Cerpen

Anthurium

(Majalah Femina, 1-7 Juni 2013)

Femina - Copy

Permintaan ayahnya membuat Maya kelimpungan mencari jadwal penerbangan ke Yogyakarta di akhir pekan yang tentu padat. Urusan yang harus diselesaikan di rumah, jauh lebih besar ketimbang tiket mahal dan delay boarding pesawat selama dua jam. Hujan bulan Januari berdebam.

Sejak Pak Juanda menemani di kedai kopi bandara, bangku logam Soekarno-Hatta menghangat. Tak diacuhkannya tablet layar sentuh yang terhubung dengan jaringan internet di tangan. Pak Juanda teman berbincang yang menyenangkan. Sudah lama Maya mengagumi Pak Juanda, dosen yang bergelar guru besar. Status mahasiswa master membuatnya sangat ingin berbincang dekat dengan Pak Juanda. Keheningan dan kesepian saling tindih, menguap bersama kerenyahan Pak Juanda. Dua jam mereka habiskan di kedai kopi, menikmati kopi hangat dan sepotong muffin cokelat. Maya lupa ada lebam di hatinya.

Maya mengamati wajah berkerut Pak Juanda, kacamatanya menggantung di atas cuping hidung. Lelah berbincang, Pak Juanda mengambil sebuah majalah pertanian, dibacanya teliti. Pak Juanda tak terlepas dari dunia pertanian dan agrobisnis, bahkan saat duduk di kedai kopi menunggu pesawat siap ditumpangi.

“Baca apa, Pak?” Maya mendekatkan dagunya ke bahu Pak Juanda.

“Oh, tidak terlalu penting.” Pak Juanda tersenyum, sambil membenarkan letak kacamatanya. “Kenapa?”

“Saya yang seharusnya bertanya. Kenapa berita tidak penting dibaca dengan serius?” Mata Maya mencari-cari judul yang paling menarik.

“Hanya tren tanaman hias yang fluktuatif. Kemarin kemboja thailand, sekarang gelombang cinta, besok entah apa lagi? Eh, sepertinya ada yang sedang membawa kado tanaman hias.” Pak Juanda tak sedikit pun menghadap wajah Maya yang kusam, tersinggung oleh sindiran Pak Juanda.

Maya menoleh ke kursi di sisi kirinya. Ada sebuah kardus berisi dua pot anthurium. Kardus itu diselotip kencang dobel, kemudian disimpul senar biru. Beberapa lubang sengaja diventilasi, agar tidak pengap dan membusukkan daun-daun tanaman dengan nama asli Anthurium plowmanii croat. Ada dua orang yang menunggu buah tangan itu.

“Menurut saya penting!” Maya setengah terkejut. Aneh, pikirnya. “Ini tanaman, bukan warisan. Hadiah buat ayah saya.”

Pak Juanda terkekeh, kacamatanya hampir jatuh. Pak Juanda berhasil menggoda Maya yang sore itu manis dengan gaun terusan warna krem gading. Senyumnya tetap menawan meski tanpa sapuan bedak. Maya memang gadis perawan yang bisa meluluhkan semua perjaka.

“Nanti kalau sudah sampai Yogya, kita perbanyak waktu berbincang mengenai Anthurium wave of love ini. Semua wanita di rumahku mencintai tanaman hias. Salam hangat buat ayahmu.” Pak Juanda memasukkan majalah itu ke dalam tas selempangnya. “Sepertinya kita sudah bisa masuk.”

“Hujan mulai rehat, Pak.” Dagu Maya terangkat, dengan demikian ia dapat melihat hamparan pemandangan luas. Dinding kaca terus berembun. Kini memang tak terlihat derai gerimis lebat yang semenjak tadi menghiasi langit. Terdengar pengumuman melalui pengeras suara, dan dua orang petugas berdiri di ambang pintu. Mereka akan menyobek boarding pass para calon penumpang. Maya berjalan sejajar dengan Pak Juanda.

“Awas ketinggalan.”

“Tidak boleh ketinggalan.” Maya membawa kardus itu. “Ini buat calon ibu saya.”

“Calon ibu?”

“Ya, ayah saya sedang mencoba memperkenalkan ibu baru buat saya.”

“Ibu baru?” Pak Juanda terkaget seraya mengangsurkan boarding pass kepada petugas.

