Cerpen

Lingga Yoni

(Tabloid Cempaka, 14-20 September 2013)

220112_zoom_24

Sudah seminggu Yoni hanya duduk mengurung diri di depan jendela. Semenjak keluar dari rumah sakit, Yoni diam tak banyak cerita. Ibu yang berusaha menanyai hanya mengelus dada, keluar dari kamar dengan aliran sungai di wajah deras.

Sebelumnya, Yoni sempat menghilang dari rumah. Kami kelabakan. Meski Yoni sudah besar, tetapi prasangka dan kekhawatiran terus menyerbu kami sekeluarga. Di luar sana, bagi gadis semanis Yoni sangatlah berbahaya. Serigala-serigala bisa saja menipunya dengan sebuah apel merah, lalu menjebaknya untuk menjadi santapan malam. Atau pangeran bulan bertaksedo hitam, membawakan segenggam bulan dan Yoni terbuai lalu diumpankan kepada hantu malam. Ibu tidak bisa menutupi sedih gundah di wajah.

Polisi berusaha menyebarkan gambar wajah kenes Yoni dan nomor telepon rumah kami. Akibatnya sering sekali, bukan pada waktu yang tepat, kami mendapatkan serangan telepon dari berbagai orang. Mengabarkan Yoni sudah ditemukan, Yoni sudah baik, Yoni aman di rumahnya. Dan ujung-ujungnya selalu meminta sebuah imbalan besar. Seperti sayembara untuk mencari seorang putri berupah. Foto-foto Yoni yang tersiar di surat kabar, poster di sepanjang tembok kota, gambar-gambar di papan reklame, atau selebaran di lampu merah penjuru kota, semakin meyakinkan kepada mereka yang bermaksud tidak baik kepada Yoni. Seorang gadis manis telah menghilang dari penjagaan. Serigala, hantu malam, pangeran bulan bertaksedo hitam tentu semakin gencar melakukan usaha untuk menarik perhatian Yoni.

Yoni pergi setelah para tetangga begitu ringan memojokkan posisinya di rumah. Yoni didatangkan ibu dari sebuah penampungan bayi, rumah para ibu yang tidak ingin melihat bayinya menggeliat dari perut ke puting susu. Aku tidak begitu tahu mengapa para ibu itu tega memutus hubungan darah. Yoni didatangkan dengan maksud hendak memancing kehadiranku.

Menurut cerita ibu, Yoni bukan bayi jelek seperti kebanyakan bayi buangan. Yoni gemuk, kulitnya hitam manis, rambutnya keriting. Ibu tidak bisa menahan tawa, ketika melihat Yoni kecil menampakkan gigi kelinci ketika diminta menunjukkan bagian tercantiknya.

Meski harus berkali-kali mengurus segala administrasi perubahan status Yoni dari bukan anak siapa-siapa menjadi anak ibu, Yoni akhirnya masuk dalam kartu keluarga, menemani ayah dan ibu yang sudah tujuh tahun sendiri.

Pancingan ibu membuahkan hasil. Ketika Yoni kelas lima sekolah dasar, ibu terlambat datang bulan. Aku lahir hampir sembilan bulan kemudian, dan Yoni senang memiliki adik lanang. Dalam ingatanku, Yoni kakak paling baik. Setiap pulang sekolah, selalu ada sebuah gulali untukku. Meski ibu selalu melarang, karena gigiku bisa-bisa rontok kalau terus mengunyah gulali.

“Yoni, Lingga masih kecil. Adikmu tidak boleh sering makan gulali, bisa keropos giginya,” ibu merebut gulali dari tanganku.

Aku menangis. Lalu Yoni menggendong dan mengajakku, mengejar capung di halaman belakang yang penuh pohon kenikir, melukis wajah pada buah kuini yang mengkel besar-besar. Itulah ingatan masa kecil, yang terus melekat hingga Yoni tidak bisa menjauh dariku.

***

Yoni sedih diberondong kata dari tetangga.

“Yoni kamu anak angkat. Bukan anak asli ibumu!”

“Yoni..Yoni… kamu itu anak yang tidak jelas!”

“Anak perempuan tunasusila!”

Aku tidak terlalu mengerti maksud semua itu. Yang kupahami kalimat-kalimat itu seperti keris mengiris hati dan membuat Yoni tak henti menangis. Kubawakan Yoni air putih dalam gelas, Yoni tak meminumnya tetapi memelukku. Aku tidak ingin Yoni seperti itu. Aku begitu menyayanginya. Aku tidak peduli maksud Yoni tidak memiliki hubungan darah dengan kami. Yoni tetaplah kakakku tersayang dan paling baik.

Sejak itu Yoni kabur dari rumah. Sejauh kami berusaha Yoni tak ditemukan. Rumah kami semakin buram. Ibu tidak doyan makan. Aku tidak bisa menemukan kesenangan dengan bermain sendirian. Yoni lama sekali tidak kembali. Dalam hitunganku hampir selama empat bulan, Yoni tidak pulang. Baru senja seminggu lalu, kami menerima telepon dari rumah sakit kota lain, Yoni sedang di rawat. Kota itu kata ibu, jauhnya luar biasa. Aku ditinggal, padahal aku ingin lekas melihat Yoni yang kurindui.

***

Yoni duduk di kursi roda, menghadap jendela. Aku yang mendekatinya tidak pernah digubris.

