Cerpen

Gendis

(Radar Surabaya, 17 November 2013)

Gendis

Jika sepasang kekasih sepakat untuk tidur bersama, menjalankan puncak cinta, tidak nampak tanda pada sisi laki-laki sesudahnya. Hanya perempuan yang ditinggali hasil puncak cinta. Gendis kemana-mana membawa perut sebesar balon karet yang ditiup bocah. Perkembangan perutnya tidak bisa serta-merta di-bledos-kan laiknya balon.

Sejak awal aku tidak memercayai kekasihnya, yang sampai sekarang aku tak sudi mengingat namanya. Meski tampak terpelajar dengan bahasa teratur dan pilihan kata baik, di sorot mata laki-laki itu ada ratusan rencana berbahaya. Sebagai sama-sama lelaki dan pernah muda, mata lelaki bejat mudah dibedakan. Tidak bisa dijelaskan, tetapi tetap saja ada hawa tidak enak ketika menyaksikan gurat tatapan laki-laki itu. Tapi apa kuasaku? Aku tak berkuasa banyak pada Gendis. Aku tetaplah jauh dari keluarga inti, aku hanyalah paman, itu pun bukan seibu dengan ibu Gendis.

“Hati-hati jaga diri. Sekarang setan juga sudah S2 dan S3,” kunasihati Gendis saat mengajak kekasihnya dolan ke rumah. Perkataan demikian kumaksudkan menyindir lelaki itu. Tentu orang terpelajar mudah mengerti kalimat-kalimat bersayap. Orang jawa tidak biasa tok-leh, blak-blakan.

Mereka pamitan pulang. Esok akan bertolak ke Semarang, tempat mereka kuliah. Aku hanya menderas doa, semoga kebaikan terus membayangi langkah mereka sebagai kekasih yang hendak merencanakan pernikahan suci. Dan setan tidak merasuki pikiran mereka. Sudah banyak korban dan tentu dari pihak wanita merugi berkali-kali lipat, atas hubungan berbahaya alamiah laki-laki dan perempuan.

Usahaku untuk menjaga nasib Gendis, hanya sebatas menelepon sesekali. Menasihati ibu Gendis, agar jangan kurang perhatian pada Gendis. Meski anak sudah besar dan semakin jauh dari orang tua, tetapi tidak akan ada salahnya terus mengecek. Dan selalu hanya dijawab ‘inggih, inggih, inggih’ rakepanggih, ya tapi tidak nyata.

Nasi sudah tumpah. Kejadian itu terjadi. Gendis menangis meminta maaf. Berkali-kali menyujudi ujung kaki ibu dan bapaknya. Air matanya seperti air kran disemprotkan dengan pompa teranyar, gemebyar. Sudah ada nyawa dalam rahim Gendis. Aku yang kebetulan ada di sana, merasakan ada kotoran sapi yang dioleskan rata oleh lelaki bejat itu. Bau dan bekasnya tidak akan hilang, hingga kami ditanam di liang lahat. Norma keluarga besar dibubrahkan oleh seorang pemuda tidak jantan itu.

Ibu Gendis menjerit dan menangis sejadi-jadinya. Dua kali pingsan. Di setiap sadar, selalu mengaduh dan menanyakan dosa apa yang telah diperbuat. Sesenggukan lanjut pingsan. Kupanggil pembantu untuk bersama-sama membopong ke dipan ruang belakang. Iparku membentak sebentar dengan nada tinggi. Warna terang di wajahnya, seketika berubah menjadi merah. Lantas keruh oleh rasa bersalah mendalam. Dia berjalan menjauhi Gendis, duduk sendirian menghadap jendela yang mengotaki langit biru berawan tipis. Gendis bersimpuh sambil menangis. Memukul-mukul perut. Gendis merasa menjadi wanita paling kotor. Paling najis. Andai bisa, kematian yang diturunkan Tuhan adalah ganjaran terpantas baginya. Air mata tidak akan bisa menghanyutkan dosa-dosa Gendis. Ratapan, erangan, dan teriakan mememohon maaf dengan suara sesyahdu dan senaif apa pun tidak akan menghilangkan janin Gendis dan lelaki itu. Tidak! Janin itu bukan kapur barus yang hilang oleh tiupan mulut. Seperti di dalam perutnya ada jutaan najis, kotoran paling kotor.

“Keluar! Keluar kau benih lelaki bejat!”

Nampak Gendis berlaku semakin membahayakan dirinya, kudekati, kupeluk. Kubiarkan dia menangis sejadi-jadinya. Bagaimanapun fakta tidak bisa diubah. Gendis sudah menyimpan buah puncak cinta. Kuelus rambutnya. Kualirkan rasa sayang seorang paklik dan kuharapkan Gendis tenang sebentar. Keputusan tidak akan aman ketika diambil dalam kondisi runyam.

“Paklik….paklik. Gendis salah. Gendis teledor!”

Kuteruskan mengelus. Nasihat sebagus apapun tidak akan masuk dalam kondisi macam itu. Pembantu membawakan segelas air putih, wajahnya takut-takut dan berkaca-kaca. Nasib Gendis menghipnotis semuanya. Gendis minum. Napasnya mulai tenang.

“Kami yang salah Paklik. Gendis sudah menolak. Tetapi perkataan lelaki itu seperti madu. Manis!

