Cerpen

Hidangan Tazkia

(Majalah Paras, Ed. Mei 2013)

Majalah Paras Mei 2013 - Copy

Banyak bujang bermimpi memperistri gadis dari keturunan kaya. Dalam kelakar mereka masih sering terdengar, “kalau bisa yang anak tunggal, kaya raya, orang tuanya sudah sepuh sakit-sakitan. Itu seperti nemu bintang di jalanan”. Bahkan hukum yang diwariskan nabi adalah kalau bisa memilih pasangan yang rupawan, bangsawan, hartawan dan agamawan. Itu mungkin juga sedang menimpaku. Tazkia adalah putri pengusaha meubel taraf ekspor. Pertimbangan terkuatku untuk mengajukan lamaran kepada Tazkia bukan hanya fakta keluarganya yang kaya, tetapi keuletan dan kesediannya memulai semua dari nol denganku. Pergunjingan bahwa aku menikahi Tazkia karena ingin mencicip harta mertua, kuanggap angin pertama dalam pelayaran pertama gandole rumah tanggaku. Aku menahkodai Tazkia.

“Mas, kalau masak tumis kangkung pakai ketumbar?” Tazkia bertanya demikian di hari pertama setelah aku memboyongnya ke rumah kontrakan. Jangan samakan besarnya dengan rumah mertuaku.

Nggak perlu, nanti langu. Cukup bawang, cabai, garam, gula sama sedikit lada. Kasih daun bawang juga boleh.” Aku masih merapikan tumpukan nota yang harus kurekap. Toko bahan pakaian yang sedang kurintis harus dicek berulang, agar dapat dipastikan berapa keuntungan yang masuk ke dompet keluarga.

“Mas, kangkungnya dipotong seberapa?” Tazkia masih bertanya dari dapur.

“Jangan terlalu kecil. Nanti mimpes, tambah kecil.”

“Mas, lada itu yang ini atau ini.” Tazkia tiba-tiba melongo dari daun pintu. Tangannya membawa dua lodong berisi lada dan ketumbar yang secara aroma sudah jelas berbeda. Dengan senyum, kutunjukkan yang disebut lada, merica atau pepper itu.

“Mas, ini dimasak berapa lama?” aku mulai kesal. Tapi akan tidak enak terdengar, kalau hanya perkara kangkung harus bertengkar. Aku ke dapur. Kulihat kangkung sudah mimpes dan airnya tandas menguap. Gosong. Alamat sarapan pagi ini hanya dengan telur dadar yang Tazkia aduk tidak merata.

“Wah, ini kelamaan Dik. Lima menit sudah cukup. Biar masih renyah saat dikunyah.”

Tazkia malahan tersenyum. Kukecup dahinya. Pagi itu biar Tazkia yang mengurus nasi di ricecooker. Aku mengambil alih tugas dapur. Kukocok telur, potongan daun bawang, garam, cabai, dan tambahan sosis. Pagi itu kami sarapan nasi pulen putih, omelet telur, dan susu kedelai.

***

Benar sekali. Tazkia tidak pandai memasak. Wajar saja. Kehidupan berkecukupan membuatnya sangat minim berhubungan dengan perkakas dapur. Tangannya terlalu mulus untuk menguleg bumbu. Cukup memanggil si khodimah (pembantu rumah tangga) untuk melakukan perintah Tazkia. Semua beres. Kepingin makan enak, Tazkia bisa delivery-service dari restoran,atau keluar mengendarai CRV, lantas memilih sendiri restoran mana yang disenangi.

Sejak indekos SMA, aku terbiasa dengan urusan masak-memasak. Semacam usaha untuk menekan pengeluaran uang saku. Untuk urusan oseng-oseng, sayur asem, mie goreng, bikin tongseng, lodeh nangka aku lumayan jago.

Mungkin ini risiko. Risiko mendapat istri yang kebetulan belum pandai memasak.

“Mas, maafkan adik ya? Adik belum bisa memasakkan sarapan.” Tazkia bermuka sembab. Jilbab merah marunnya mempertegas pias manis di wajah yang masih kuyu dengan air mata. Dengan ujung kemeja, kuusap pojokan mata dan kupeluk agar tidak terlalu lama bersedih.

