Cerpen

Rahasia Mantra Ular

(Riau Pos, 10 November 2013)

rahasia mantra ular

Tidak lagi dinamai rahasia kalau terang-terangan diceritakan. Apalagi dibuat cerita lantas dimuat di koran. Rahasia terrahasia, mengapa aku selalu bejo. Aku bosan menerima keberuntungan. Aku mau menjadi manusia seutuhnya, yang tidak terus-terusan beruntung. Sekali-kali sial.

Seperti kebanyakan manusia, aku tak bisa memilih lahir dari rahim siapa. Keberuntungan pertama aku dilahirkan miskin. Keluarga miskin-kin, melarat-rat. Tidak bapak, tidak ibu, sama-sama orang miskin pemalas. Merasa cukup kalau masih ada beras di karung. Tidak pernah menabung. Tidak berpikir punya rumah bagus. Falsafah ’mangan ora mangan sing penting kumpul’ begitu kuat mengakar di benak mereka. Berkumpul tanpa penyumpal mulut yang tak bisa berhenti membicarakan macam-macam.

Aku dibiasakan untuk tidak repot dalam urusan makan. Tidak memiliki pantangan dan semua doyan. Tidak alergi makanan. Frekuensi lapar jauh lebih sering ketimbang kenyang. Setiap ada peristiwa yang menyajikan makanan gratis dan banyak, mantenan, khitanan, sedekah bumi, atau kenduri rumah baru, aku mengubah mulutku menjadi karung, perutku menjadi laut. Tanpa ba-bi-bu semua kumasukkan.

Aku pun tidak memiliki referensi hiburan sebanyak anak-anak yang bisa bermain truk-trukan, pistol-pistolan, atau adu bekel dan gundu. Aku leles, menunggu giliran gratis. Sedang bapak dan ibu memiliki hiburan sendiri setiap malam ketika hampir semua anak terlelap. Bersuara aneh, namun nampak asyik. Ibu sering hamil. Aku memiliki banyak adik. Namun hanya ada tiga yang serumah, sisanya sudah kemana aku tidak lagi hapal.

Area bermain paling menarik selanjutnya adalah area depan rumah Mbah Mardam. Biasanya Mbah Mardam menjemur gabah, jagung, kedelai, atau kacang dengan alas layar warna biru gelap. Ketika longgar kami biasa bermain gobaksodor, engklek, atau petakumpet. Pohon-pohon di halaman menjadi tempat aman bersembunyi. Pelem lalijiwo, pelem golek, nangka, rambutan, dan gerumbul bambu kuning. Tubuhku yang kering dapat dengan mudah kumasukkan dalam lipatan pohon dan bersembunyi di sela-sela beberapa pohon kelapa belum bermanggar. Atau memanfaatkan keahlianku memanjat pohon nangka agar tidak mudah ditemukan. Kesempatan ini pula sering kupergunakan untuk mengisi perut lautku. Aku suka mencuri buah Mbah Mardam ketika bermusim. Kuamati mangga mana yang nampak siap makan.  Kalau saat bermain tidak memungkinkan, menjelang magrib waktu kedua terbaik. Menjelang gelap, aku menepi mendekati pohon. Secepat kilat memanjat, dan mengambil beberapa. Anak-anak memang diperkenankan mencuri. Kupastikan di seluruh dunia, dimanapun juga, anak-anak pasti pernah mencuri. Meskipun sekali sepanjang kanak-kanak.

Mbah Mardam memiliki persyaratan absah untuk menghukumku, tetapi tak pernah kenakalanku itu diusiknya (jatuh iba pada kemiskinan keluargaku, mungkin). Untuk marah sebenarnya Mbah Mardam tak perlu membentak. Wajah Mbah Mardam sudah seram untuk membuat anak-anak seusiaku bersembunyi di balik punggung orang tua. Alisnya tebal, matanya cekung ke dalam, hidungnya mirip jambu monyet, kulitnya legam. Melotot tanpa bersuara sudah membuat anak-anak kepoyoh, terkencing-kencing.

Ada hari-hari kami dilarang bermain di halaman Mbah Mardam. Di hari-hari tertentu itu, halaman rumah menjadi parkir macam-macam kendaraan. Motor, mobil besar tak biasa kupandang. Sesak hingga luber di pinggir jalan. Mbah Mardam ‘orang pintar’. Bisa menyembuhkan penyakit, bisa memberi jalan keluar, dan konon bisa membuat orang miskin menjadi kaya. Orang kalah jadi menang dalam pemilukada. (Tetapi jangan tanya mengapa Mbah Mardam tidak membuat kaya para tetangga. Pun rumahnya sendiri yang sampai cerita ini dibuat masih reot dan doyong. Seharusnya dirinya dahulu yang diperkaya.)

Aku pernah menyaksikan sendiri Mbah Mardam mengeluarkan jurus ampuh ketika Bendel pulang dari tegalan tertempel makhluk halus yang mbaurekso. Meski tidak pernah melihat, kami percaya ada wewegombel, genderuwo, memedi, sundelbolong yang kerap mengganggu. Bendel meracau dengan bahasa aneh, serak diiringi alunan napas berat. Dia berguling-guling. Mulutnya menganga. Dadanya turun-naik seperti tergagap mencari udara. Sekaligus ingin melegakan sesuatu besar yang menyumpal tenggorokan. Lidahnya terjulur. Dia dibawa ke Mbah Mardam.

“Eyang siapa? Purun ngapunten anak-cucu saya. Bendel anak baik,” Mbah Mardam memeragakan ritual.

“Aku Ki Ageng Lindu. Bocah ini menendang anakku.” Bendel terus melet, lidahnya terjulur seperti asu dan liurnya membasahi baju dan tanah.

