Cerpen

Hujan Mawar di Lempuyangan

(Media Indonesia, 23 Juni 2013)

Media Indonesia

Aku hendak menanam biji mawar di bibir wanita yang kutemui di bawah Jembatan Lempuyangan. Bibir merekah dan setengah terbuka. Akan kusemai biji mawar di kekenyalan bibirnya. Kupasang kawat berduri agar tidak dipungut penjual gulali di utara palang kereta. Kukancing rapat, agar tak tercerabut saat tertawa.

Bibir-bibir wanita di bawah Jembatan Lempuyangan adalah bibir paling pas untuk ditanami biji bunga. Tidak tercemar narkoba. Tidak ditiduri nikotin dan ganja. Hanya sesekali asap timbal dan karbonmonoksida menerpa. Membuatnya layu sebentar, lalu kembali segar dan lebih kebal serangan kuman.

Ketika senja menepi di antara langit-langit peron Lempuyangan, kereta dari timur berhenti. Bocah berpipi gempil menyoraki. Lelaki dan perempuan tua bergandengan, bernostalgia di sepanjang Jalan Baciro dan Lempuyangan. Ketika gerbong dibuka, kereta memuntahkan ratusan pelancong lelaki berasak keluar. Di tas ransel hitam mereka, tersimpan sekantung biji bunga dengan tempelan nama di bungkus kertasnya. Dibawa dari kota-kota penghasil bunga paling indah di dunia. Aku membawa biji mawar dari Pasadena, kota karnaval mawar paling memesona.

Mereka (seperti juga aku) ingin membuktikan berita yang tersiar di surat kabar, internet dan blog backpaker serta wikipedia. Lalu datang ke kota yang detiknya seperti diam tak berkutik. Menghabiskan seminggu untuk berkelililing ke tempat-tempat paling direkomendasikan. Menyaksikan bibir-bibir berhias sedompol bunga. Dan destinasi wajib adalah di sini, di bawah Jembatan Lempuyangan.

Di sini selalu disesaki keramaian: suara penjual sate, peluit penjaga parkir, rengekan anak minta permen, desah perjaka merayu perawan, dan suara kegelisahan pelancong. Harap-harap cemas. Apa jeda seminggu cukup untuk merampungkan semua misi? Sirine kembali mengaum, gerbong barang sekuning pipi gadis lewat.

Saat pertama tiba, aku merasa asing dengan kota ini. Bahasa penduduk asli terdengar seperti alien. Gunduk penasaran tetap berhasil memaksaku memesan losmen. Hasratku bulat. Aku hendak menanam biji mawar. Sebiji bunga yang ditanam kelak akan tumbuh dan terus berbunga. Meski si pemilik bibir memotong dengan cutter setiap hari sabtu, seolah baru dan belum pernah ditanami di hari minggu. Di blog itu juga, diulas bagaimana memilih bibir baru yang belum pernah ditebar biji bunga. Kalimat provokatif di akhir ulasan, membuatku langsung menelepon agen perjalanan; “Berkunjung sendiri. Buktikan sendiri dan rasakan sensasi melihat biji bunga tumbuh bersemi.”

“Permisi mas,” sapa lelaki dengan bahasa yang sama denganku. Wajahnya tak sepucat wajahku, totol merahnya pun tak begitu banyak.

Kuanggukan kepala. Di belakangnya dua bocah lelaki berjalan tanpa sepatu, sambil cekikikan dan mengemut permen berbentuk kaki.

Dia duduk serampangan, berlambar selembar koran. Kutumpukan kaki di tumpukan bantalan rel. Kukempit kantung berisi biji mawar Pasadena.  Malam hampir turun, sedang bibirku belum juga tiba. Lampu-lampu peron dan lampu hias berbentuk kutilang di ujung jembatan mulai dinyalakan. Wanitaku belum datang. Kutunggu. Aku berharap bibir itu tidak didahului pelancong yang berkeinginan sepertiku.

“Maaf, anda sedang ingin menanam bunga?” lelaki itu seperti tidak berhenti mengusikku.

Kujawab iya. Lalu secara halus kuusir. Aku tak ingin seorang pun tahu di mana aku menanam biji mawar. Dia membungkuk dan memohon maaf. Dari sikapnya, kurasa dia baru tiba. Tak bakal menemukan bibir yang pas dalam sehari. Dia saja belum mengerti bahasa di sini. Dia menjauh dan duduk di bawah gambar mural Semar (ini kata orang di kota ini) sambil menyedot es teh.

***

Wanita itu pertama kali kutemui di sudut selatan Jembatang Lempuyangan, dekat tiang pancang bergambar mural lelaki kurus memikul empat lelaki tambun. Itu hari kedua aku di kota ini. Dia duduk di dampar angkringan. Dengan rambut tergerai sebahu. Tak peduli asap motor membedaki kuning langsat pipinya. (Kelebihan kota ini, tidak ada kulit pucat dengan totol-totol merah. Semua kuning langsat, kuning sawo, juga eksotik hitam. Kulit paling segar, menurutku.)

Dia kusapa halus. Dia mengernyitkan dahi, tidak terlalu jelas mendengar bahasanya kuucapkan dalam logat bahasa ibuku. Dia baru mengerti ketika kueja sekata demi sekata. Kami berkenalan lalu bercerita. Dia bercerita tentang kota ini. Tentang Selokan Mataram, garis imajiner antara Pantai Selatan, Keraton, Tugu dan Merapi. Juga aneka ritual tidak masuk logika.

