Cerpen

Menunggu Bus

(Suara Pembaruan, 16 Juni 2013)

menunggu bus

Canisha mendesah. Jam warna silver di pergelangan tangan baru menandakan setengah delapan. Pemberhentian bus sepi. Hanya ada seorang gelandangan jongkok di ruangan merokok. Kendaraan berseliweran. Canisha ingin sekali bus segera datang sebelum Bastian tiba. Canisha bisa pulang segera dan nyenyak tidur semalaman, tanpa memikirkan perasaannya. Tapi permasalahan dan gundah belum selesai ketika ditinggal. Canisha menanti hingga jam delapan, waktunya dan Bastian berjanji bersama pulang dengan bus.

Ketika hubungan dengan Johan kandas, Canisha limbung. Seolah langit runtuh dan waktu kaku tidak bergerak. Canisha memenjarakan hati dan mengurung diri bersama kesedihan dan penyesalan. Bastian datang seperti bus yang menyelamatkan Canisha dari terlambat kerja. Bus datang tetibaan dan Canisha masuk bareng Bastian. Bukan hanya bahagia juga bimbang berpusing bersama ban yang terus menggelinding. Sudah enam bulan Bastian menjadi lelaki yang penuh perhatian kepada Canisha.

“Tapi cinta seperti bus, datang dan pergi tanpa kita ketahui…,” Canisha mengelus air mata dengan saputangan Bastian.

“Perih kalau diingat.”

“Kamu yakin bus dan nahkodamu adalah Johan? Siapa tahu bus yang baru datang adalah bus yang kamu tunggu?” Bastian menggenggam erat tangan Canisha. Diserahkan bahunya untuk sandaran Canisha, rasa hangat dari Bastian merambat, melelehkan beku hati Canisha. Sejak itu mereka berjalan bersama, sebagai sepasang kekasih. Di halte inilah, Canisha dan Bastian biasa pulang bersama dengan bus.

Canisha dan Bastian punya cara romantis kencan di atas bus. Canisha merasa aman. Selama ada Bastian, Canisha tidak pernah tertinggal bus berangkat dan pulang kerja. Perhatian dan sayang Bastian, membuat Canisha luluh dan terbang ke langit ketujuh.

***

“Canisha, umurmu sudah 26!” Mila, sahabatnya siang tadi menasihati.

“Terus kenapa?” Canisha yang duduk sambil menyantap bekal makan siangnya berseloroh sekenanya. Canisha mengerti, ujung pertanyaan ini adalah saran untuk segera menikah.

“Semua temanmu sudah menikah. Kamu yakin akan memilih Bastian sebagai suamimu? Gitaris sebuah band klub yang tidak jelas, penggila bus, dan entah apalagi kekonyolan kalian berdua.”

Canisha membenarkan praduga.

“Aku dan Bastian sedang menikmati bagaimana cinta berbunga.”

“Cinta? Cobalah serius dan realistis. Kamu mau menikah kapan?”

“Entahlah. Cinta tidak selalu berujung dengan pernikahan, kan?”

“Kamu terima saja cinta Pak Hendar. Dia siap menikahimu. Mengandalkan bocah yang lulus SMA saja belum, itu konyol Canisha.”

“Kamu dibayar berapa buat makcomblangin aku dengan Pak Hendar.”

Canisha menghentikan makan siang. Mila memang sudah lama dijanjikan posisi Canisha sebagai manager desain di majalah Pak Hendar, asal Canisha mau menikah dengan Pak Hendar.

“Aku cinta Bastian.”

“Dia main-main denganmu, Canisha. Pak Hendar serius.”

“Bastian serius!”

“Serius? Coba kalau serius. Dimana selain di bus kalian bertemu? Kapan kamu dikenalkan orang tuanya? Aku yakin Bastian tidak punya rencana masa depan hubungan kalian berdua. Aku khawatir Bastian hanya sebagai pelampiasan rasa kehilanganmu. Bastian belum dewasa usianya masih panjang. Sedang kamu, sebentar lagi dapat julukan perawan tua. Coba pikirkan kembali Canisha.”

“Bastian meski menurutmu masih kecil, dia membantu menemukan semangat hidupku, Mila.”

“Canisha, coba berpikir logis. Tahun ini kamu 26, Bastian masih belum lulus SMA. Kamu akan tua kalau menunggu hingga Bastian lulus SMA, kuliah dan kerja. Mungkin kamu hanya cinta monyetnya.”

Ada sekian palu yang menggodam hati Canisha. Dia tak bisa membalas argumen Mila. Canisha dan Bastian memang jarang sekali membicarakan keseriusan hubungan mereka. Bahkan mencari tempat selain halte dan bus sebagai tempat kencan, tidak pernah sama sekali dipikirkan Canisha. Canisha diam mengusap kaca-kaca yang menetes dari pojokan mata.

Pak Hendar bukan masuk lelaki dengan kategori buruk rupa. Hanya kelakuan dengan pegawai wanita yang membuat Canisha tidak terlalu menaruh perhatian dengannya. Canisha diam dan Mila yang ditugaskan mencari celah di hati Canisha. Canisha tetap menaruh hormat dengan bos yang perfeksionis itu. Untuk menerima cinta dan lamaran sebagai istrinya, Canisha memiliki banyak pertimbangan. Kalau dibandingkan dengan Bastian, memang Pak Hendar punya peluang jauh lebih besar. Pak Hendar sudah mapan seperti yang Mila bicarakan. Tapi…

“Kamu benar, Mila. Tapi apa harus Pak Hendar?”

