Cerpen

Haji Busuk

(Majalah NooR, November 2013)

IMG_0002Betapa terkejutnya ketika hidungku menangkap bau busuk menyengat. Seperti datang dari timbunan bangkai tikus sawah mati kena ranjau petani, atau sampah pasar seminggu luput dikeruk, atau kakus mampet. Aku baru sampai rumah. Setelah perjalanan kereta Jakarta-Jogja, disambung taksi yang sering disalip motor. Bau itu menambah mual perutku, yang memang keroncongan sedari keluar dari Stasiun Tugu.

Mungkin perubahan suhu ekstrim membuat segalanya tercium lebih tajam.  Di dalam taksi dengan kecepatan putar AC pada level tiga. Dingin. Jalanan aspal Jogja bergoyang kena fatamorgana. Sampai rumah pendingin udara menggelontorkan udara dengan angka 18 derajat.

Mbok Jum menyambut dan meraih tas pakaian. Mbok Jum menawari dhahar siang atau mandi air hangat terlebih dahulu, dengan pilihan kalimat bagus. Sejak dulu, Mbok Jum selalu bersikap demikian ketika sampai rumah. Tetapi aku lebih ingat Mbok Jum dari ulenan urap bunga turi dan klepon gula merah. Dua makanan itu selalu kurindukan ketika pulang ke Jogja. Tetapi makanan-makanan lezat itu tidak membuat liur menderas kencang. Bau busuk terus menyebar menusuk-nusuk hidung, memualkan lambung.

Aku minta Mbok Jum membawakan tasku ke kamar. Mungkin aku butuh rehat dengan tidur-tidur ayam sebentar. Bapak mulai sibuk menerima tamu. Dua hari yang lalu, bapak baru sampai Indonesia selepas haji. Para tamu datang mengucapkan selamat sekaligus minta didoakan. Mereka menikmati hidangan air zamzam dan membawa pulang buah tangan.

Hidungku terus saja mencium bau busuk yang entah dari mana berasal. Mbok Jum yang menguasai urusan pembersihan rumah, merasa sudah membuang sampah di dapur, kakus juga tidak akan penuh, apalagi luber diisi bapak seorang, tikus tidak mungkin ditemukan di rumah ini.

“Mungkin den bagus belum mandi? Jadi bau kereta masih nempel,” Mbok Jum membalas dengan candaan sopan.

“Kereta eksekutif tidak berbau busuk seperti kereta ekonomi mbok,” mulai kuselidiki lempitan ketiak.

“Den bagus istirahat saja. Nanti kalau sudah sore, Mbok bangunkan. Mandi pakai air hangat. Biar segar.”

Aku tersenyum sambil terus memikirkan dari mana bau tidak enak ini berasal. Ketika di ruang tamu tadi, sepertinya bau itu berasal dari ruang keluarga. Tetapi saat sampai di ruang keluarga, justru terasa sumber bau busuk itu kuat di area meja makan. Lantas ada segerombol bau busuk juga dari kolam renang. Kamar. Gudang. Kamar bapak. Kusimpulkan sementara, bau busuk itu seperti udara yang digelontorkan pendingin ruangan, mengisi sela-sela rumah ini.

Aku mandi agak lama. Kugosok dengan sabun berulang kali. Sela-sela ketiak, lipatan paha, sela-sela jari, dan area-area yang memungkinkan menjadi sarang kotoran hingga berbau busuk. Ketika tamu datang, aku boleh bau (kalau aku sumber bau). Pengajian akan bubar kalau diserang bau busuk menyengat. Jamuan makan malam bakal runyam. Seserakah-serakahnya orang tentu akan eneg kalau makan di tengah bau mirip bangkai. Kusemprotkan parfum. Kupakai pakaian baru dan wangi. Kupastikan aku tidak menjadi sumber bau.