Aku mendengarkan sambil terus mengamati gerak bibirnya. Dalam benakku, di sana akan tumbuh rimbun mawar. Pasti banyak yang ingin menanam biji bunga di bibirnya yang kenyal, merekah, dan setengah terbuka.

Aku terbangun ketika bahuku dipukulnya sambil bertanya, “anda melamun?”

Wajahku semu merah, sipu-sipu malu. Sebagai gantinya, kuceritakan apa itu karnaval mawar di Pasadena. Di penghujung musim dingin Januari, orang-orang Pasadena memanen mawar-mawar sambil menyanyi dan menari. Mereka menyusun mawar menjadi aneka bentuk. Kutanya, apa di kota ini pernah ada karnaval?

“Seribu penari berjalan dari tugu ke keraton, ketika ulang tahun sultan.”

Seperti itulah karnaval mawar di Pasadena. Bentuk-bentuk raksasa berbahan mawar dan aneka bunga. Dibentuk Kapal Titanic, tubuh Obama, kepala Oprah, White House, dan ikon kota-kota dunia. Tetapi belum pernah ada yang membentuk Jembatan Lempuyangan. Yang menurutku paling indah.

“Karena kami mengingat kota ini, bukan dari bentuk. Tetapi aroma,” dia menjawab sambil menyorongkan gelas berisi jahe panas.

Kuhirup serampangan aroma di sekitarku. Aroma jahe di angkringan, segar. Aroma pohon dan daun hijau. Aroma asap. Dan segerumbul aroma manis dari lehernya.

“Besok, kuajak anda berkeliling kota ini naik dokar.”

Aku tidak tahu dokar itu seperti apa. Dengan gerak-gerik menggelikan, dia memeragakan sebuah kereta, kuda, dan lelaki pengendara. Kami tertawa, bersama senja yang tenggelam di barat Lempuyangan.

Tiga hari kemudian, saat dia duduk menikmati ketan bakar di bawah Jembatan Lempuyangan, kutanya apakah boleh aku menanam biji mawar di bibirnya?

“Mengapa orang-orang seperti anda ingin menanam bunga di bibir kami?”

Kenangan. Meski tidak terlalu paham. Aku ingin ketika satu atau dua tahun kembali ke kota ini, aku bisa menengok bunga-bunga itu.

“Sudah kubilang kenangan bukan pada bentuk.” Diam lalu dilanjutkan, “kalau tidak mau, bagaimana?”

Tak kusangka dia jual mahal untuk sekadar dititipi beberapa biji mawar.

“Mengapa harus dengan biji mawar untuk kembali ke kota ini? Dan satu atau dua tahun? Mustahil. Sehari saja, anda pasti akan rindu aroma kota ini.”

Dia mengelus pipiku yang terkena bagian ketan yang hangus tersenggol arang. Kemudian dia memamerkan kembali bibir merekah dan setengah terbuka.

“Sehari sebelum anda pulang, tunggu aku di sini. Sebelum malam turun.”

Dan sekarang, tinggal beberapa menit lagi malam akan turun. Senja akan hilang. Jembatan Lempuyangan berhias lampu. Orang-orang pulang, meninggalkan aroma sisa dan sampah.

***

“Anda pelancong paling konyol. Anda bisa tanam di ribuan bibir wanita di kota ini,” dia duduk di sampingku. Sekarang lehernya beraroma lili. Kakinya diselonjorkan menyejajariku. Aku hanya tersenyum. Melihat dia datang menepati janji saja, aku sudah menggumam ratusan syukur. Apalagi sebelum aku pulang, dia merelakan bibirnya kutanami biji mawar Pasadena.

“Tunggu apa lagi?”

Aku ragu. Antara nyata dan impian. Akhirnya aku menemukan tujuanku ke kota ini. Aku terus memikirkan bagaimana nanti kutulis dalam ulasan mengenai bibirnya. Apa pelancong lain juga menemukan seperti apa yang kutemukan?

“Lekaslah!”

Kuselipkan lima biji mawar. Dia memejamkan mata. Lalu kusapu bibir itu agar tidak terlihat kalau ada gundukan. Berkali-kali aku mengucapkan terimakasih. Dan selalu kuingatkan untuk tak lupa mengolesi lip balm agar bijiku tumbuh segar. Satu atau dua tahun lagi, aku akan berkunjung dan memanen bunga mawar itu.

“Masih yakin akan tahan selama itu?”

Kulengkungkan senyum. Aku puas dan bergegas kembali ke losmen. Kopor dan ransel siap kuangkut. Seketika muncul keraguan. Apa yakin aku akan tahan hingga dua atau tiga tahun? Bibirnya, di bawah jembatan layang lempuyangan, bahasa alien. Tak kuladeni lamunanku. Taksi datang. Semua barang sudah di bagasi. Kututup pintu.

Seperti tangis perpisahan sepasang kekasih. Kota ini hujan. Apa aku bisa menunggu lama untuk kembali lagi ke kota ini? Mengecek biji mawar yang kutanam di bibirnya. Dalam taksi, kusaksikan hujan mawar turun di Lempuyangan. Aroma segar menghujani pikiran. (*)

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s