Cerpen

Istriku Pohon Cempaka

(Suara Merdeka, 17 November 2013)

istriku pohon cempaka-farid

Dari tempatku duduk, tampak sopir bus berhenti membeli minuman, nenek penumpang mengunyah pepaya sambil mengintip keluar jendela(1). Jalan depan rumah tidak pernah lelah dilewati kendaran. Pohon cempaka gagah berdiri, menutupi terik matahari dan menghalau polusi. Posisi terenak untuk duduk-duduk di hari minggu siang adalah di teras dekat rimbun pohon cempaka, tingginya melebihi atap lantai dua, membuat teras teduh sepoi-sepoi. Perkakas untuk menjadikan hari minggu tidak biasa-biasa saja siap di meja: cerpen koran, kudapan ringan, dan minuman dingin buatan Ri.

Aku senang memiliki rumah dengan kerindangan maksimal. Meski baru lunas beberapa tahun lagi. Istriku, Ri, jatuh cinta sejak pertama ditawarkan agen KPR. Aku tidak terlalu setuju mulanya. Jalan depan rumah terlalu riuh sepanjang hari. Angin mudah menerbangkan debu-debu ke dalam rumah. Polusi udara, polusi suara, polusi mata. Belum lagi kalau bayi dalam perut Ri lahir. Tidak bagus membesarkan anak di kebisingan. Melihat Ri merengek manja  bergelayut mesra, aku mengalah. Kalau sudah kadung suka, tak bisa ditolak meski dinasihati seribu nabi.

“Mas, rumah ini asri. Lihat pohon besar itu,” Ri menunjuk pohon cempaka merimbuni.

“Benar ibu,” agen KPR dengan dasi motif kembang-kembang dan perutnya melebihi buncit istriku menemukan titik lemah Ri. “Rumah ini memang asri. Pohon itu pohon cempaka. Kalau siang tetap sejuk di tengah terik Semarang, sebaliknya kalau malam akan menampik dingin dari laut Semarang.” Agen KPR nampak tidak pandai, ia tidak memperhitungkan jarak laut Semarang dengan rumah ini yang terhalang bukit.

“Mas sepertinya pohon cempaka itu sudah tua? Mungkin puluhan tahun usianya.” Ri semakin kegandrungan dengan rumah ini.

“Pemilik lahan meminta agar tidak ditebang. Akan menambah oksigen segar. Dan membawa kesejukan ke dalam rumah.”

Agen KPR memang dituntut untuk berbicara apik-runtut hingga pelanggan tertarik. Setelah menimbang-nimbang, mengecek listrik dan air, serta menyelesaikan perhitungan DP dan bunga, surat angsuran pembelian rumah ku-teken.

Ternyata pilihan Ri tidak buruk. Meskipun dari jalan besar hanya diselai sebentuk pekarangan dengan pohon cempaka, trotoar, dan pohon akasia pinggir jalan (mungkin tidak lebih dari empat puluh meteran), rumah ini tetap teduh. Aku dan Ri suka duduk-duduk dekat jendela yang menangkap dedaunan pohon cempaka dalam figura kusen. Kerindangan membuat otak tenang. Panas Semarang tak membuat rumah turut panas. Membuat pekerjaan terasa ringan. Keharmonisan keluarga merindang. Kokoh akarnya menyerabut di bawah lantai rumah.

“Mas, sepertinya pohon cempaka itu berjodoh dengan kita.” Ri berdiri, kepalanya melongok ke jendela.

Rimbun daun cempaka yang  hijau sepanjang tahun mengeluarkan oksigen hasil anabolisme. Lantas mengepung rumah. Adem. Ketika malam, pohon cempaka seperti nenek mendongengi cucu dengan epos Mahabarata. Teduh penuh kebijaksanaan.

**

“Mas, pohon ini berbunga. Harum,” Ri menyodorkan semangkuk bunga cempaka. Segar-segar. Kelopaknya berwarna kuning gading. Di helainya, nampak bulu-bulu tipis. Benang sari berbentuk serbuk halus, terbang terkana embusan napas. Sebagian rebah di kepala putik.

“Kamu memanjat?”

Tak mungkin Ri memanjat. Dari balkon lantai dua? Sudah tak kuizinkan Ri naik ke lantai dua.

“Ingat nasihat Dokter Rusmini, jangan sering-sering naik tangga ke lantai dua. Usia kandunganmu sudah tua. Riskan.”

“Bukan mas, tadi ada yang bantu Ri ngambil bunga cempaka.”

“Siapa?”

“Namanya Kantil.”

Menurut Ri, Kantil wanita rapi. Garis bekas setrikaan tergaris jelas di blus dan rok. Rambut di belah klimis rapi. Saat Ri sedang membersihkan halaman dari daun-daun pohon cempaka yang luruh, ia datang.

“Ia tetangga kita, Ri?”

“Ia tinggal di sini sudah lama. Rumahnya di lajur paling belakang.”

“Bukan pengemis yang pura-pura, kan?”

“Tidak!”

Dalam cerita Ri, Kantil mengambil dengan galah bunga-bunga cempaka di dahan yang lumayan tinggi. Bunga-bunga cempaka manut perintah Kantil. Ternyata hidup di kota tidak jauh berbeda dengan di desa. Tetap saling bantu-membantu antar tetangga.

Sehari. Tiga hari. Sebulan. Selalu Ri bercerita Kantil datang saban pagi, mengambilkan bunga cempaka.

