Cerpen

Hari Selasa Wina

(Koran Merapi, 22 September 2013 dan Tabloid Cempaka, November 2013)

IMG_0003Hari Selasa membuat Wina tidak merasa bahagia. Sumber kemurungan. Selasa adalah bencana. Seseram berada di rumah misteri, wahana pasar malam tempat sosok menakutkan. Dalam doa polosnya, Wina meminta agar Selasa dihapus. Tetapi itu doa yang tidak akan pernah terkabul.

Hari Minggu, Wina bangun sangat pagi lalu duduk di kursi warna jambon Hello Kitty. Dia mengamati Ayah mempersiapkan berbagai koran dan majalah yang akan diantar ke pelanggan. Hanya pada hari Minggu, Wina diperbolehkan ikut Ayah untuk mengantar koran dan majalah keliling kota.

“Wina, mandi dulu. Nanti bantu Ayah,” Ayah mengepak dengan rapi.

Wina gedebugan minta dimandikan Ibu. Menyabuni keset. Menggosok gigi. Memakai baju indah, namun tidak mencolok. Rambutnya dikuncir dua mirip ekor kuda.

“Wina sudah cantik. Ayah masih mengepak sebentar,” Ayah terus merapikan tumpukan kertas.

Wina hanya membantu mengelompokkan dari warna. Wina belum bisa membaca.

“Wina anak pintar!” Ayah mengelus kepalanya. Lalu menaikkan Wina ke atas motor.

Wina diajak sekalian menagih tunggakan pelanggan. Wina gadis kecil berpipi gempil dan anak tunggal, mudah membuat orang terenyuh dan tidak tega untuk mengatakan tidak ada uang. Melihat wajah Wina yang langsat, sudah membuat mereka luluh.

“Ini Wina? Sudah cantik sekarang ya…,” sapa seorang pelanggan.

Atau….

“Ini uang buat Wina beli jajan. Atau simpan buat Wina beli buku.”

Atau….

“Wina ikut? Nggak capek? Tante kasih cokelat, mau?”

Wina senang sesekali dibekali kue, cokelat, buah atau uang saku. Ayah puas sakunya penuh uang tunggakan.

Sepanjang jalan Ayah akan menceritakan, gedung-gedung besar yang mereka lewati. Alun-alun yang di tengahnya ada pohon beringin besar. Gedung olah raga. Rumah walikota. Pasar raya. Wina merangkul erat, mesam-mesem. Wina lebih hafal warna-warna cat gedung ketimbang menyebutnya.

“Merah. Habis ini biru. Setelah itu kuning. Baru gedung tinggi penuh kaca. Ya kan Ayah?” Wina bertanya dari atas motor.

“Benar, Wina. Wina suka dengan warna?” Ayah tidak ingin mengatakan, kalau Wina belum mahir membaca dan terpaksa tinggal kelas untuk kedua kalinya .

“Wina suka menggambar, Ayah.”

“Nanti Ayah belikan buku gambar.”

Wina terus saja mengulum senyum. Sudah terbayang sebuah buku gambar besar. Wina bisa menggambar apa saja. Dan kebiasaan Ayah, selesai mengedarkan semua koran dan majalah adalah mengajak Wina makan bakso di depan lampu merah.

“Merah, kuning, hijau….”

Wina mengeja warna. Ayah mengesun pipi penuh dan langsat Wina.

***

Sesampainya rumah, usai ikut Ayah mengedarkan koran dan majalah, hari minggu hampir selesai, Wina berubah total. Mukanya tak lagi bungah dan terus dilipat.  Bibirnya tak lagi seimbang. Wina malas mandi dan ogah-ogahan makan. Murung dan tidak mau diajak bicara. Tak beranjak dari buku gambar.

“Ayah, mengapa hari minggu cepat sekali?” Wina bertanya tanpa rasa kikuk meski dengan pilihan kata yang kurang pas.

“Karena kamu sangat mencintai hari minggu. Maka minggu cepat sekali pergi.”

“Wina benci hari selasa!”

Setiap Selasa Wina bertatap muka dengan Bu Arima. Guru itu sangat tidak disukai Wina. Bu Arima mudah sekali marah, kalau Wina tidak bisa menulis dengan baik huruf ‘d’ dan ‘b’. Wina sering sekali terbalik. Wina saja tidak begitu terampil menulis namanya sendiri. Bu Arima selalu marah dengan nada suara yang tinggi.

“Wina, menulis ‘Wina’ itu dengan ‘n’ bukan ‘m’! Wina kamu sudah kelas empat, harus giat belajar!”

Wina hanya meracaukan semua warna pelangi, “merah, jingga, hijau, ungu, nila, biru!”

