Cerpen

Sofia dan Harum Mentega

(Tabloid Cempaka, 27 Juli-2 Agustus 2013)

Cempaka-28 Juli 2013 - Copy

Pagi tidur. Rumah-rumah bergelayut kantuk. Bahkan matahari belum mau menyambar pagi. Jalanan sepi, hanya ada beberapa kendaraan melintas dan gelandangan mulai bangun dan mencari pengganjal kelaparan. Sepi atau ramai, lampu di tiang traffic light akan terus menyala bergantian, merah paling lama, kemudian kuning peralihan, dan hijau. Ada atau tidak kendaraan yang lewat, jumlah detik tetaplah pakem.

Sofia dengan sepeda, selalu menunggu lampu merah menghentikan kendaraan lalu menyeberang jalan. Sampai ada tanda hijau untuk pejalan kaki dan pesepeda menyeberang. Pukul enam pagi Sofia bersiap, membawa sepeda yang di belakang sadel ada keranjang bambu berisi bahan roti. Sofia membuka kedai roti dan kopi di pojokan traffic light, tempat sarapan para pekerja pagi atau yang baru pulang dari lembur. Harum mentega olesan roti Sofia dan kopi panas, menggugah liur. Sepanjang jalan, Sofia mengumbar harum mentega dan keju.

Sofia berhenti. Kepalanya mendongak melihat lampu merah yang menyala. Kemudian memutar kepala menyapu pandangan. Kakinya mengetuk-ngetuk tidak sabar untuk segera menggenjot pedal. Rambut bergelombang cokelatnya digerai dengan tutup topi beanie. Sofia terus menghitung detik.

Selama lampu hijau dan kendaraan bersicepat menginjak pedal gas, Sofia sering membaca-baca tempelan stiker di tiang traffic light. Dilihatnya para gelandangan yang masih melingkar seperti lekukan croissant, pagar-pagar kantor yang berjajar seperti chesse stick, roda-roda kendaraan membulat donat, gedung kotak seperti biscotti keras. Sofia tertawa, tidak ingin membayangkan sungai keruh di kanan jalan itu, sebagai kopi atau cokelat panas. Pikiran jorok itu bisa mencemari harum kue.

“Lampu, kalau kamu berjumlah tujuh, pasti kumisalkan seperti rainbow-cake.” Dengan tangannya Sofia mengelus tiang berwarna kuning, kemudian bersiap menyeberang. Sofia harus lekas, para pelanggan kuenya tidak boleh terlambat mengambil kue dan kopi atau cokelat panas.

Semakin jauh berjalan, hanya terlihat keranjang dan topi baenie yang bergoyang. Beberapa menit kemudian akan ada aroma mentega, lelehan keju serta kafein kopi menguar, menimpa jalan. Sofia sudah membuka kedai. Jalanan mulai ditumpahi kendaraan. Dan entah apa yang ada dalam pikiran mereka yang berhenti di muka traffic light. Yang naik mobil, yang naik motor, yang naik bus, naik taksi, atau menggunakan sepeda, sama-sama menanti hijau. Mereka berpikir sesegera mungkin sampai. Mungkin antar mereka saling menghina dan meremhkan dalam hati, yang naik mobil mengejek yang naik bus, yang naik bus mengejek yang naik motor, yang naik motor juga meragukan kecepatan yang naik sepeda. Meski tak diucapkan, dan tak saling mengenal.

Asap-asap kendaraan mengusir heharuman dari kedai Sofia.

***

Suatu pagi, Sofia berwajah bahagia. Tawa dan senyumnya diumbar. Dia sedang dibonceng lelaki. Lelaki, dengan segambar Amour di leher belakang, itu menemani Sofia membuka kedai. Masih dengan harum mentega dan keju, saat menanti trafiic light berubah merah, Sofia tidak lagi sempat membayangkan gelandangan, tiang pagar, lampu, ban mobil, dan jalanan sebagai kue-kue yang disajikan di etalase kaca di kedainya. Tangannya mengamit dan memeluk erat kekasihnya. Mereka tertawa.

“Sofia, aku suka harum mentegamu.”

“Dari dulu harum mentega begitu,” Sofia mendongak sebentar.

“Mentegamu enak. Bikin liur menetes, apalagi kalau dioles ke roti panas. Kalau saja lampu ini bisa bicara, pasti meminta jatah. Saban hari tertampar harum kue mentegamu,” kekasih Sofia memukul tiang lampu warna kuning.

Sofia tersenyum, “Dua detik lagi. Bersiap!”

Kekasihnya meminta tangan Sofia mengamit rapat. Dia bersiap seperti atlet sepeda balap. Dan wuuussh, digenjot cepat. Samar terdengar cekikikan Sofia dan derit roda.

Sejak itu, selalu kulihat Sofia bersama kekasihnya. Berangkat dan pulang, hingga berjalan beberapa bulan. Sofia kembali sendirian. Mungkin kekasihnya sudah capek mengantar. Pukul enam Sofia sudah siap menyeberang.

