Cerpen

Hidung Pinokio

(Tribun Jabar, 16 Juni 2013)

Sejak Tuhan mengabulkan doa Gepeto untuk memiliki seorang anak, semakin giatlah dia bekerja. Gepeto dikenal sebagai tukang kayu andal. Hasil pekerjaannya halus hampir tanpa cela. Banyak pelanggan puas akan hasil pekerjaannya. Sebelum ada Pinokio –anaknya, Gepeto hanya bekerja biasa-biasa saja. Asal cukup untuk makan sehari tiga kali, membeli teh dan susu domba segar setiap pagi. Sekarang Gepeto workaholic. Dia bekerja sangat keras. Dia mengamplas kaki-kaki kursi, menyempurnakan pelitur dan cat furniture hingga malam rebah di pekarangan. Tak peduli langit hitam monokrom tanpa secuil bintang, kabut gunung mulai menyesaki lembah, dan dingin memarut kulit. Sebaliknya ketika siang, Gepeto tak mengacuhkan keringat keluar seperti air sumur di musim penghujan. Gepeto benar-benar ingin menjadi ayah yang sempurna. Ayah bagi Pinokio yang sekarang duduk di sekolah dasar.

“Semua ini untukmu Pinokio. Kamu harus sekolah tinggi. Kamu harus menjadi pejabat kota yang berdasi dan bergaji besar. Jangan seperti ayah yang hanya jadi tukang kayu. Kamu harus pintar dan mencari uang banyak. Agar hidupmu enak.”

Pinokio tidak terlalu paham mencerna nasihat Gepeto. Pilihan kata Gepeto terlalu tinggi, meski tidak ada makna konotasi yang tersirat. Dengan punggung tangan, Pinokio mengusap ingusnya yang berleleran mendekati mulut. Dielus pipinya yang kotor karena lemparan bola-bola lumpur usai bermain dari taman. Perutnya kukuruyuk kelaparan. Jam makan siang.

“Kamu lapar, Pinokio sayang?” Gepeto menangkap suara aneh itu. “Ayah tadi memasak sup jamur dan roti bawang. Masuklah. Segera ayah siapkan makanan.” Gepeto menuntun Pinokio ke kamar mandi, dibersihkannya dahulu kotoran di badan Pinokio sebelum makan. Tubuh Pinokio harus bersih agar tidak mudah terjangkit penyakit.

“Terimakasih, ayah!” Pinokio mengecup pipi Gepeto yang sudah berkeriput.

Gepeto tertawa. Sudah empat puluh tahun sapaan dan kecupan itu didambakannya. Gepeto senang sapaan itu datang menjelang masa-masa dia hampir pupus asanya. Gepeto menderas syukur, untung dia belum diuji oleh Tuhan hingga umur delapan puluh enam semacam Abraham untuk mendapatkan seorang anak idaman. Empat puluh tahun sudah hampir membuat Gepeto lupa pada keadilan dan kehebatan Tuhan.

Pinokio lahap makan. Pinokio kekeyangan dan tertidur di ruang tengah, tempat Gepeto menyimpan buku cerita. Seekor kucing datang dan ikut-ikutan tidur di samping Pinokio. Gepeto sudah bahagia menyaksikan perkembangan Pinokio sedemikian cepat. Perasaan baru kemarin dia menyaksikan seorang anak kecil menggeliat di kasur, sekarang sudah besar dan duduk di sekolah dasar. Kadang waktu berlari terlalu cepat.

Seperti janji Gepeto, Pinokio disekolahkan di tempat terbagus di kotanya. Sekolah terbagus, kualitas paling oke. Walau karena itu Gepeto harus benar-benar bekerja keras dan menghemat. Gepeto ingin Pinokio menjadi orang yang berhasil. Pinokio menurut saja.

“Pinokio harus rajin. Jangan bandel. Hormat pada guru. Sayangi temanmu.”

“Pinokio akan jadi siswa yang baik, ayah!”

“Janji?”

“Janji!”

Pinokio mengesun punggung tangan Gepeto sebelum bergabung bersama teman-teman sekolahnya di bus antar jemput saban pagi. Gepeto melambai tangan dan Pinokio membalas dengan kecup jauh telapak tangannya.

“Orang harus malu kalau berbohong. Hidungmu bisa memanjang kalau bohong. Kalau pun ayah tidak melihat, Tuhan mahateliti atas perbuatanmu. Kamu harus menjadi manusia jujur.”

