Cerpen

Hujan di Kedai Kopi

(Majalah Sekar, 6-20 Maret 2013)

Majalah Sekar (1) Maret 2013 - Copy

Aku bersyukur alam menurunkan hujannya. Aku ada alasan berlama-lama di kedai kopi,menyeruput robusta coffee dan sekerat chocolate mousse. Biasanya sebelum petang, saat matahari memampang keindahan senja romantis, aku sudah pulang. Malam ini aku ingin menghabiskan malam tanpa harus kukecup kening Maina, istriku. Dia memang terlalu indah untuk tidak kukecup saat membuka pintu rumah untukku. Kalau malam ini aku pulang larut, pastilah dia sudah payah dan tertidur di sofa. Saat Maina membuka pintu rumah sambil mengucek kantuk, tentu dia sudah tak lagi bernafsu untuk menanti kecupan bibirku di keningnya.

Deretan mobil stagnankarena hujan turun berdebam. Suara klakson memburu. Banyak yang ingin segera pulang, tak ingin berlama-lama terjebak guyuran hujan. Terpaksa menunggu taksi, karena payung dan jas hujan luput diselipkan dalam tas kerja. Tak banyak yang mau naik angkot atau jalan kaki kala hujan, terlebih ini malam. Para pekerja yang sudah lelah, sering melambai ke arah taksi lewat. Namun seketika wajahnya langsung kuyu kecewa, taksi sudah bertuan-puan. Hampir semua taksi menyalakan kotak tanda sudah penuh, diisi penumpang. Dalam hati mereka ingin segera pulang dan menyimpan badan mereka di bawah selimut tebal. Tetapi untuk berjingkat lari sepanjang trotoar di bawah lebat hujan, mereka berpikir dua atau tiga kali. Flu, demam, masuk angin atau sakit yang muncul karena kehujanan. Jam kerja besok masih tetap sama, jam sembilan, kalau terlambat bisa berimbas pada kelanjutan profesi.

Aku tersenyum, karena tak perlu menembus hujan, atau berdiri mematung di pinggir jalan. Kurasai malam dengan minuman dan makanan hangat. Kedai kopi hangat padat. Hampir semua meja dipenuhi dua atau tiga orang. Mereka juga enggan segera keluar untuk pulang. Meski beberapa orang yang baru datang terpaksa kembali pergi karena tak ada meja kursi tanpa ada isi. Yang masih di dalam berlama-lama berbincang dan berulang kali memanggil pramusaji menambah pesanan.

Kupanggil pramusaji dengan scraftwarna jingga. Kali ini kupesan tambahan air putih hangat. Aku jadi teringat Maina, dia selalu menyajikan air putih hangat dengan madu kalau aku pulang kehujanan. Kucium semerbak aroma parfum daun dari leher tinggi pramusaji. Aroma segar, semakin menghangatkan suasana dingin malam. Saat itu ada lelaki segar dan wanita berambut perak memancar. Si lelaki kutaksir usia dua puluh limaan. Pikiranku berkelebat kepada wanita-wanita tua, janda, yang sedang merindu hangat cinta dengan lelaki muda. Jangan terlalu banyak prasangka. Aku juga sedang terjebak dilema.

Sebelumnya juga ada banyak pasangan yang ingin merapat mendapat rasa hangat. Mereka seperti para pasangan yang sedang ingin menghabiskan malam. Menikmati segelas kopi dan sekerat bolu cokelat, sambil bercengkerama dan memadu keromantisan. Hujan memang membawa aroma cinta. Seharum aroma kopi tenang. Hujan-hujan membasahi perasaanku untuk berlama-lama duduk menanti Sandra, yang bukan istriku. Maina tentu sedang menantiku di meja makan dengan menu makan malam lengkap. Atau sedang duduk di kursi tamu menungguku, usai menina-bobokan anak kami. Sedikit terantuk-antuk. Maina bekerja sebagai interior designer. Meski ruang kerja berada di rumah, tetapi deadline klien pasti membuatnya lelah. Belum lagi, pekerjaan rumah yang harus sesekali diawasi. Tetapi aku sekarang sedang duduk di kedai kopi, menikmati robusta dan sebentar lagi ada gadis yang duduk satu meja. Membicarakan cinta.

Mataku menyapu daun pintu. Kuingin Sandra segera datang dan aku bisa lekas pulang. Meski sedang berselingkuh, aku tak ingin Maina harus menunggu hingga larut malam. Selalu kuawasi daun pintu. Setiap ada tanda pintu akan terbuka, kuberharap agar Sandra-lah yang membuka.

Seorang lelaki bermantel warna cokelat terang masuk, menarik pintu dari kayu meranti.

Dia menutupi setelan jas berdasi biru laut bergaris putih awan dengan mantel tebal yang menjuntai hingga lutut. Setelah menggantungkan jas di tempat gantungan yang disediakan kedai, dia mengedarkan pandang mencari tempat kosong. Matanya berputar mencari kursi kosong. Sepertinya kecewa. Tetapi dia tetap berjalan ke arah meja resepsionis, dia ingin memastikan. Tetap tak berhasil. Dia berdiri menatap kosong. Aku mengira dia sedang mempertimbangkan untuk berganti kedai atau pulang dengan risiko kehujanan. Kupandangi tepat di matanya dan kuanggukkan kepala. Dia membalas dan berjalan ke arahku.

Berbagi meja tak menjadi masalah.