“Hanya kamu yang paling setia, lampu. Kekasihku berselingkuh dengan pelangganku. Yang lebih cantik, lebih kaya. Tetapi apa dia lupa ucapannya. Tentang harum mentegaku, tentang kelembutanku, tentang kue-kue yang enak. Dia pembohong,” Sofia menangis. Pagi itu langit seperti ikut-ikutan redup. Padahal pedagang asongan yang membawa koran hari ini, membaca ramalan cuaca akan terik.

“Lampu, maafkan aku.” Sofia duduk bersimpuh. Dibiarkan lampu berotasi merah-kuning-hijau berkali-kali. Sofia tidak peduli. Ingin dikuras kesedihan, sebelum membuka kue. Apa jadinya kue yang dibuat dengan rintik air mata? Dunia dalam kepala Sofia hanyalah butir-butir kesedihan. Tak ada gelandangan, pagar, jalanan, sungai, ban, tidak ada imajinasi tentang kue.

“Aku harus pergi. Kedai pasti sudah ramai. Maafkan aku,” Sofia mengeringkan embun di halus matanya. Harus lekas membuka kedai. Meski ada aroma harum mentega, tetapi hari itu harumnya begitu berbeda. Sesekali aroma gosong tercium. Orang-orang yang lewat dan berhenti di traffic light, mengernyitkan dahi. Hidung mereka begitu sensitif dengan aroma tidak enak, tetapi bebal dan tebal dengan aroma harum. Karena terbiasa disapu harum mentega sensitivitas hidungnya menurun.

Dari seberang jalan, terlihat Sofia sesekali istirahat di belakang etalase kaca. Dilemparkannya lap yang menggantung di apron putih. Topi baenie dilepas dan ada rintik di pojok mata. Ternyata kesedihan Sofia tidak hangus di muka oven, justru mengaramel dan membuat matanya berair.

Seorang pelanggan, wanita tambun, datang memesan. Sebentar, kemudian wanita itu memaki-maki Sofia.

“Kalau tidak bisa memasak, tidak usah buat kedai roti. Ini gosong!”

“Maaf nyonya, akan saya buatkan cokelat panas. Sebagai ucapan maaf saya,” Sofia membereskan kue mentega lepehan dari mulut. Sofia berusaha menyodorkan kue baru.

“Tidak perlu. Aku sudah tidak bernafsu makan kue dari kedaimu.”

Sofia melepas wanita tambun itu pergi dengan rasa dongkol masih berbiak di hati wanita tambun. Sofia harus tahu bahwa wanita tambun itu boleh saja ditampar. Meski dia pelanggan yang diibaratkan raja, tetapi apa dia tidak pernah mengalami putus cinta? Bagaimana rasanya? Tentu sakit.

Kesedihan Sofia menetes ke dalam adonan roti. Yang seharusnya dipenuhi aroma mentega, hanya tercium gosong luka. Sofia menatap lekat roti-roti dalam etalase yang tidak seharum biasanya. Cinta dan luka silih berganti, memilin hati Sofia. Menyita perhatian Sofia, membuat bantat adonan, membuat ragi biang tak bekerja sempurna, seperti teriakan wanita tambun itu yang mengagetkan jalanan.

“Copet…!!” tas dan kalung berliannya dirampok dua lelaki berbadan jangkung bertopeng. Orang-orang menaruh perhatian sebentar kemudian kembali menekuri aktivitas masing-masing.

Wanita tambun payah mengejar dua pencopet yang sempat berlari di depan Sofia yang menutup kedainya. Sofia tak begitu ingin mengurusi urusan wanita tambun. Sofia menuntun sepeda. Masih layu, Sofia merapikan topi beanie dan membawa sepeda ke pinggir jalan. Ditunggunya traffic light sampai berwarna merah. Jalanan aspal melipat keriuhan dan ramainya kota. Sofia menanti berwarna merah.

“Lampu, mungkin hanya kamu yang mengerti. Mereka yang lewat kedaiku hanya membaui harum mentega rotiku. Lampu, apa perlu kau kupakaikan tuksedo(1). Karena hanya kau yang mengertiku,” sepedanya terjatuh. Sofia memeluk tiangku. Ada lelehan air mata. Sofia tersedu.

Dalam hati lampu itu berkata:

“Aku bisa mengabarkan perubahan merah-kuning-hijau ke semua orang, tetapi aku hanya bisa mengabarkan hatiku ke kamu, Sofia. Tapi, hanya bisa kukecup dahimu lewat tiangku. Rangkulah aku. Peluklah sesukamu. Disaat aku bisa merengkuhmu, akan kurengkuh semua tubuhmu. ”

Mereka yang menunggu lampu hingga kembali hijau, menatap aneh. Seorang wanita gila, memeluk traffic light dan menangis. Wanita cantik. mentega, keju, tepung, dan biang tercecer di dekatnya. Mereka sempat memandang, kemudian setelah itu lupa lagi.(*)

(1) Dalam satu episode “Spongebob Squarepants”, Patrick menikahi tiang halte bus dengan pakaian pengantin dan tuksedo.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s