“Sudahlah. Semuanya butuh belajar. Aku juga minta maaf. Kalau aku tidak ngeyel agar kita mandiri, kamu nggak perlu bersusah payah seperti ini.”

“Mas, ini adik yang salah. Tidak belajar masak sejak dulu.”

“Sudah. Ini waktunya kita belajar saling mengabdi, Dik.”

Mudah untuk mengijinkan Tazkia menerima kiriman khodimah dari orang tuanya. Tetap kukuatkan Tazkia, bahwa ini proses belajar saling berbakti. Tazkia belajar menjadi istri yang melayani suami, dan aku belajar menjadi suami teladan penuh tanggung jawab. Tetapi tetap saja, Tazkia selalu memasak nasi goreng dibumbui kunyit. Sayur asam yang aku sering keliru mengunyah asam jawa, yang kukira potongan landung samur. Atau membuat pisang goreng berselimut tepung mentah untuk menemaniku lembur rekap nota hingga malam. Belum matang. Tazkia menyajikan rawon begitu dia menyebutnya. Itu lebih mirip sayur kecap berisi daging. Tak ada aroma kluwak, tak ada aroma harum kemiri. Kurang bumbu.

Tugasku saban akhir pekan adalah mengajarinya memasak. Lumayan cepat Tazkia belajar. Sebulan kemudian, Tazkia sudah pandai meracik bumbu untuk oseng-oseng kacang panjang. Tetapi hanya karena bisanya baru itu, terus-terusan Tazkia memasak jenis oseng-osengan. Oseng kacang, oseng kangkung, oseng terong, oseng tahu, oseng oyong, dan aneka kombinasi sayuran dan tahu, tempe yang dioseng. Untuk membunuh kebosanan lidah, aku ingin makan daging.

“Tazkia, besok beli daging ya? Sepertinya kita sudah lama tidak makan daging. Beli khas dalam, nanti disemur.”

“Bumbunya mas?” Tazkia bertanya penuh keluguan. Wajahnya tetap ayu meski tanpa dipulas make-up ala artis-artis sinetron.

“Coba kau tanya Mbah Google.” Aku cubit kecil pipinya yang kenyal.

“Siap, Mas. Nanti kumasakkan semur daging ala Chef Tazkia.” Dia ingin menirukan gaya seorang celebrity chef di televisi.

“Kamu lebih cantik darinya. Jangan ikut-ikutan gayanya,” kubisikkan di kuping Tazkia.

Aku ke toko bahan pakaian dengan sepeda motor lima belas menit. Meski dari toko itu belum banyak menghasilkan pundi rupiah, aku tetap bangga. Aku bisa menghidupi Tazkia dengan hasil keringatku sendiri dan yang pasti halal. Sore hari aku pulang. Sudah kubayangkan Tazkia memasak semur daging. Asapnya mengepul dan aromanya menusuk-nusuk hidung. Pasti enak, dengan bantuan google kuyakin Tazkia bisa merampungkan semura dagingnya. Untuk menambah kesan makan malam paling enak, kubeli beberapa buah kesukaan Tazkia. Anggur, delima, jeruk Pontianak dan seplastik kelengkeng.

“Tazkia?” aku tidak menemukan Tazkia. Buku resep karya Sisca Soewitomo terbuka dengan beberapa sisi basah oleh cairan. Daging khas dalam terjarang hangus di atas kompor yang mati. Dapur kacau. Mirip paska praktik tata boga anak SMA. Tazkia sesenggukan di kamar.

“Tazkia?”

“Maafkan aku, Mas. Aku belum bisa memberikan bakti. Bahkan untuk sekadar semur daging aku gosong memasaknya, Mas. Maafkan aku, Mas.”

“Masih belajar, Dik. Sudah jangan menangis. Ayo sudah azan magrib. Biar Mas pesan ayam goreng di warung depan. Yuk bareng-bareng beresin meja makan. Mas bawa delima favoritmu.”