“Kata Kantil, harum cempaka bisa jadi aroma relaksasi. Bikin nyenyak tidur.”

Memang aroma bunga cempaka menentramkan di malam-malam. Halus menerobos dada. Seperti inikah aroma bahagia? Mengusir aroma bengis, aroma iri, aroma jahat yang kudapatkan sepanjang jalan Semarang yang menyengat dan padat.

**

Tetapi cerita Maryadi, penjual nasi goreng keliling, membuatku total merinding. Kantil roh penghuni pohon cempaka. Rumahku dijual sedikit miring, karena tidak laku-laku. Penghuni sebelumnya diganggu tawa wanita meringkik kuda dari pohon cempaka. Apa Kantil yang memberi Ri bunga cempaka sosok dari dunia tak terlihat manusia?

Saat pembangunan, seorang wanita Tegal mendirikan warung semi-permanen yang melayani para kuli. Si wanita memiliki gadis manis. Gadis itu menjadi oase di tengah dahaga letih kuli. Sering digoda. Sering dicolak-colek. Sering disiul-siul saat keluar dengan kaos ketat. Hingga suatu malam gadis itu mengakhiri hidup dengan menggantung di pohon cempaka, yang kata Maryadi, itu pohon di halamanku. Ia dijadikan bulan-bulanan lima kuli bangunan yang berbulan-bulan tidak menjamah perempuan. Mati tidak wajar, menurut Maryadi, menyebabkan sukma ngumbara, roh gentayangan.

Antara percaya dan tidak. Maryadi bercerita seperti ahli sejarah. Bukan. Itu sekadar mitos kaum agraris! Hantu? Apa masih ada di zaman android dan BBM? Apa harus aku percayai kisah animisme itu?

Aku lebih khawatir dengan kehamilan Ri. Ri duduk di dekatku. Kepalanya rebah di pundak. Kuelus lembut perutnya yang sudah besar.

“Semoga hasil USG benar. Kakek neneknya akan senang kalau cucu pertamanya laki-laki.”

“Bapaknya juga akan senang. Merasa menang!” Ri tersenyum manja. Kucubit pipinya yang gempil dan penuh. Sambil terus berdoa semoga sosok Kantil itu benar-benar manusia. Bukan makhluk penghuni pohon cempaka di halaman. Kami datang baik-baik, tidak membawa keributan. Semoga kalau pun benar Kantil adalah roh penghuni pohon cempaka, (Bagian ini aku tidak suka. Aku tidak percaya!) ia tidak akan mengganggu kami.

***

Sembilan bulan lebih lima hari, Ri menampakkan gejala akan melahirkan. Kubawa ke rumah bersalin dekat kota. Kupastikan Ri mendapat kamar paling bagus. Pelayanan maksimal. Ini anak pertamaku.

Ri terus mengerang di ruang bersalin. Aku dijambak. Kubisikkan kalimat doa selamat. Ri harus kuat. Dua belas jam di atas dipan, suara tangis bayi kami pecah bersama tangis kami yang buncah. Ri kalah dalam peperangan terdahsyat. Bayi pertama kami bukan laki-laki seperti hasil USG beberapa bulan lalu.

Aku bahagia mendapatkan anak pertama. Tetapi aku juga sedih kehilangan Ri. Susah di tengah bungah. Atau suka di antara duka. Yang pasti Ri sudah terbang ke angkasa mendahului kami. Meninggalkan impian rumah tangga dan cita-cita.

Ekania –anak gadis pertamaku, kuajak ke rumah. Dibantu ibu kubesarkan Ekania. Dan kembali pohon cempaka itu menjadi sihir bagi Ekania. Ekania akan berhenti  menangis saat didekatkan dengan pohon cempaka. Seberapa kencang tangisannya, langsung akan diam bungkam kalau dekat pohon cempaka.

Aku mulai benci pohon cempaka ini! Dalam taraf maksimal.

Aku tidak peduli, apa Ri mati karena pengaruh Kantil dan pohon cempaka. Ekania barang berhargaku sekarang.

Hingga…

Tengah malam kusaksikan Ri duduk manis di dahan pohon cempaka. Ia mengunyah kelopak bunga cempaka. Sebuah cahaya lolos dari kelam rambutnya. Senyum Ri tak beda. Kukucek mata. Tidak berubah. Kesedihan dan kegundahan lenyap. Apakah Kantil sosok di masa depan Ri? Tidak kuketahui.  Mungkin sosok itu hanya fatamorgana akan kerinduan. Ketika rindu menghunjam semua nampak seperti wajah Ri. Wajah Ri membayang di segalanya. Yang pasti semenjak kulihat Ri di dahan pohon cempaka, aku dan Ekania sering bercengkerama dekat pohon cempaka. Menunggunya muncul di tengah hitam malam. Aroma wangi cempaka menghujani hati. Mungkin itu aroma rindu sejati.

Aku tidak mau pohon cempaka itu menguning tua, lantas dibanting angin ke tanah….(*)

catatan:

(1) Diubah dari puisi Bagus Burham “Berhenti di Kelambu”,  kepada matahari yang kian menguning/ supir bus berhenti untuk membeli pir/ nenek penumpang, mengunyah buah pepaya (Suara Merdeka, 6 Januari ’13)

(2) Di cerpen ini saya memakai nama pena “AT Lahar”, juga dimuat di Tabloid Cempaka, Desember 2013.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s