Pinokio mengangguk setuju. Pelajaran itu diukir dalam kepalanya. Seperti batu yang tidak mudah pecah dikepruk palu. Batu itu mengkristal dalam tingkah Pinokio. Berkat kejujuran itulah Pinokio mendapatkan prestasi cemerlang, kemudian beasiswa hingga sarjana di kota dan tentu posisi jabatan elit di perusahaan negara. Cita-cita yang selalu dipupuk Gepeto.

Sekarang Gepeto tak lagi perlu mengasah kayu. Pinokio dewasa sudah menjadi orang penting di kotanya. Pejabat teras dengan fasilitas mewah, gaji besar, dan kekayaan berlimpah. Yang membuat Gepeto senang Pinokio ingat nasihatnya agar tetap jujur. Jujur adalah modal segalanya. Padahal Gepeto hanya bohong tentang hidung pembohong yang memanjang. Itu hanya didapat Gepeto dari dongeng-dongeng yang sanad dan sumbernya tidak bisa dipercaya. Dongeng-dongeng yang disitir Gepeto tanpa tahu kebenarannya.

***

Cuaca panas. Rumah Pinokio di kawasan elit, berlantai tiga bak kastil-kastil Roma. Di rumah itu ada Lotia di bagian memasak, Sania bagian bersih-bersih, ditambah seorang tukang kebun dan sopir pribadi Pinokio.

Gepeto sedang tidur-tidur ayam. Pendingin ruangan disetel sedemikian rupa pas di tubuh Gepeto. Semilir meninabobokan Gepeto. Apalagi di meja sudah terhidang minuman kegemarannya, Limun Sarsaparila yang untuk membelinya saja harus pesan ke produsen langsung karena langka. Juga ada sekeranjang buah segar. Gepeto tua serasa menuai apa yang ditanam dalam Pinokio. Di depannya, DVD Player memutar mozart, musik klasik yang ketika Gepeto masih susah hanya dicuri dengar dari rumah tetangga. Sekarang Gepeto mencecap semua keinginan yang dahulu luput dibeli. Semua berkat Pinokio. Pinokio anak yang berbakti.

“Bagunkan atau tidak?” Lotia menghendaki Gepeto bangun. Dada Gepeto naik turun. Wajah tuanya semakin putih, pucat. Beberapa helai rambut putihnya jatuh di dahi, menutupi kacamata yang lupa diletakkan di meja. Mulutnya sedikit terbuka.

“Jangan. Kamu tega membangunkan Tuan Gepeto. Sepertinya dia tidur sangat nyenyak.” Sania memukul bahu Lotia dengan kemoceng.

“Tapi, Tuan Gepeto harus dikasih tahu. Tidak mungkin terus disimpan.”

“Tunggu saja Tuan Pinokio pulang, biar diberi tahunya sendiri.”

“Kapan?”

“Mungkin malam ini?”

Gepeto berdeham. “Apa yang malam ini?” Pertanyaan Gepeto mengagetkan Lotia dan Sania. Muka mereka berubah seketika. Layu.

“Ini tuan, Sania ingin bertanya untuk makan malam Tuan Gepeto ingin daging sapi atau bebek.”

“Itu saja kok ribut. Kamu buatkan saja keduanya. Uang anakku tidak akan habis untuk membuat itu semua.”

Gepeto mengecilkan suara Mozart dari DVD. Kemudian kakinya ditelentangkan sempurna. Ditata bantal. Kemudian matanya mulai kembali tertutup. Lapat-lapat terdengar suara deru mobil. Halaman rumah Pinokio luas, tak mungkin berisik mengusik siang nikmatnya Gepeto.

Gepeto masih tidur di sofa ruang tengah, di tengah alunan Mozart. Angin tak sampai menggoyangkan rambut Gepeto. Juga harum kenanga dari vas keramik China. Hari tak henti berenang mendekati petang. Alangkah lengang petang. Betapa sunyi siang di ujung hari.

Lotia dan Sania memaju-mundurkan niat membangunkan Gepeto. Sebentar lagi waktu sembahyang ashar akan usai. Lebih dari itu, kabar di televisi di bilik pembantu meresahkan mereka berdua. Apalagi Gepeto dari siang tak menonton televisi. Kabar itu tak sampai di telinga Gepeto. Pinokio ditangkap karena diduga terkait aliran dana uang korupsi.

“Ada apa lagi?” Gepeto mendahului Lotia dan Sania.