“Bagaimana kalau saya lempar saja kardus ini saat di atas nanti.” Maya mencoba memecah kebuntuan. Ada ratusan andesit yang menutup hatinya. Ratusan palu sudah dihajarkan. Maya mencoba usaha terakhir dengan anthurium, yang semoga mampu menghijaukan keluarganya. Apa mungkin bunga itu mampu meredupkan amarahnya? Kalau tidak biarlah, anthurium itu menjadi bingkisan terakhir untuk wanita pilihan ayahnya.

Tinju mungil menyentuh bahu Pak Juanda. Mereka berjalan menyusuri terowongan bercat putih menuju pesawat.

Maya ingat perjalanan ini tidak benar-benar Maya inginkan. Hanya panggilan sebagai anak berbakti, membuatnya tak mengelak. Maya sedang membaca paper saat ayahnya menelepon.

“Maya, pulanglah tahun baru ini. Ayah serius ingin menikahi Soraya. Ayah merencanakan tepat di tahun baru melamarnya. Kamu pulang, ya? Kamu yang paling besar, beri contoh ke adik-adikmu. Maya? Kamu masih dengar ayah, ‘kan? Ayah sangat berharap kamu pulang.”

Pipinya basah. Maya sebenarnya tidak setuju dengan rencana ayah, bahkan sejak pertama kali ditelepon bahwa ayahnya dekat dengan Soraya. Bukan usia yang menjadi permasalahan Maya. Soraya dua tahun di atas Maya. Usia yang jauh lebih muda dari ayahnya. Maya hanya teringat bakti ibunya menemani ayah. Ganjen. Kegatelan. Puber kedua. Dan aneka pikiran berseliweran.

Kebutuhan biologis? Maya tidak begitu berpikir hingga ke sana. Tetapi, bukankah sudah hampir sepuluh tahun ayahnya menduda sejak ibunya dijemput Malaikat Izrail karena kanker serviks. Selama itu seharusnya sudah membuat ayahnya mampu menahan nafsu ranjang. Usianya sudah bukan lagi muda dengan darah menggelegar.

Kesepian? Maya selalu berpikir dua gadis di rumah sudah membuat cukup menemani kesepian ayah. Maya memang sedang menempuh master di Jakarta. Adik keduanya, Mutya, sedang kuliah sarjana di Bogor. Dua adiknya, Maulida yang kelas tiga SMA dan Maida yang kelas dua SMP dirasa Maya cukup menjadi teman ayah. Maya tidak habis pikir, mengapa keputusan menikah justru ketika anak-anaknya sudah begitu jauh dengan sosok ibu. Apa akan rukun empat gadis dengan seorang ibu baru.

Maya duduk bersampingan dengan Pak Juanda. Pesan Mutya menanyakan kabar tidak dibalas. Ponsel segera dimatikan, sebelum pramugari berkeliling mengingatkan.

***

Pramugari lewat menawari Maya dan Pak Juanda permen mint segar. Kalau boleh Maya ingin mencecap permen kopi. Semalam air matanya tumpah di bantal. Maya tak bernafsu meletakkan kepalanya di bantal. Pramugari itu melihat kardus besar yang diletakkan di bawah kaki. Penuh keheranan.

“Hanya gelombang cinta.” Pak Juanda menjelaskan sebelum ditanya.

“Boleh saya simpan?” pramugari dengan sopan menawarkan.

“Tentu.”

“Di belakang tentu lebih aman.”

Mesin menderu, bergemuruh seperti gemuruh Merapi meletus di penghujung 2010. Maya selalu gemetar hebat ketika pesawat akan lepas landas. Tubuhnya bergetar seperti kabin pesawat. Maya mencari pegangan. Badannya dicondongkan ke kanan. Terpaksa dirangkulnya Pak Juanda, dosen mata kuliah agrobisnisnya. Maya memejamkan mata, bibirnya digigit dan menggumamkan doa.

“Jangan khawatir. Semua aman!” Pak Juanda menenangkan.

Saat pesawat sudah stabil di angkasa, Maya melihat gerombolan awak seperti duku. Langit belum bermatahari dan teman duduk hangat Pak Juanda.

“Ayahmu akan menikah lagi?”

“Begitu. Padahal aku sudah menentangnya Pak.”

Pak Juanda tertarik. Pak Juanda menggeser badan menghadap Maya.

