak dan belum sempat kuganti. Tanpa dimintanya lantai kubersihkan dengan cairan karbol konsentrat tinggi untuk mengusir kuman. Kupasang tripleks baru dibawah sangkar untuk menadahi kotoran. Simah diam tidak lagi memprotes. Lantas apa? Ia benci kicauan kutilang? Tidak. Simah beberapa kali menyiuli kutilang. Apa mungkin karena kesalahanku dalam membeli pembersih lidah yang tidak sewarna dengan sikat giginya? Tetapi masa itu aku sudah meminta maaf dan ia pun rela meski harus memakai sikat dan pembersih lidah yang tidak senada warnanya.

Apa wanita memang mudah memaafkan tetapi susah melupakan?

Simah memiki rasa mudah bosan tinggi. Simah mudah membuang atau membakar barang-barang yang tidak ingin dilihat atau dipakai. Tetapi apa burung kutilang ini masuk daftar barang yang membuatnya mudah bosan? Kecil imut dan bisa dimainkan.

Sebelum aku memelihara kucing dan kutilang, aku pernah memiliki beberapa tanaman hias dan dua buah ikan mas di akuarium. Mula-mula Simah menyukainya. Tetapi tak lama tanaman hias itu kutemukan tercerabut dan mengering di tumpukan sampah. Sudah diganti dengan vertical garden berisi toga- tanaman obat keluarga. Aku tak berani memarahinya. Sementara ikan mas bernasib menjadi hidangan makan malam. Dengan enteng Simah berkata bahwa ikan mas dibunuh karena kecipaknya mengganggu tidur siang. Aneka keluhanku tak akan mengubah nasib ikan mas. Aku hanya menggerutu dalam hati sambil merengut. Saat bosan Simah bisa melakukan apa saja.

Kutilang itu sebenarnya seperti burung-burung kicauan lainnya. Kutemukan di PASTY. Bulu-bulunya tak istimewa. Kicauannya tidak terlalu merdu. Tidak ada katuranggan dicucuk, ules, dan sayapnya. Justru karena ketidakmenarikannya membuatku ringan mengeluarkan uang tanpa menawar. Atas dasar informasi yang kutemukan di google, kuberi extrafeeding untuk memacu berkicau indah sempurna. Benar. Kutilang itu akhirnya riang berkicau saban pagi.

***

Kubersihkan sisa-sisa bulu dengan serok dan sapu. Kukubur dekat pohon mangga. Aroma darah bisa mengundang anjing datang. Kugelontorkan air di lantai semen. Pekerjaan bersih-bersih kewajibanku. Simah memang istriku dan jelas-jelas mengakuiku sebagai pemimpin keluarga, tetapi lebih sering Simah yang mengatur semuanya. Esok dan seterusnya takan ada lagi suara kutilang merdu menyambut pagi.

“Kamu kemanakan bangkainya?” suara kukeraskan agar Simah mendengar.

“Kutaruh di kulkas,” Simah menjawab datar.

“Maksudnya?”

“Kusimpan untuk persedian makanan kucing,” dijawab semakin ngawur.

“Emang Telon doyan?”

“Burungmu terus menggoda Telon. Daripada membuat Telon berdosa dengan membunuh kutilang, mending kubunuh dulu dan kukasih dagingnya. Kamu ikhlas, kan?”

Retorik. Sekadar basi-basi pertanyaan. Penolakanku tetap saja tak dipedulikannya. Kepalaku semakin berdenyut keras, seperti dipalu berkali-kali. Apa demikian kelakuan orang-orang tua? Kadang berbuat tanpa butuh alasan logis. Daging kutilang mau disuapkan Telon? Atau itu hanya sebuah alasan untuk menutupi rencana lain dari Simah. Kudekati kulkas sambil geloyoran.

“Kamu simpan sebelah mana?”

“Dekat kotak kacang tanah!”

Daging kutilang sudah dicacah kecil-kecil. Dimasukkan plastik bening. Kutimang-timang. Simah kejam. Kutilang itu tidak memiliki banyak daging. Apa Telon mau memakan beginian?

“Simah, habis ini mau bunuh piaraanku mana lagi?” kalimatku pelan. Dijawab Simah dengan berdeham.

Suara gaduh dari ruang tengah. Suara Telon dicekik. Merintih dan mengerang. Sudah kuduga. Telon sasaran Simah selanjutnya. Sepertinya Simah ingin menghabisi semua hal yang membuatku terhibur. Aku berjongkok dekat mulut kulkas terbuka. Hawa dingin menguar tidak mampu menurunkan tensi di kepala. Kutilang dan Telon lucu dan bisa dimainkan saja dibunuh kejam Simah. Apalagi perkakasku yang sudah lama tak berfungsi? Berkicau pun sudah tidak sedap didengar. Keringatku menetes deras. Tensiku meninggi sekali.(*)

PASTY: Pasar Satwa dan Tanaman Hias Yogyakarta. 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s