Cerpen

Yarasia

(Media Indonesia, 8 Desember 2013)

08_12_2013_010_031_016

Rumah Yarasia tampak begitu menarik. Cat-catnya selalu diperbarui. Aneka tanaman di halamannya senantiasa berbunga. Dua kali disiram oleh Puru, tukang kebun yang kurus, tapi terampil. Pagar rendah –dari kayu mahoni merah– rapi dan rapat, hingga tak mungkin dimasuki ular, kalajengking atau lipan. Pekarangannya terang dan amat tertata. Namun para tetangga sekitar tetap mengelus dada dan merasa iba melihat keseharian Yarasia.

“Rumah sebagus itu sayang ditempati sendiri,” kata seorang tetangga. Prasangka buruk mengenai Yarasia memang kerap terdengar.

“Cantik, kaya, tapi tidak kawin. Buat apa?”

Di usia empat puluh enam, Yarasia masih sendiri. Ia tidak menyesal telah menolak lamaran kekasihnya –cinta pertamanya– di usia 32. Yarasia bukan kategori wanita buruk yang wajib dihindari laki-laki. Wajah cantik, meski bekas jerawat puber luput dirawat dan menyisakan noktah di sekitar hidung. Tubuh ramping. Paha, bahu, dan betis kencang. Tutur kata tegas dan tidak menyukai bahasa sindiran. Namun, kesendirian telah mengajarkan ketangguhan, bagi Yarasia.

Yarasia tidak pernah berpikir untuk menikah. Menikah hanya akan merepotkan hidup, katanya. Setiap hari harus melayani suami, menghabiskan akhir pekan bersama, atau liburan berdua. Tidak bebas. Tak pernah terpikir oleh Yarasia, bagaimana tiba-tiba ia harus tidur bersisian dengan seorang lelaki. Wajah baru, dengus napas baru, dengkuran baru, yang setiap malam mesti ia hadapi. Yarasia berpikir, dengan bersuami, nikmat tidur di ranjang sendirian akan dijajah sesenti demi sesenti. Yarasia pernah kecewa ketika satu demi satu kawannya melepas masa lajang dengan menerima pinangan laki-laki.

“Aku pun bahagia dengan sendiri,” katanya.

Di rumahnya, Yarasia ditemani seekor anjing kintamani dan Puru, tukang kebun yang hanya akan datang ketika hari sudah terang.

***

“Yarasia, aku benar-benar minta bantuanmu,” mohon Kunita, kawan dekat Yarasia, seorang pengusaha perkebunan apel. Ia datang pada suatu pagi yang tak diduga Yarasia.

“Aku tidak pernah merawat anak-anak,” jawab Yarasia.

“Ini darurat, Yarasia! Kumohon….”

Kunita agak panik. Yarasia satu-satunya harapan. Ia harus menyusul suaminya, yang sedang dalam masalah, izin memasarkan apel ke sebuah supermarket dipersoalkan. Kunita harus membantunya. “Tolonglah Yarasia. Paling lama sampai lusa. Aku tidak mungkin mengajak mereka. Aku juga tidak bisa meninggalkan mereka sendiri di rumah dengan pembantu saja. Mereka akan membuat keributan bila ditinggal tanpa pengawasan.”

“Apa menitipkan mereka kepadaku tidak menimbulkan keributan?” batin Yarasia.

Yarasia menghela napas. Mengapa suasana buruk selalu datang tanpa pertanda?

“Baiklah,” katanya

“Tolong jaga mereka sampai aku kembali. Anggaplah mereka anak-anakmu,” kata Kunita

“Lebih cepat kembali, itu lebih baik!”

Kedua anak Kunita duduk di teras. Maya, kelas dua sekolah dasar, memakai kaus kaki warna kuning hampir selutut. Pipinya merah penuh. Rambutnya digerai, dihiasi bandana merah menyala. Adiknya, bocah usia lima tahun, Yuda. Kepalanya plontos.

Yarasia mengamati mereka. Pikirannya dipenuhi berbagai hal baru yang harus dilakukan. Kedua bocah itu tampaknya tidak nakal. Yarasia mengingat-ingat apa saja yang dulu pernah dilakukan saat usianya seperti mereka. Nakal? Mengacak-acak perkakas dapur? Merengek minta lolipop? Berebut mainan? Menumpahkan susu saat makan? Berak di celana? Atau menangis setiap akan tidur?

“Mereka akan melakukan kekacauan itu semua selama dua hari ini? Kiamat!” batinYarasia.

Sinar matahari mulai menyentuh teras. Tampak bulir-bulir keringat di dahi Maya. Yuda menggeliat kepanasan. Mereka mulai ingin diperhatikan.

“Sebaiknya kita masuk,” bujuk Yarasia canggung. Maya menggendong Yuda. Tas pakaian diangkat Yarasia ke dalam. Seperti ada angin ganjil yang menerobos sela-sela ventilasi.

Yarasia tak tahu harus melakukan apa. Ia mondar-mandir di dapur. Yuda bangun sesaat setelah ditidurkan di sofa. Menangis sebentar, lantas didiamkan oleh Maya. Mereka kelaparan? Yarasia mengeluarkan isi lemari pendingin. Anak-anak suka es krim. Susu. Biskuit cokelat. Tak ada permen. Ayam goreng. Semua ia letakkan di meja makan. Ini lebih repot ketimbang mengurus delapan anjing kintamani.

“Maya, Yuda….”