Selepas sembahyang isya nanti ada tasyakuran kepulangan bapak haji. Juga akan diumumkan bahwa aku baru selesai sidang sarjana ekonomi, sesuai impian bapak dan pesan almarhumah ibu. Dua peristiwa istimewa. Tidak boleh gagal. Semua keluarga besar, kolega bapak, besan dan menantu, serta tetangga akan datang. Lantas mengucap syukur dan berdoa penuh keberkatan.

Tetapi bau busuk itu masih ada. Padahal tubuhku wangi. Ini bukan berasal dari aroma busuk kereta yang menempel di tubuhku.  Pasti ada sumber lain di rumah ini.

Mbok Jum kuminta membuang semua sampah di dalam rumah. Menjauhkan pakaian-pakaian kotor yang mungkin jadi sumber bau. Membuang tandon-tandon air di vas bunga, di pot tanaman, menguras kolam ikan dan akuarium. Lalu menyemprotkan pengharum ruangan dengan intensitas lebih besar. Di bawah kursi, dekat tempat sampah, dapur, kadang kucing, harus disemprot pewangi. Kamper dan penyemprot otomatis dipanjer lama-lama.

Seberapa keras usaha Mbok Jum, bau itu tetap menyerbu dalam rumah dengan kekuatan penuh. Anehnya, hanya aku yang mencium bau busuk itu. Apa hidungku terlalu sensitif atau hidung lain sudah kebal dengan bau busuk seperti ini? Jangan-jangan bau busuk ini adalah hal gaib penanda ada kebusukan di rumah ini. Seperti saat tercium bau busuk gaib dari tubuh pejabat berhati busuk. Pejabat suka makan apa saja: uang rakyat, aspal, minyak bumi, juga bangkai.

Kejadian itu lima bulan lalu, saat aku ikut demonstrasi penggulingkan Menteri A. Kami berjalan dari lapangan kampus hingga depan kantor kementrian. Polisi memang menghadang agar tidak terjadi perusakan sarana-prasarana. Menteri A keluar dengan penjagaan security. Dia berbicara di depan kami yang terus meneriakkan yel-yel kemunduran baginya. Wajahnya tenang. Tutur bicara perlahan. Pilihan kata dan intonasi benar-benar intelektual. Dia lulusan doktor fakultas hukum. Tetapi bau busuk tercium di setiap ucapannya. Kalau diamati saksama, udara berwarna hijau keluar dari mulutnya. Di tengah-tengah apak keringat, bau matahari, dan bau mulut kami, bau busuk Menteri A terus menerjang. Seminggu kemudian dia terbukti melakukan penyalahgunaan wewenang hingga tindak penggelapan.

Apa bau busuk itu muncul dari bapak seperti Menteri A? Apa bapak korupsi?

Andai bapak berlaku demikian buat apa? Bapak bukan pegawai kantor. Bapak juga bukan pejabat yang melaksanakan proyek besar pemerintah. Bapak juga bukan PNS. Bapak hanya penjual batik, meneruskan usaha ibu. Rasanya tidak masuk akal pengusaha mengorupsi aset sendiri.

Mbok Jum? Mbok Jum terlalu baik untuk masuk kategori pembantu licik. Kalau ada niatan buruk dari Mbok Jum, tentu sudah dilakukan sejak lama. Mungkin dia bisa menilap perhiasan emas ibu, batik-batik sutra halus berharga jutaan, atau menyembunyikan kembalian uang belanja. Tetapi Mbok Jum tidak demikian. Mbok Jum pembantu setia dan terlampau baik. Lantas siapa?

Sampai usai sembahyang isya aku tidak menemukan jawaban. Keluarga kakak-kakakku sudah datang. Tamu dan kolega sudah bersalaman, mengucapkan selamat kepada bapak. Mbok Jum dibantu beberapa tetangga perempuan wira-wiri keluar-masuk membawa nampan teh dan kopi. Air zamzam diputar dengan teko warna emas dan cangkir kecil. Semua nampak bahagia. Sudah disiapkan bingkisan untuk dibawa pulang. Sajadah asli arab, kacang arab, sedikit air zamzam, dan makanan.