“Ayah sudah tua, empat anak gadisnya sudah besar. Calon istrinya terlalu muda untuk ayahku. Aku sudah lama tidak setuju.”

“Tetapi mengapa kamu membawakannya anthurium. Bukannya itu justru merekatkan hubungan kamu dan calon ibu barumu?”

“Aku ingin membawa bingkisan yang buruk. Tetapi untuk membawa roti buaya berjamur, cake pengantin busuk aku tidak tega. Dari Ayah, Soraya suka bunga. Aku pergi ke toko tanaman saja. Kupilih tanaman yang biasa saja. Anthurium tak berbunga. Seharusnya, Soraya sadar tidak ada bunga di hati kami. Mungkin ini bingkisan pulang, anthurium terakhir untuknya. Anthurium saja, tanpa ayah kami.” Titik-titik kaca menetes di pipi. Maya tak jadi merogoh tisu, Pak Juanda sudah mendahului menyodorkan tisu untuknya. “Soraya calon ibuku, hanya dua tahun di atasku.”

“Katanya tidak masalah dengan umur?”

“Tapi, Pak…”

“Ayahmu mungkin butuh teman berbicara, Maya. Seperti aku, seminggu sekali harus pulang ke Yogya. Ada jutaan kalimat yang ingin kuceritakan kepada istriku.”

Maya menoleh ke Pak Juanda. “Tetapi, kami sudah lama menjadi kawan berbincang ayah. Kami merasa ayah hanya neko-neko.”

Pak Juanda memberinya dua keping permen jahe. Dibuka dan dikunyah Maya.

“Pak, apa lelaki mudah sekali berpaling?”

“Lelaki yang sudah matang semacam aku dan ayahmu itu, bukan lagi butuh seks atau uang. Hanya butuh teman bicara. Bicara mengenai rencana hidup. Apalagi ayahmu adalah pengusaha besar. Tentu dilema di kantor harus selalu dibagi. Dan kalian, anak-anaknya sudah besar dan punya kesibukan sendiri-sendiri.”

“Apa ayah sudah lupa kesetiaan dan bakti ibu?”

“Tidak akan lupa. Karena ayahmu juga pasti ingin kembali reuni dengan ibumu, kamu dan istrinya yang baru di syurga.” Pak Juanda tenang dan menyorongkan permen jahe lagi. Maya menampik. “Apa kamu masalah dengan usia calon ibumu yang masih sangat muda?”

“Tidak, Pak. Entahlah, aku merasa ayah hanya begitu mudah melupakan ibu.”

“Sepuluh tahun sendiri itu sudah bukti bahwa ayahmu tidak melupakan ibumu, bukan?”

“Pak…”

“Tidak pantas menghalangi sesuatu yang benar. Membiarkannya sendiri dan berujung zina. Itu lebih dosa.”

“Pak…” Maya kelu. Ada jutaan air mata yang merembahi wajah Maya. “Semoga saya tidak lagi egoitis, Pak.”

Anthurium itu bukan tak berbunga. Ada bunga kecil, tapi indah. Memang orang mengira daunnya saja yang bergelombang.”

“Terimakasih Pak,” Maya mengusap air mata dan mengulum senyum.

Perjalanan tahun baru ini memberi gelombang baru. Maya merapikan badan dan tak lupa kardus berisi anthurium yang diletakkan pramugari di belakang kursi. Aroma Adi Sutjipto selepas hujan masih menguarkan aroma ketenangan. Ada rasa lega dan ikhlas yang menetas. Maya mengerti, sekarang saatnya ayahnya mencari penggenap dirinya. Pak Waluyo, sopir ayahnya, sudah melambai. Pak Juanda tiba-tiba menepuk kembali bahunya.

Oiya, sebelum pulang, Siti Soraya Cassandra sangat mencintai anthurium. Tesis masternya tentang anthurium di Karanganyar. Kamu tidak akan merugi membawa gelombang cinta. Ia adalah anthurium bungsu di keluarga kami. Cintailah ia.”

Pak Juanda segera melambai taksi dan pergi.

Maya seperti tersemen kakinya. Ada jutaan gelombang di hati yang belum bisa dihentikan resonansinya.(*)

Anthurium Plowmanii Croat atau Anthurium wave of love: tanaman hias lebih populer gelombang cinta

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s