“Mohon diampuni Bendel, Eyang.Bendel kaluputan.

Mbah Mardam mengeluarkan segenggam beras dicampur garam, sambil mengumik-umikkan mantra aneh. Mbah Mardam lantas menyembur Bendel. Bendel menjerit sekencang-kencangnya. Lantas Bendel memuntahkan air pekat warna hitam. Bendel lemas. Dan kembali sadar.

Mbah Mardam pandai mengobati kesurupan. Juga penyakit-penyakit yang tidak bisa diobati dengan sekadar obat bidan atau puskesmas. Lelaki tua terus mengeluhkan kepalanya seperti ditinju ratusan orang. Disuwuk Mbah Mardam, disembur dengan beras dan garam, lalu muncul beberapa ekor kelabang. Wanita perut besar, bidan bilang kanker, dibawa ke Mbah Mardam, dielus sambil dimantrai lalu disembur dengan beras dan garam, lalu esoknya dia mengeluarkan dua buah silet, gotri lima biji, lima batang ruji sepeda saat di kakus.

“Mbah Mardam hebat,” aku memuji sambil memunguti buah talok merah.

“Mbah Mardam punya mantra ular,” lawanku bicara menimpali.

Bahkan konon demi menjaga kemanjuran mantra ular, Mbah Mardam memelihara laku khusus yang hanya dia yang tahu. Tentu andai semua tahu, mantra ular itu tidak akan lagi laku. Sembunyi-sembunyi. Apa saja syarat dan cara mendapatkan mantra ular itu rahasia terbesar milik Mbah Mardam.

Sore itu, mungkin sudah menjadi takdirku, aku masuk ke rumah Mbah Mardam. Mbah Suketi, istri Mbah Mardam, memintaku mengambilkan tampah untuk membersihkan kedelai kering. Setelah kuingat-ingat hari itu Anggara Kasih, selasa kliwon. Rumah Mbah Mardam hanya ada tiga kamar. Sentong kiwa, sentong tengah, dan sentong tengen. Berjajar beururan. Sentong tengen kamar Mbah Mardam dan Mbah Suketi tidur. Di Sentong tengah ada gledeg dari papan tebal, lumbung tempat simpanan gabah kering. Sentong kiwa, kamar rahasia selalu terkunci. Konon di sini Mbah Mardam berkomunikasi dengan sesembahannya. Dapur tempat tampah ada di belakang sentong kiwa, saat melewatinya aku mencium aroma kembang dan menyan menyengat. Tiba-tiba punggungku dingin dan bangun.

Saat tampah kudapatkan, kuberanikan mengintip apa isi sentong kiwa. Dari papan kayu yang berlubang, nampak Mbak Mardam sedang dililit ular warna hijau kemerahan. Sepahaku. Ular itu menjulur-julurkan lidah. Aku merinding. Lantas lari terbirit-birit.

Untung pekerjaan itu mendapatkan upah makan siang. Dan Mbah Mardam sepertinya sudah selesai dengan laku khusus. Dia sudah memilin tembakau dan merokok. Aku diajak Mbah Suketi masuk ke meja makan.

Aku dipersilakan mengambil makan. Nasi beras gogo, sayur rebung, dan ikan asin. Karena besarnya rasa lapar, aku membuka tudung saji di meja kecil di pojokan yang diberi sentir kecil. Liurku menetes. Nasi putih pulen, paha ayam, telur rebus, dan apem. Mumpung Mbah Suketi sedang berberes di belakang, lekas kumakan dan kuhabiskan. Enak. Kenyang. Aku tanduk, nambahdengan menu awal.

Konon keberuntunganku bermula dari sini.

Dua hari kemudian Mbah Mardam meninggal tanpa sebab pasti. Kabar yang tersiar bahwa sajen untuk sesembahannya kurang pepeg, kurang lengkap. Sesembahannya marah dan mencabut semua kesaktian Mbah Mardam. Aku tidak berani mengatakan kepada siapa saja, bahwa kemungkinan besar menu istimewa yang kumakan itu adalah sesajen untuk sesembahan Mbah Mardam. Kuyakini hidup dan mati seseorang, sudah diatur Gusti Pangeran.

Tanpa perlu memuja mantra ular milik Mbah Mardam, berpindah sebagai piaraanku. Hingga aku merasa beruntung saja dalam hidupku. Beruntung setelah besar aku mendapat pekerjaan sebagai tukang batu. Dan untungnya anak gadis bos yang montok, bohai, dan pantatnya bikin jakun naik turun ingin kunikahi. Aku menjadi orang kaya. Bisa makan enak. Bisa merasakan keenakan dari mantra ular, tanpa harus memiliki laku khusus seperti Mbah Mardam.

Tidak lagi dinamai rahasia kalau terang-terangan diceritakan. Tetapi kuceritakan dan kukirim ke koran, agar dewan pembaca budiman meniru caraku mendapat keberuntungan. Mereka yang lahir dengan ‘keberutungan’ macam aku, tentu membutuhkan. Mantra ular! Mantra buaya! Mantra kadal, dan mantra lainnya. Bumi gonjang-ganjing, langit megap-megap! (*)

Yogyakarta, 18 September 2013

 

  • Terinspirasi perkataan Patrick Star, ‘If I’d show you what’s inside that(refers to secret box), won’t be a secret anymore’ dalam episode Spongebob Squarepants ‘The Secret Box’.
  • Cerpen untuk menyambut diterbitkannya ulang “Mantra Pejinak Ular” karya alm.Kuntowijoyo, sekaligus perayaan 70 tahun Kuntowijoyo di 18 September 2013 ini. Kalimat “miskin-kin, mlarat-rat” kaimat yang sering dipakai alm.Kuntowijoyo.
Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s