“Yoni, sudah kunyalakan semua lampu di rumah ini. Yoni jangan takut lagi. Gelap tidak akan datang. Lingga akan menjaga Yoni,” aku berkata dan memegang tangannya yang dingin. Sejak pulang Yoni takut gelap, mungkin di luar sana Yoni pernah melihat sosok jahat di waktu kelam. Aku melihat Yoni menatap jendela, yang membuat Yoni bisa memandang keluar, ke jalan-jalan besar, ke pohon akasia di pinggir jalan, ke pohon jambu di halaman, ke kendaran yang lalu lalang, ke anak-anak yang meminta sumbangan di perempatan. Matanya seperti menerobos jauh, memandang sesuatu yang tidak kuketahui fokusnya.

“Yoni, sudah petang.” Masih diam. Aku ke ruang makan. Hendak mengambilkannya sepiring makanan kegemarannya: nasi merah, tumis bunga pepaya, dan pindang telur. “Baiklah, tunggu sebentar. Lingga ambilkan makan, biar Lingga yang menyuapi Yoni.”

Nampan di tangan. Sepiring nasi. Potongan mangga kuini, yang dulu sering aku dan dia gambari, dan segelas air putih. Tentu obat aneka rupa yang harus diminum Yoni.

“Lingga, sekarang Yoni tidaklah sepertimu. Yoni hanya manusia kotor. Yoni anak hina. Yoni sudah mengalami semua kesakitan. Sedih! Ingin marah pada Tuhan. Kata-kata orang membuat Yoni merasa sangat kotor dan tidak pantas di rumah ini. Yoni pergi. Tanpa tujuan jelas, Yoni ke terminal. Ke kota. Berpindah. Mencari apa yang kusebut hubungan darah. Kata orang ibu Yoni ada di Jakarta. Yoni kesana dengan bantuan seorang kernet bus. Yoni dibantu hingga aku bertemu dengan sebuah rumah yang selalu dipenuhi lelaki, asap rokok, alkohol dan kartu remi. Yoni mencari seorang wanita, yang kabarnya adalah ibu Yoni.”

Aku tidak berani menyela. Yoni terus  bercerita. Kuseret sebuah kursi kayu. Kudekatkan. Mendengarkan saksama, sambil menyaksikan punggung datar Yoni.

“Benar. Seorang wanita dengan dandanan tebal, memelukku. Dia mengaku sebagai ibuku. Kau tahu rasanya bagaimana?”

Aku menggeleng. Meski kuyakin Yoni tidak melihatnya. Dia lurus, fokus ke depan.

“Seperti ketika kamu masih kecil, kubawakan gulali. Senang sekali. Wanita itu membelikan pakaian baru, peralatan rias, merawat tubuhku. Diajak main bianglala di pelataran balai kota. Aku mendapatkan kasih sayang dari seorang ibu. Tetapi….”

Yoni menarik napas dalam-dalam.

“Suatu malam aku dimintanya dandan paling bagus. Mengenakan pakaian pilihannya. Diajari bagaimana berucap. Bagaimana menerima tawaran. Dan aku diminta menunggu di ruang tamu. Lalu seorang lelaki berperut besar dan badannya lembek, menghampiriku. Dia merangsak. Berusaha mendekatkan mulutnya ke mulutku. Dadaku di remas. Pahaku di gerayangi. Aku menjerit. Kuraih semua barang untuk melawan. Kutemukan sepatu runcing. Kupukul keningnya. Darah muncrat. Semua orang histeris. Dan wanita yang kuanggap ibu, memarahi dan mengunciku di kamar. Gelap. Gelap itu seperti menghadirkan serigala yang siap menerkam. Gelap. Gelap itu mengerikan.”

Tiba-tiba kurasakan tenggorokanku dicekik.

“Belum selesai. Seperti membalas dendam, lelaki itu mendatangi ruang penyekapanku. Aku ditali. Dan tubuhnya dipaksa masuk ke tubuhku. Aku meronta sekuat-kuatnya. Lingga, aku dicincang. Aku dicabik. Setelah semua remuk, lelaki tambun itu pergi menyisakan luka. Tak kuat aku lari. Lari sejauh kakiku bisa….”

Kupeluk Yoni dari belakang. Dapat kurasakan kesedihan Yoni hingga sampai tulang belakang. “Lingga akan menjagamu.”

Yoni tak berhenti menangis.

“Aku menjadi wanita paling hina, Lingga…. Rasa sakitku semakin tidak terperi. Aku melihat banyak sekali wanita muda yang dijebak sepertiku. Wanita yang kuanggap ibu itu, seperti nenek sihir. Aku diracik untuk disajikan kepada lelaki-lelaki tambun di rumah itu….”

Kurasakan air matanya, mengetal hingga lenganku.

“Itu seperti mimpi buruk bagiku. Aku tak ingin bayangan itu ada di mataku. Gelap, malam, akan mendatangkan mimpi buruk itu. Aku meminta Tuhan untuk mengangkat semua penglihatanku. Aku tidak kuat terus dibayangi mimpi terburuk itu…. Sakit Lingga. Aku tak kuasa….”

Kubalik kursi roda Yoni. Aku tak berhenti menjerit. Meneriaki semua nama di rumah. Yoni mencungkil matanya. Dua bola matanya digenggam, dengan darah terus menetes seperti air mata. (*)

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s