“Mas…” Tazkia memelukku dan masih sesenggukan.

Malam itu kami makan malam dengan ayam goreng dari warung tenda depan rumah. Daging khas dalam kami buang.

Untuk mengurangi emosi di rumah paska insiden semur daging, setiap pagi akulah yang bertugas menyiapkan sarapan. Makan siang aku bisa makan nasi rames atau padang di toko, dan makan malam Tazkia lebih sering membelinya di warung. Sambil itu Tazkia masih sering melakukan uji coba memasak. Kualitasnya membaik, meski belum pantas disebut makanan enak. Tazkia terus mencoba.

Aku menyaksikan Tazkia ulet terus berusaha. Menambah keahlian meracik bumbu dan mematangkan masakan. Memang terlihat kemajuan Tazkia. Aku sudah bisa menikmati mendoan yang kaya bumbu. Atau ayam goreng, yang tidak melulu bertepung instan seperti dulu. Kuacungi jempol Tazkia, yang sudah susah payah mencoba menjadi istri yang paling baik. Dan yang paling kusayangi. Tangan halusnya sudah terbiasa dengan perkakas dapur.

“Mumpung sedang ada untung lumayan. Tidak salah memberi kado Tazkia. Atas perjuangannya, atas kesediaannya berjuang dari nol. Tazkia, tak salah aku memilih menjadi peneman hidupku.”

Aku membeli sebuah gamis warna hijau berenda. Simple dan tidak terlalu tua. Kubelikan juga pasmina, yang kata penjaga gerai senada dan semakin cantik kalau dipadu-padankan dengan gamis. Kubungkus dengan kantong kertas warna merah jambu. Kado istimewa atas kerja keras Tazkia selama empat bulan pertama.

Tazkia tidak ada di ruang tengah. Rumah sepi. Rapi. Meja makan ditutupi tudung saji. Aku masih mencari Tazkia.

“Tazkia? Mas pulang. Mas ada hadiah buatmu. Tazkia, istriku tercinta. Di mana kamu, sayang?”

Gelap. Tazkia menutup mataku dari belakang. Kejutan.

“Tenang Mas. Ikuti saja Tazkia.”

Aku senyum saja sambil mengikuti Tazkia yang menuntunku. Aku didudukkan di kursi meja makan. Terang, mataku di buka. Tazkia memakai gamis panjang biru tua, jilbabnya berenda warna putih. Dan yang paling kusuka adalah sebuah bros berbentuk kupu-kupu menjepit lipatan jilbab di sekitaran dada. Tazkia memakai parfum aroma vanilla.

Surprise!! Kejutan! Ini semur daging yang Mas dulu minta. Tazkia masakkan istimewa, dan tenang ini dijamin nggak gosong. Rasanya Mak Nyus. Sudah kuuji. Enak, Mas.”

“Sebelumnya, atas keuletanmu. Mas ada hadiah. Ini dari uang halal. Semoga kamu suka.” Tazkia membuka kado. Matanya membulat, senyumnya tumbuh menggeliat dan pipinya merah tomat.

“Ini indah sekali Mas. Tazkia suka. Sini Tazkia, ambilkan nasi dan semur dagingnya.”

Tazkia meraih piring di hadapanku. Disendokkannya nasi dan potongan daging semur beserta kuahnya. Kucicipi. Enak. Benar-benar Tazkia memberi kemajuan yang luar biasa hanya dalam masa empat bulan.

Lazisso.” Aku membuat gerakan tangan penanda bagus.

“Ada satu lagi. Ini baru permulaan.”

“Apa lagi? Steak? Atau pisang goreng raja?”

Tazkia tersenyum. Dan menyuguhkan kotak kado warna biru.

“Kamu hamil Tazkia.” Aku nanar dan haru menyaksikan test pack yang bertanda positif.

Tazkia mengangguk. Ini benar-benar hidangan terlezat dari Tazkia. Semakin sayang aku padanya dan calon bayi di rahimnya. (*)

NB: Hadiah kecil untuk seorang yang akan memasakkanku kelak

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s