Cerpen

Kematian Calon Pengarang

(Suara Merdeka, 13 Oktober 2013)

kematian calon pengarang-hery p

“Buatkan aku 1000 cerpen!” syarat Lucila. Aneh.

“Apa itu tidak kebanyakan?” aku berusaha menawar. Meski cinta harus diusahakan, tetapi membuat 1000 cerpen bukan pekerjaan mudah.

“Bandung Bandawasa hampir bisa mendirikan 1000 candi sebelum pagi. Sekadar 1000 cerita saja, masih berkelit! Perlu kutambah?”

“Cukup Lucila. Akan kuupayakan,”  aku sedikit ragu. Aku tidak pernah menulis cerpen. Hanya lelaki patah hati yang menulis fiksi.

“Tak usah terburu-buru. Aku mau bertualang dengan kereta api. Aku akan menikmati pemandangan dari gerbong ke gerbong, dari stasiun ke stasiun. Pemandangan dunia lewat jendela kereta lebih indah, katanya.”

“Kapan kamu kembali, Lucila?”

“Saat hampir seribu cerita, kamu bisa meneleponku.”

Aku lepas Lucila tanpa pelukan perpisahan. Hanya jabat tangan ringan, lalu melambai tanpa melihatku. Lucila berjalan penuh keyakinan memasuki peron Lempuyangan, lantas bergabung dengan ratusan penumpang meski berbeda tujuan. Punggungnya menghilang di kelokan dekat satpam sedang mencocokkan nama di selembar tiket kereta. Kepalanya bergoyang, manggut-manggut mengikuti aliran lagu dari earphone. Aku membayangkan perpisahan ini macam perpisahan kekasih di sinetron, saling mengucapkan salam perpisahan, berjalan ke arah berlawanan, tetapi lantas berbalik dan saling memeluk lagi. Tetapi nyatanya Lucila terus berjalan tanpa menoleh. Dia tergila-gila (mungkin jatuh cinta) pada penulis cerpen yang kegandrungan kereta dan menumpahkan keindahannya melalui ratusan cerpen di majalah maupun koran minggu. Lucila selalu mengutip pendapat penulis itu, bahwa kereta dan stasiun area paling romantis dan eksotis. Aku tak peduli. Aku hanya ingin Lucila tidak menjauh dariku. Jatuh cinta memang susah dinasihati, bahkan oleh empat ratus malaikat.

Semenjak itu tidak ada hal yang lebih penting dari mencoba menulis cerpen. Harus segera kurampungkan, sehingga aku bisa memesan pelaminan pernikahan dengan Lucila. 1000 cerpen! Apa aku bisa membuatnya? Berapa lama? Aku bukan anak sastra juga bukan yang cinta membaca sastra. Aku juga bukan Sangkuring, atau Bandung Bandawasa untuk meminta bantuan makhluk tak dilihat mata.

***

Sudah kuhabiskan buku-buku jurus jitu menulis cerpen, karya Arswendo Atmowiloto, Joni Ariadinata, Albertine Endah, juga Winna Effendi. Tetapi cara cepat dalam buku-buku itu justru membuatku frustasi dan ringan mendakwa diriku sebagai lelaki terbodoh, yang tidak cepat belajar. Ternyata mengarang itu tidak gampang. Sudah berkali-kali mengulang, tetapi hampir tak ada yang kuhasilkan.

Aku mulai kacau. Seperti tersangka pidana mati gelisah menunggu jadwal eksekusi. Angka 1000 cerpen terus meneror tiap hari. Membayang dalam tidur tidak nyenyak, dalam piring makan, juga dalam harianku yang terus tak tertata. Apa bisa aku merampungkan? Mengapa aku mudah mengiyakan permintaan Lucila, lantas merelakan pergi sendiri? Bagaimana kalau tersesat dan tak kembali? Atau jatuh cinta pada seseorang di sebuah kota? Jangan-jangan syarat itu hanyalah rekayasa Lucila tak menjadi istriku. Pikiranku berkelindan aneh-aneh. Wajar! Merelakan kekasih pergi sendiri adalah persoalan besar yang harus dicermati hati-hati.

Aku tidak boleh menyerah. Jatuh cinta dan kekasih harus diperjuangkan. Mendapatkan Lucila agaknya butuh ekstra pengorbanan. Tidak ada pilihan lain selain berusaha maksimal.

Mulai kupelajari kiat-kiat dari cerpenis nasional. Kuikuti kicauan Guntur Alam di twitter. Aku blog-walking. Aku membaca cerpen di koran minggu. Memulai kebiasaan baru aneh memang berat. Bangun pagi. Membeli koran. Membaca sambil menyiapkan notes kecil untuk belajar.