“Anu tuan, sebentar lagi waktu sembahyang habis.”

“Aku sudah salat.”

“Anu tuan, Tuan Pinokio ditangkap polisi karena korupsi.”

Seketika Gepeto bangun. Ada rasa galau mengimbau. Matanya dikerubuti mendung. Kemudian duduk kembali. Diraihnya remote televisi. Sore hari biasanya televisi berebut mengabarkan berita, terutama korupsi. Gepeto tidak sabar memindah-mindah saluran. Di stasiun 1, Pinokio ditetapkan sebagai tersangka. Di stasiun 2, Pinokio dituduh menikmati uang senilai hampir lima puluh milyar. Di stasiun lain, dikabarkan Pinokio bisa-bisa dipenjara selama dua puluh tahun belum lagi denda yang memiskinkannya. Juga ada gambar Pinokio wira-wiri didampingi polisi dengan seragam tahanan.

Gepeto mencari nomor Pinokio. Tidak diangkat. Juga sekretaris. Hatinya mulai gelisah. Tiba-tiba air matanya menyusuri lekuk tua pipinya.

“Lotia! Panggil sopir. Aku mau menyusul Pinokio!”

Lotia tidak menyahut.

“Sania!” dada Gepeto berdebar kencang. Kepalanya mulai bergasing. Apa Pinokio lupa ajaran kejujuran waktu kecilnya? Apa Pinokio sedemikian ceroboh melalaikan wejangan ayahnya? Sudah lupakah tentang dongeng Pinocchio, yang akan memanjang hidungnya kalau berbohong? Gepeto sementara hanya bisa menangis sesenggukan. Dia meratapi apa ada kesalahan dalam membesarkan Pinokio. Jangan-jangan ada makanan tidak benar yang pernah disuguhkan untuk Pinokio kecil. Gerumbul sesal menyesaki dada dan pikiran,seperti pipa tersumpal kotoran. Macet.

Di televisi masih dilihatnya Pinokio. Sekarang dia berusaha menutupi wajahnya dengan jaket tahanan. Entah mata Gepeto mulai rabun atau bagaimana, tapi dalam matanya hidung Pinokio bertambah panjang sekitar dua atau lima senti. Jaket yang dipergunakan untuk menutupi, tersembul beberapa senti ke depan. Memanjang. Pinokio menutupinya agar tak menjadi bahan gunjingan di media.

Gepeto mulai tak kuasa menahan sesenggukan. Remang senja mulai menghitam. Namun belum ada kabar pasti dari Pinokio. Hingga malam, Gepeto tak sudi menjamah makanan yang disiapkan Lotia. Meski dimasakkan daging sapi dan bebek. Lidah Gepeto terasa pahit. Kantuknya tak mendekat bantal. Gepeto duduk di depan televisi sepanjang malam. Gepeto memikirkan hidung Pinokio yang terus memanjang.

***

Ketika kasus Pinokio mulai terungkap. Pinokio merasa dahulu hanya menerima gratifikasii berupa cek jalan-jalan ke Yunani. Kemudian berupa jam tangan berlian, kemudian mobil BMW, kemudian villa, rumah, jutaan US Dollar, emas. Sedikit demi sedikit, hingga Pinokio lupa itu korupsi. Terbiasa korupsi.

Di persidangan, hakim dan jaksa merasa dimudahkan dalam mengorek fakta. Hidung Pinokio akan memanjang kalau dia menyangkal. Pinokio terpaksa harus menjawab jujur. Kalau tidak hidungnya akan memanjang. Memanjang sesenti, dua senti dan sekarang entah sudah berapa puluh senti. Pinokio terus menutupinya dengan cadar warna hitam. Maka terungkaplah siapa saja yang terlilit benang korupsi bersama Pinokio. Banyak tokoh politikus, pengusaha, artis, model, bahkan putra menteri yang terlibat dalam kasus korupsi Pinokio.

“Hidungnya terus memanjang kalau bohong,” peserta sidang bisik-bisik di belakang Gepeto yang berurai air mata.

Satu demi satu tersangka ditangkap. Mereka menutupi wajah dengan cadar hitam.

“Mereka takut ketahuan bohong. Pasti hidungnya seperti hidung Pinokio yang memanjang kalau berbohong.”

Entah sejak itu banyak sekali yang datang ke persidangan bercadar hitam. Berusaha menutupi hidung mereka. (*)

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s