***

Canisha mengamit kotak dasi sebagai hadiah Bastian. Sore tadi dengan hati perih masih disempatkannya membeli dan membungkus dasi sebagai hadiah ulang tahun Bastian. Canisha juga membawa dua kaleng minuman bersoda untuk mereka habiskan di atas bus.

Pukul delapan, Canisha masih duduk tidak berpindah. Pandangannya tertuju ke depan, sama sekali tidak terpengaruh bebunyian bel dari bus yang lewat di depannya. Pikirannya berkecamuk, berbenturan dengan semua yang dikatakan Mila. Canisha meraba tulang selangka yang membetuk ceruk mirip tempat sabun. Di pokok lehernya ada sebuah kalung mutiara berinisial huruf ‘c’ pemberian Bastian. Canisha menangis tapi dia tidak inggin air mata memperburuk riasan yang memang sudah lesu seharian di wajahnya.

Ah, akhirnya bisa pulang.” Bastian datang dan duduk di samping Canisha.

Canisha menoleh dan berusaha tersenyum.

“Kamu menangis?”

Canisha menggeleng meski air matanya berleleran.

Happy birthday, Bastian.”

“Terimakasih. Boleh kubuka?”

Canisha mengangguk. Bastian membuka kotak. Dan matanya terbelalak melihat sebuah dasi yang manis.

“Canisha, bagus sekali.”

“Kubelikan spesial untukmu.”

Bastian merasa ada yang aneh dengan Canisha. Bastian ingin pertemuan malam itu tidak terlalu kaku. Bastian mencoba merenggangkan pikiran.

“Kau tampak lelah, sini biar kubawakan tasmu?” Bastian mencoba meraih tas tangan Canisha. Tapi Canisha menjauhkan dan menolak tawaran Bastian. “Oke, kamu sedang tidak butuh bantuan.” Bastian berusaha tersenyum.

“Mila, tadi menasihati agar aku memikirkan serius kelanjutan hubungan ini.”

“Lalu?”

“Aku sudah berumur 26. Aku sudah terhitung tua di depan teman-temanku. Mila terang-terangan meragukanmu. Kamu masih suka nge-band. Mila terus saja menjodohkanku dengan atasanku, Pak Hendar. Aku sedih. Aku ingin membelamu, Bastian. Tapi semua yang dikatakan Mila itu benar.”

Kini air matanya tumpah. Bastian diam.

“Aku suka musik sejak kecil. Musik seperti darahku. Aku memang tidak romantis seperti lelaki lain. Aku belum punya mobil dan pekerjaan tetap seperti Pak Hendar. Ya Mila memang benar.”

“Bukan itu Bastian. Perbedaan usia kita sangat jauh. Aku 26, sedang kamu masih 18. Bahkan baru semester depan kamu ujian kelulusan. Cara berpikir kita berbeda. Aku sudah harus memikirkan pernikahan dan masa depan. Kamu, masih bisa bermain-main dan bisa saja aku kau anggap cinta monyetmu. Kita berbeda orientasi Bastian. Rasa cinta di antara kita saja masih belum cukup Bastian. Mungkin ini saatnya aku realistis.”

“Kurasa kita bisa bersama, Canisha.”

Ahh… entahlah. Aku ragu, kamu mungkin saja tidak pernah memikirkan masa depan hubungan kita. Aku terlalu naif menganggapmu sudah dewasa.”

“Canisha…,” Bastian berusaha memegang tangan tetapi ditampik Canisha. “Aku sudah memikirkan masa depan kita.”

Mendengar ucapan Bastian, Canisha terperangah heran.

“Masa depan kita adalah bahagia. Saat aku lulus, aku akan mengambil alih usaha garmen ayahku. Tentu sambil kuliah bagian keuangan. Kita menikah dan punya dua anak. Empat atau lima tahun dari sekarang. Itu tidak terlalu tua bukan? Tidak usah pedulikan orang. Aku dan kamu bahagia. Biarlah mereka puas menertawakan.”

Canisha menyerahkan telapak tangannya untuk di genggam Bastian. Canisha diam tidak mau sesenggukan.

“Canisha, kamu perlu tahu. Selama ini aku selalu berusaha memilih pilihanku sendiri. Semuanya. Musik, sekolah, pakaian dan kekasih. Hanya beberapa yang aku tak kuasa memilihnya sendiri. Salah satunya aku tidak bisa memilih hari, bulan dan tahun aku dilahirkan. Aku tidak bisa memilih lahir dahulu atau bersamaan dengamu. Tetapi, aku kini memilih untuk bersamamu selamanya, Canisha. Setiap berangkat kerja nanti, kamulah yang memasangkan dasi ini. Kamu juga yang menyiapkan bekal makan siang. Kenapa kamu menangis? Kamu tidak suka dengan rencana masa depan kita?”

Bastian mengeluarkan dasi dari kotak. Canisha menggeleng dan kini sesenggukan. Canisha merebahkan kepalanya di bahu Bastian.

“Cinta kata orang seperti menunggu bus datang, Bastian. Kadang saat ada bus yang datang ternyata itu bukan bus yang kita harapkan. Saat yang kita harapkan datang, banyak hambatan menghadang. Tak jarang harus rela terhenti sebentar. Kini aku belajar Bastian, ternyata itu bukan sekadar menunggu. Saat bus datang, aku harus memutuskan untuk naik atau tidak.“

Bastian dan Canisha masih menunggu bus malam untuk pulang.(*)

 

NB: terinspirasi dari beberapa adegan di film “First Kiss”

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s