Apa tidak ada satupun yang mencium bau busuk? Demi kenyamanan aku memakai masker dan kuolesi minyak wangi di dekat lubang hidung.

“Kamu kenapa?” kakaku paling tua bertanya.

“Pilek,” aku berbohong. “Perjalanan jauh membuat stamina buruk. Suhu juga tidak baik.” Kakakku sepertinya tidak didera bau busuk sepertiku.

Seperti biasa ketika pulang dua kakakku akan menjadi penyidik. Menanyai segala hal. Wisuda tanggal berapa? Mau kerja dimana? Melanjutkan usaha batik keluarga? Ikut CPNS? Atau mau S2? Dan pertanyaan yang seperti dihunjamkan dalam, kapan calon istri dikenalkan kepada keluarga? Aku menjawab seperlunya.

Kuamati setiap anggota keluarga. Andai-andai peristiwa gaib saat menurunkan menteri itu kembali terjadi. Dari mulut siapa bau busuk itu muncul.

Sampai usai doa bersama, aku tidak menemukan jawaban pasti. Aku semakin sesak. Dan didera rasa bodoh. Mungkin ini hanya halusinasi terlalu tinggi. Bisa jadi hanya sebuah ketakutan yang berefek pada sikap terlampau hati-hati.

Makan berat keluar. Gulai kambing keluar dengan nasi pulen mengepul. Semua bersiap-siap menyantap sambil terus bercerita. Aku dan bapak bergantian jadi pusat perhatian.

“Selesai kuliah lanjut lagi, Mas Radhi?” Ustad yang memimpin doa bertanya.

“Rencananya mau ambil master ekonomi di Inggris, Ustad.”

“Keren! Dari daerah kita akan ada lulusan Inggris. Pak Haji Untoro semakin bangga. Sudah tuntas menyekolahkan anak. Sebentar lagi ngunduh mantu. Makin pas.”

“Iya Ustad. Saya khusuk mendoakan Radhi di Jabal Rahmah. Agar lekas mendapat jodoh.”

Merasa tersindir aku menunduk. Meraih gelas teh, yang seolah-olah berjarak jauh. Aku belum melepas masker, bau busuk terus mengejar.

“Saya berangkat haji sangat dimudahkan. Lancar dan sehat. Monggo bapak-bapak kalau berniat haji lekas mendaftar, kabarnya Jogja mengantri sampai dua puluhan tahun.”

Dari barisan agak jauh laki-laki dengan kemeja panjang batik parang menimpali dengan kata hati-hati, “Pak Haji Untoro benar-benar mujur. Masih bisa berangkat tahun ini. Teman kantor saya gagal, karena pemotongan kuota.”

Bapak justru menjawab dengan tawa. “Ini fungsinya channel dan jaringan. Aku nitip uang ke kolega pegawai Depag biar berangkat tahun ini.”

Semua manggut-manggut. Hanya ustad pemimpin doa menampakkan ekspresi heran berlebihan. Jawaban bapak membuatku tersentak. Mungkin ini sumber bau busuk yang menyerangku seharian ini.

Mengapa bapak bertindak demikian? Apa menunggu tidak bisa? Di mataku ada udara berwarna hijau di sekiling bapak. Sumber bau. Tetapi mengapa juga ada udara berwarna hijau di sekelilingku? Tidak mungkin. Aku tidak menyogok. Aku hanya memberi hadiah batik tulis sutra kepada profesor pengujiku sebelum sidang. Bau busuk semakin kuat. Berputar-putar di tengah ruangan. Menyebar dan menusuk-nusuk hidung, membuat mual. Mataku tiba-tiba dirayapi jutaan kunang-kunang.(*)

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s