Aku masuk golongan orang-orang yang berlaku ganjil demi cinta. Demi Lucila.

***

Dalam kerinduan maksimal, kubayangkan Lucila riang bersama penumpang kereta sambil mendendangkan lagu gembira. Lantas bagaimana Lucila makan dan minum? Kabarnya makanan di kereta disiapkan asal-asalan. Pedagang asongan tega menjual air kran. Mandinya? Air di kereta pesing dan sering mampet. Belum lagi penumpang tanpa bangku bisa mengintip. Semoga Lucila tidak lupa memakai tabir surya dan losion dengan SPF 25. Aku tidak bisa membayangkan kulitnya menghitam beberapa tingkat, meski kulit Lucila masuk kategori gelap cenderung hitam. Rambutnya jangan sampai bau matahari. Dia pasti tahu rambutnya jenis rambut yang menuntut perhatian lebih. Kalau dia menginap, sama siapa? Amankah?

Apa ini bukti aku sudah dibutakan cinta?

Sekarang sore ke-299, sejak Lucila pamit di peron Lempuyangan. Aku tersiksa karena tidak tahu kapan Lucila muncul dari peron Lempuyangan. Andai dulu aku tahu berapa lama kami bisa bertemu lagi, aku akan mengucap salam perpisahan yang berbeda. Indah. Lama. Dan romantis.

Kupandangi sinar keemasan mulai tenggelam sempurna. Apa sama dengan senja milik Lucila?

Syaraf otak normal kembali. Satu hari kubuat satu, butuh waktu tiga tahun merampungkan 1000 cerpen. Sudah tak kuhitung hari-hari yang tidak memungkinkan membuatnya. Tiga tahun tidak lama. Harus serius. Bacaan ditambah. Waktu latihan diperbanyak. Sudah tidak perlu menunggu sampai minggu untuk membaca cerpencerpen. Di internet tersebar ribuan cerpen yang bisa kujadikan referensi.

Aku tersenyum. Aku menyeringai membenarkan sebuah rencana indah. Lucila tidak akan tahu. Yang penting 1000 cerpen ada sebagai syarat dia pulang dan menjadi milikku abadi. Jika semakin cepat, Lucila bisa lekas pulang. Aku bisa membuat 1000 cerpen dengan membaca 1000 cerpen pula. Lebih tepat menjiplak 1000 cerpen. Lucila tidak akan pernah meneliti itu buatanku asli atau sekadar copy-paste dengan sedikit rombakan di beberapa bagian. Tanganku mulai tak berhenti bergerilya. Dalam pikiranku hanya ada angan-angan untuk lekas menjemput Lucila di Lempuyangan.

Apakah demi cinta aku menjadi sedemikian lalai? Sejarah sudah menceritakan. Bandung Bandawasa belaku curang, akhirnya tak berjodoh dengan Roro Jonggrang. Pun Sangkuriang. Bodohnya aku!

Persetan! Aku hanya butuh Lucila kembali. Dia tak bakal meneliti kebagusan dan orosinilitasnya. Dia hanya butuh 1000 cerpen untuk pulang. Aku mengetik cepat-cepat. Lantas menyimpan dalam folder berjudul ‘1000 cerpen untuk Lucila’.

Di hari yang kesekian, aku sudah mengumpulkan hampir seribu. Lucila sudah kuhubungi. Lucila harus cepat pulang. Aku tidak lagi kesulitan membuat aneka tokoh dari rekaan dari cerita orang.

Lantas pada cerita kesekian, aku menemukan sebuah cerita. Seorang lelaki yang membuat 1000 cerita untuk kekasihnya dalam semalam. Karena kesusahan, dia berselancar di dunia maya menjiplak ratusan cerita. Menjelang cerpen ke-1000, orang memergoki dia sedang menjiplak. Dikutuklah dia! Dia dikutuk menjadi kisah cerpen yang ke-1000. Cerita itu menjadi pelajran utama bagi calon pengarang.

Aku tersedak. Di depanku Lucila sedang menceritakan perjalannya naik kereta dengan seorang penulis fiksi pencinta kereta.

“Bagaimana sudah bisa membuat cerpen?” Lucila menyorongkan gantungan kunci sebagai oleh-oleh.

Aku kelu. Ternyata aku sudah dikutuk menjadi tokoh pada cerita yang kesekian.(*)

NB: saya memakai nama pena “Harum Sari” di cerpen ini

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s