“Ketika Gendis sadar dia menginginkan lebih dari sekadar mencium kening, sudah kucoba mengingatkan. ‘Ini terlampau jauh. Ini salah’. Tetapi dia dengan manisnya justru berkata, ‘tidak ada yang salah dengan cinta.’ Cinta. Cinta! Baru sadar kalau itu nafsu setan!” airmata Gendis berleleran hingga mencapai mulut.

“Gendis, sekarang kamu seperti menabur kotoran di wajah keluarga.”

“Maafkan Gendis,” dia bersimpuh dan mencoba mencium kakiku.

“Pacarmu tahu?”

“Dia minta menggugurkan kandungan Gendis, Paklik.”

Bangsat! Dalam hati aku mengumpat. Sudah enak, tidak membawa aib kemana-mana. Sekarang mau lepas kendali, cuci tangan. Andai dia ada di mukaku, kuludahi lantas kujotosi dia. Tetapi Gendis sekarang bukan butuh itu. Aku teringat nasihat eyang putri kepada belasan cucu saat lebaran, “barang kuwi ora usah diotak-atik. Ciloko!” Barang yang dimaksud adalah yang kami sembunyikan di dalam lipatan paha. Laki-laki dan perempuan memiliki kewajiban menjaga sama-sama kuat. Barang itu memang tidak terlampau besar, tetapi kalau diumbar bahayanya melebihi kobaran api yang bisa membakar.

Mungkinkah ini mimpi terburuk? Aku benar-benar berharap lekas terbangun dari mimpi. Tetapi ketika air mata Gendis menetesi kaki, terasa basah. Ini bukan bunga tidur!

Kondisi lebih tenang, Gendis duduk di dekatku. Adik dan iparku mencari solusi. Sebenarnya bukan mencari, menikahkan mereka adalah satu-satunya cara sedikit menutup aib. Segeralah disusun rencana. Kami memeram dalam-dalam kejadian ini. Berlagak biasa, tidak terjadi apa-apa. Bungkam pembantu untuk rapat-rapat merahasiakan.

***

Aku akan bertindak sebagai wali Gendis ke Semarang. Selain karena aku paklik Gendis, aku juga dirasa memiliki kebijaksanaan lebih. Tidak mudah marah. Bapak Gendis lelaki temperamen dan mudah meninju lawan.

Pernikahan harus segera dilaksanakan. Ini harus segera diluruskan. Keluarga pihak lelaki harus mengerti. Gendis selama perjalanan di mobil, hanya diam. Wajahnya kuyu tanpa riasan. Matanya semakin besar, bengkak karena menangis.

Rumah berpagar besar berlantai dua. Taman-taman berbunga lengkap. Rumah orang kaya. Jendela kaca mengkilat. Mobil berderet empat. Keramik warna krem, bersih. Pantas dia berlaku kurang sopan. Orang kaya biasa berlaku arogan. Merasa uang bisa mudah menyelesaikan. Gendis menekan bel di pintu pagar. Dua kali. Seorang pembantu tua, berkain dan konde membukakan.

Setelah basa-basi, ini rumah milik pacar Gendis. Rumah sendiri. Tidak rugi memang kalau Gendis diperistri orang kaya.

“Den bagus ada di kamar, sedang sare!”

Gendis meminta ditunjukkan. Gendis melangkah tanpa kikuk. Tenang dan menyakinkan. Sepatu dengan hak lima senti menapak pasti. Mungkin Gendis merasa sebentar lagi mau tidak mau dia akan menjadi nyonya di rumah ini. Janin dalam perutnya telah menjadi pengikat pasti. Aku duduk di kursi tamu, kucecap sirup dingin.

“Bajingan!” Gendis memekik. Suaranya melengking di tengah tembok rumah beton. Menggema seperti halilintar di siang panas.

Aku menuju sumber suara. Mataku menangkap lelaki itu sedang tidur merangkul wanita. (demi kesopanan, tidak detail kuceritakan)

“Siapa lagi ini?”

“Istriku. Gendis, maafkan aku.”

Gendis mewek. “Bagaimana janinku?”

“Gugurkan!” jawabnya tidak serius.

Gendis lari. Seperti meminta persetujuanku, dia mempergunakan sebilah pisau di dapur. Lelaki itu dicincang. Lelaki biadab harus diakhiri biadab.

Sampai sekarang aku tidak berniat menghapal nama lelaki itu. Pun aku menguatkan Gendis, “kita lupakan. Anggap saja kamu menemukan anak misterius. Didik dia menjadi anak yang berani. Jangan sampai meniru lelaki itu. Paklikmu ini juga merasa selama ini sebagai anak misterius di keluarga besar eyangmu. Jadi jangan kamu sakiti anakmu itu.”

“Bukan! Ini anak Tuhan, seperti perawan Maria berbayi bayi tersuci.”

***

Ketika cerita ini kunasihatkan kepada cucu-cucuku di setiap perkumpulan trah lebaran, kuganti nama Gendis dengan nama samaran. Aroma tahi di muka tidak harus terus berbau di tengah suasana lebaran.

“Jagalah barang kecil di lipatan paha kalian!”

Cucu-cucuku yang masih usia lima sampai delapan tahun hanya cekikikan sambil main Facebook dan Twitter. Apa tenagaku masih bisa menjaga mereka dari derasnya arus modernisasi? Kerut di wajahku seperti menjerat semakin erat.(*)

 

 

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s