Cerpen

Jagad Asu

(Radar Surabaya, 22 September 2013)

jagad asu

Daun telingaku gatal, seperti dirubung semut hitam, kalau sedang dalam kondisi yang sangat mengejutkan. Jagad berubah menjadi anjing. Aku memilih duduk di tengah, di belakang lelaki berpundak lebar. Seorang anjing, Jagad, berpidato di stadion bola nomor satu di kotaku. Sebelumnya, isu-isu yang menyerbu kuping selalu kuenyahkan. Dalam referensi awal, Jagad adalah lelaki kurus, dingin, dan selalu kesepian. Bukan. Jagad yang sedang berorasi di depan hadirin, anjing kurus memakai slop. Telingaku semakin tidak bisa kutahan. Kugaruk dengan pena. Kurang. Kuraih mistar besi di dalam ransel.

“Benar, Jagad memang unik. Tapi bukan asu,” sergahku ketika berita itu pertama kali tersiar. Aku tidak bisa menolak tetapi akalku jelas menampik.

“Mukanya buruk, berbulu dan bertaring. Kurus, kudisan!” tambah mereka yang tidak suka dengan kebiasan Jagad yang suka berisik, mengkritik.

“Mana mungkin? Jagad normal-normal saja, wajahnya mendekati ganteng,” aku keberatan sendiri untuk terus menyebutnya unik. Hipotesa mereka sepenuhnya keliru. Jagad berisik dalam mengkritik, bahkan tidur pun tak mau diam.

“Minggu depan dia diundang berbicara di podium stadion bola. Perkataanku tidak mengandung benci,” dia menutup.

Dan sekarang aku duduk di antara ratusan hadirin, menyaksikan Jagad terus berbicara tentang bola sambil sekali-kali menyalak.

Dalam tiga atau empat kalimat, Jagad menyisipi dengan gelengan kepala yang cepat dan salak yang nyaring. Aku teringat Brad Cohen, yang menderita Tourette Sydrome(1), kelainan yang diderita 1-2 orang dari 100 orang di dunia. Tak bisa mengelak, hadirin tak berhenti terbahak. Tubuh Jagad kurus dengan ditumbuhi bulu-bulu lebat warna mengkilat anjing peranakan(Meski menjadi anjing, Jagad tetap memilih anjing berkelas). Bibirnya sudah melebihi garis normal. Giginya memanjang. Lidahnya tak pernah dimasukkan dan terus menetesi jas hitam dengan liur. Jemarinya tenggelam diganti kuku-kuku anjing. Jagad sudah berubah anjing. Tetapi mengapa Jagad justru bahagia menjadi anjing?

Aku dan Jagad memiliki kesenangan sama: mudah mencari kesalahan lalu seenak dengkul memberi kritikan. Tetapi, aku mencaci orang-orang berdasi di televisi dan Jagad tak bisa lepas dari bola. Jagad menyukai bola. Semasa sekolah dia tidak suka ilmu hitung dan ilmu alam. Dia menaruh minat besar pada bola, sejarah, dan geografi. Sedang aku tidak memiliki ciri. Matematika aku bisa dapat sembilan. Bahasaku tujuh. Ilmu sosial masyarakat, hanya standar bahkan pernah remidiasi. Pun ketika aku menjadi pengoceh politik, hanya sepintas tanpa teori yang cukup bernas. Segan pada Jagad yang terus-terusan memberi ulasan.

Berkat terus-terusan khusyuk pada bola, Jagad menjadi komentator dan pemberi sambutan sebelum peluit wasit disemprit. Jagad menyampaikan prediksi, taktik yang diturunkan pelatih, posisi menguntungkan lawan dan yang paling ditunggu hadirin, cibiran Jagad terhadap pelatih yang salah melakukan transfer pemain.

Jagad mulai mengulas prediksi dengan terus-terusan diselingi salak anjing. Di atas panggung, Jagad mondar-mandir. Sesekali berdiri wajar dengan dua kaki. Tetapi lebih sering diam dalam posisi anjing, dengan empat kaki menapak lantai panggung yang mengilat.

“Jagad…Jagad…, kamu makan apa?Hingga menjadi anjing begitu,” aku pelan saja.