Bu Arima geram kalau Wina tidak mau memerhatikan. Wina dihukum di pojok kelas menghadap teman-temannya yang selalu mengejek parah. Wina juga sering mendapat hukuman dari Bu Arima dalam pelajaran berhitung. Wina tidak memiliki kepandaian dalam menjumlahkan, menulis urutan bilangan, dan operasi hitung lainnya. Hukuman sama akan didapatkannya.

“Wina blo’on!!” hardik Sopran. Bocah kecil yang tidak pernah memasukkan kemeja itu menjadi ancaman bagi Wina. Sopran menghinanya, kalau Wina gagap dan gagal mengeja. Ucapannya tidak lebih baik dari preman. Cita-cita menjadi mafia besar, perampok bank, dan penagih utang. Ancaman dari Sopran selalu datang, meski wakil kepala sekolah sudah meminta menjauhkan kursinya dari meja Wina. Ternyata hal buruk bisa dijangkau dari jauh. Lemparan bola-bola kertas. Lemparan cacian tidak berhenti setiap hari Selasa.

“Wina hanya suka menggambar!”

“Mau jadi apa kalau kamu hanya suka menggambar?” Bu Arima tidak berhenti menghardik.

“Berdiri di pojok!”

“Wina goblok!”

Kebo!”

Bento!”

Wina hanya suka Pak Randy, guru menggambar dan pelajaran seni. Pak Randy selalu membolehkan Wina menggambar apa saja. Memakai warna apa saja, menulis sesukanya dan selalu mendapat nilai yang tidak terlalu buruk dengan teman-temannya. Tetapi Pak Randy mengajar di hari Sabtu. Wina selamanya tidak suka dengan hari selasa. Selamanya….

***

“Wina benci hari selasa!” teriak-teriak Wina ketika Ayah membujuk untuk mandi. Tak bagus anak kecil mandi terlalu malam.

“Wina, ini masih minggu. Hari selasa masih lama,” Ayah mencoba menenangkan. Pekerjaannya sebagai loper koran sudah menyita waktu. Ayah tidak mampu membiayai sekolah spesial untuk Wina.

Setahun lalu ada tawaran sekolah luar biasa untuk Wina dari mahasiswa yang KKN. Tetapi biaya selalu menjadi kendala. Ayah hanya bisa berharap sekolah yang sekarang mampu membuat Wina mandiri, mampu membaca dan berhitung lancar.

Wina menangis, tidak bisa menjelaskan kepada Ayah bagaimana kesalnya Wina dengan Bu Arima, teman-teman sekelasnya, Sopran, dan tentu dengan hari selasa.

“Wina harus mulai mencintai semua hari. Karena hari Minggu cuma sehari saja, sisanya yang enam bukan lagi hari Minggu,” Ayah terus membujuk Wina untuk diam.

Wina akan terus menangis di teras. Di sela isak tangis, Wina berharap agar matahari terus terang dan hari minggu tidak akan habis. Wina tidak mau kehilangan hari minggu, yang sangat mengasyikkan itu. Wina merajuk. Tetapi usahanya tetap tidak berhasil.

Malam turun. Wina cemberut di depan buku gambarnya. Digambarnya Bu Arima, kelas, teman-temannya hanya dengan warna hitam. Hal-hal yang membuat takut Wina, digambar gulita. Sesekali menetes air matanya.

“Wina, ayo tidur sudah malam!”

“Tidak. Wina tidak mau tidur!”

“Sudah malam Wina….”

“Wina mau terus berhari minggu!”

“Sini, Ayah akan mendongeng. Mau apa? Putri Tidur? Rapunzel? Atau Aladin dan 1001 malam?”

“Tidak!”

Ayah mendekat. Ibu masih menyetrika seragam sekolah Wina yang esok akan dipakai.

“Wina benci hari Selasa….”

Ayah terus mendekati putri semata wayangnya. Diamati rambutnya yang hitam lurus. Lehernya yang jenjang. Kuku-kuku yang selalu kotor dengan pensil warna dan krayon. Juga bibirnya yang penuh. Matanya sembab, sesore menangis terus.

“Wina benci hari selasa…!!!”

Ayah menghela napas dalam-dalam. Ayah gadisnya menjadi begitu istimewa. Ada rasa bersalah karena tidak mampu memasukkannya dalam sekolah luar biasa. Ayah mengerti yang dimaksud Wina hari Selasa adalah hari Senin. Seminggu lalu, wakil kepala sekolah mendatangi rumah Wina dan memberi kabar kalau Wina menderita disleksia. Lamat-lamat Ayah menyembunyikan air mata yang mulai menetes.(*)

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s