Mereka tidak ada di ruang tamu. Ada suara tawa yang lama tak didengar Yarasia. Tawa bocah kegirangan. Lama sekali Yarasia tidak mendengar keceriaan itu. Terakhir ketika Yarasia dan keempat saudaranya seusia Maya dan Yuda.

Maya dan Yuda asyik berlompatan di pekarangan. Maya mengumpulkan beberapa tangkai bunga kertas, sementara Yuda berlarian menangkap kupu-kupu yang beterbangan di halaman. Anjing kintamani berlarian lincah mengikuti Yuda.  Suara tawa mereka terasa aneh dan baru, tapi itu membuat serasa ada yang mengepak dan terbang perlahan-lahan di dada Yarasia. Ia terus mengamati tanpa berniat mengganggu.

“Mengapa Yarasia tidak memarahi kami?”

Yarasia terhenyak oleh pertanyaan Maya yang mendadak.

“Kenapa harus marah?”

“Ayah selalu memukul kalau kami merusak bunga, apalagi kalau Yuda bermain ditanah.”

Yarasia tak pernah menduga dua bocah selucu Maya dan Yuda harus menerima pukulan.

“Saaat dihukum, kami harus menyerahkan betis untuk dipukul dengan rotan.”

“Kalau bunga itu rusak, Pak Puru akan memperbaikinya. Sesekali merusak tidak apa. Aku senang melihat kalian bahagia,” kata Yarasia.

Maya belum mengerti dunia orang dewasa, tidak patut diceramahi atau dinasihati kalau taman dan bunga itu harganya jutaan.

“Kupikir Yarasia terlalu tua untuk merawat kami. Tapi, ternyata begitu baik,” lalu, Maya memeluk Yarasia.

Seperti ada aliran hangat yang terasa berbeda. Masuk ke dalam pori-pori kulit Yarasia. Ia ragu-ragu membalas rengkuhan Maya.

***

Saat malam tiba, Maya dan Yuda diam saja di ranjang setelah diminta tidur, sementara Yarasia harus menyelesaikan pencatatan jual beli. Ia mereka-reka, apa mereka perlu diganti dengan piyama? Atau butuh dongeng sebelum tidur dengan elusan dan tepukan kecil di paha? Atau susu hangat?

Maya tersenyum seperti mengerti kebingunan Yarasia. Yuda menguap berkali-kali dan meringkuk di sebelah Maya. Menyaksikan gadis kecil itu telaten menidurkan adiknya, Yarasia kikuk. Tubuhnya terlalu kaku untuk melengkung dan merangkul Yuda yang mulai terlelah mengemut jempol.

“Orang tua kami sibuk, kami tidur tidak manja. Sekali ngantuk langsung tidur.” Si kecil Maya berkata seperti kakak yang bijak.

Demi mendengar itu, Yarasia menghentikan sebentar pekerjaannya. Didekatinya dua bocah yang pagi tadi disangka akan merusak rumah. Kini jempol Yarasia diemut Yuda. Membuat ia terpaksa ikut tidur-tidur di dekat mereka. Yarasia merasakan dengkuran halus, merelakan seprei dan bantalnya menerima liur dua bocah kecil itu dan mulai terbiasa menerima kecupan berliur Yuda dan Maya.

Seperti yang diduga Yarasia, Kunita pergi berlarut-larut. Ia memang ibu yang lebih suka pergi sendiri sesuka hati. Meski dongkol, Yarasia selalu tersenyum di depan Maya dan Yuda. Ia tidak lagi mengeluhkan riuh tawa, rengekan, dan teriakan yang menggema di dalam rumah sepanjang hari. Keriuhan itu justru membuat Yarasia tidur nyenyak. Ia tidur nyaman meski tertindih badan Maya dan napas Yuda. Hangat terasa baginya.

***

Hari ketujuh, tumbuh rasa keibuan dalam hati Yarasia. Maya dan Yuda seperti dewa-dewi kecil yang turun dari langit. Kedatangan Kunita yang tanpa pemberitahuan, membuat Yarasia bergetar dan seolah tak percaya. Di mana Maya? Jauh di sana, bersama Pak Puru memetik bunga-bunga kertas. Yuda? Si kecil itu sedang duduk melumat batangan cokelat. Ia berteriak gembira melihat ibu dan ayahnya kembali.

 

Kegembiraan Yarasia luruh seiring kepergian mereka. Tak ada yang tersisa. Ia melihat  mobil Kunita bergerak menjauh. Menyusuri jalanan depan rumah, hingga tak terlihat di tikungan. Kunita dan anak-anaknya sudah pergi, tapi samar-samar Yarasia masih mendengar riuh tawa Maya dan Yuda.

Yarasia kembali ke dalam rumah. Ada banyak pekerjaan yang menantinya. Anak-anak itu telah menyisakan kesedihan. Yarasia duduk sendiri di samping meja. Ia menjatuhkan kepala pada lengan yang ditekuk dan mulai menangis. Wanita yang selalu memakai mantel kulit itu menangis! Kali ini Yarasia menangis sebagai wanita. Anjing kintamani menjilat-jilat ujung jemari Yarasia.

“Siapa yang sepagi ini sudah menangis?”

“Suaranya dari arah rumah Yarasia.”

Hening sebentar.

“Tidak. Suara Yarasia tak sehalus itu.”(*)

NB: saya memakai nama pena “Harum Sari” di cerpen ini.

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s