Hussh!” lelaki berkaos tim bola yang duduk di sampingku menyela. Meski stadion ramai, tetapi perkataan Jagad harus diperhatikan tanpa jeda.

“Ini stadion, bukan perpustakaan!” aku tidak mau kalah.

Ini pasti bukan jalaran kebiasaan Jagad yang suka memburu anjing liar lalu memakan kepalanya(2). Juga bukan kutukan, bukan soal reinkarnasi. Sepenglihatanku Jagad berpolah normal. Aku yang menjadi teman selama delapan tahun, tidak pernah sekali pun kutemukan dia berperangai bak siluman.

Jagad menyalak. Lalu mengeluarkan kelakar. Hadirin terbahak. Entah karena guyonan yang sudah ratusan kali diulang atau justru karena Jagad yang menyalak.

“Jagad asu….”

“Kirik! Anjing!”

Hadirin tidak memaki Jagad, tetapi meneriaki untuk tidak berhenti. Ulasannya terus diperhatikan. Telingaku mulai gatal kembali, sekarang semakin parah. Jagad tidak bisa berhenti menyalak. Kalimatnya keluar seperti kentut. Terus saja tidak bisa dihentikan. Hingga sampai pada kalimat pungkasan dalam ulasan pertandingan bola.

“Hadirin, lihatlah bola seperti melihat asap. Santai saja. Yang menang tetaplah yang banyak menggetarkan jaring lawan…,” Jagad bertumpu di empat kaki.

Hadirin berdiri memberi tepuk tangan. Aku tetap diam di kursi yang terasa lebih kasar dari parutan keju. Tiba-tiba,

“Hadirin, aku akan menjelaskan mengapa aku berubah menjadi anjing. Aku tahu, kalian tentu penasaran. Aku tahu dari wajah kalian. Atau pidato ini kuselesaikan saja? Ya. Kalian tentu ingin mengetahuinya sebelum kalian mati.” Jagad menambahkan. Jujur aku juga ingin mendengar. Dia karibku. Sejarahnya adalah bagian dari hidupku.

“Sebulan lalu, aku mengadakan perjalanan ke kota. Aku tidak ingin menyebut nama kotanya. Takut kalian meniru,” Jagad menyalak. Hadirin tertawa.

“Aku naik kereta. Aku bertemu lelaki yang sangat indah. Dia membawa anjing dengan bulu cokelat lembut. Lelaki indah dengan hewan piaran yang indah juga. Anjing itu diam. Lidahnya terjulur. Kaki depan berdiri, kaki belakang ditekuk. Dia tidak perlu berkoar di podium untuk dapat makan. Cukup menyalak. Aku berkaca. Aku tidak pernah anteng. Terus berkomentar agar dapat uang. Diam berisik. Bicara tak bisa diam.”

Stadion sunyi.

“Hadirin tahu, kalau anjing sedang marah kasih saja tulang. Dia tenang. Kalau aku sedang mengkritik tajam kasih saja aku uang. Sejak itu aku berubah anjing. Karena seorang di rumahku lima tingkat lebih suka anjing ketimbang lelaki indah di kereta.”

Jagad menutup pidatonya dengan suara gonggongan anjing. Dia turun bak pahlawan diiringi tepuk tangan.

“Asu!”

Lelaki di sampingku menoleh, “maksudnya?”

“Maaf,”aku beranjak berdiri.

“Bola sebentar lagi akan dimulai. Tak mau membuktikan prediksi Jagad?”

Aku menggeleng, “Bosan.”

“Jagad memang anjing. Pas dengan profesinya,” lelaki berkaos tim bola berhenti tepuk tangan lalu duduk. “Kapan kamu menjadi anjing juga?”

Telingaku mulai gatal luar biasa. Aku harus lekas ke ruang transit Jagad, aku hendak merobek mulutnya. Telinga kananku semakin gatal. Apa harus kupotong telingaku, karena aku tahu siapa penyebab Jagad menjadi asu? (*)

(*) Kisah Brad Cohen diangkat dalam film “Front of The Class”

(**) Dalam cerpen “Legenda Wongasu” Seno Gumira Ajidarma

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s