Mungkin sebelumnya dia berlari-lari dari kantornya menuju kedai ini. Tempat ini memang yang paling dekat dengan kompleks perkantoran. Bisa saja, dia akan bertemu dengan klien, kawan lama atau simpanan kencan. Usianya sepertinya tidak jauh berbeda denganku. Dia memberikan senyuman yang sekali luncur mampu meruntuhkan pertahanan kesetiaan perempuan. Sikapnya yang bersikukuh untuk tetap masuk ke dalam kedai yang penuh, tentu ada sebuah janji penting yang harus di tepati. Janji dengan perempuan tentu hal yang istimewa bagai pegawai kantoran dengan paras gagah menawan macamnya.

“Kosong? Boleh saya bergabung.”

“Sebenarnya saya sedang menunggu seseorang. Sebelum datang, bolehlah duduk.”

Dia menggeret kursi yang didesain menarik dengan busa yang bermotif mawar marun, kayunya licin terpelitur emas. Dia masih mengedarkan senyuman.

“Randy,” dia mengulurkan tangan.

“Nicolas.” Kami bersalaman, berkenalan.

“Sepertinya sedang menunggu pacar?”

“Tidak. Hanya teman lama yang ingin bertemu. Bukan teman lama, juga sih. Hanya teman.” Aku gugup. Aku ketakutan menjelaskan siapa yang sedang kutunggu. Tentu aku ketakutan kalau sampai ini terendus banyak orang.

“Aku paham. Suami memang mudah sekali bosan dengan istri. Butuh hal baru pengurang ketegangan di kantor.”

Randy kurasa juga sedang merencanakan hal yang sama denganku. Ini tentu menarik. Dua lelaki muda, pekerja kantoran, masih dengan setelan kemeja dan dasi rapi, sedang duduk satu meja yang sama-sama menunggu kawan berkencan. Anehnya berdua tidak pernah saling bertemu sebelumnya. Karena hujan lebat memaksa kami harus duduk satu meja.

“Di sini memang paling nyaman. Suasananya romantis. Temaram lampu dan aroma kopi yang menyodok hidung, bikin tambah sedap. Apalagi hujan,” Randy sedang membolak-balikkan buku menu.

“Benar. Pantas di sini ramai. Selain hujan membuat banyak orang berlama-lama.”

Yap!” Tangannya dilentikkan dan mengeluarkan bunyi sepeti pelatuk. Pramusaji yang tadi menebarkan aroma parfum daun datang dan mencatat pesanan Randy. Dipesannya cokelat panas dan baked banana dengan srikaya jam. Pramusaji yang datang –lirikanku mendapatkan namanya dipeniti di dada- bernama Arimbi. Mengulum senyum dan menyapa ramah. Senyum dan ramah yang palsu, hanya pemulas bibir dari keletihan.

***

Randy terus saja bercerita tentang kerja dan hidupnya. Randy menjadi manager keuangan di sebuah CV pelayanan jasa cargo ke luar negeri. Kebetulan gedung kantor kami bersebelahan. Mungkin aku dan Randy pernah bertemu di foodcourt, arena makan siang terdekat dengan kantor kami. Randy bercerita bahwa main mata –Randy tak mau menyebutnya selingkuh- sangat dibutuhkan lelaki di usianya. Apalagi ketika istri sudah mulai tercium ada affair dengan lelaki lain, maka tidak ada alasan lain selain ikut bergabung dengan gerbong lelaki hidung belang. Randy mengakui sedang punya affair dengan sekretaris di kantornya. Tetapi ternyata malam ini Randy tidak sedang bermadu cinta dengan sekretarisnya, tetapi hanya ingin menghirup kopi khusus di kedai ini.

Itu Randy. Tetapi aku? Aku tidak memiliki alasan khusus untuk melakukan perselingkuhan. Maina adalah wanita sintal, badannya segar, senyumnya menawan bahkan kuakui Maina pandai dan hangat di permainan ranjang. Dia bekerja dan tak pernah melupakan tugas sebagai ibu. Dan aku juga yakin, selingkuh adalah kosakata yang sudah lama dihapus oleh pikirannya. Maina terlalu sempurna untuk dikhianati. Hanya aku saja yang mudah sekali tergoda dengan Sandra, mantan pacar semasa SMA, yang tanpa sengaja kutemui di antrian panjang membeli Breadtalk.

Kami dipertemukan setelah hampir sepuluh tahun tak pernah bertemu. Kami bertukar kabar, saling berbagi nomor ponsel dan pin BlackBerry. Bahkan dengan lugas dia bercerita tentang masa indah saat kita sedang berpacaran masa SMA. Aku sebenarnya risih. Tetapi aku menikmati saja. Aku menikmati, saat siang itu dia mendaratkan kecupan di pipi. Bibirnya yang dipulas delima, manis dan empuk mengesun pipi.

Tanpa sepengetahuan Maina, Sandra menelepon dan memberi pesan. Sebagai tanda kupasang Menghitung Hari, milikKrisdayanti untuk setiap panggilan Sandra. Lagu favorit Maina. Sandra bercerita segalanya lugas. Beberapa pertemuan setelahnya, aku terjebak hujan. Terpaksalah kami berdua bermalam di hotel dan kami berbagi kehangatan. Kehangatan yang seharusnya hanya kubagi dengan Maina. Malam itu Sandra mencecap hak Maina. Kukirim pesan kepada Maina, bahwa aku sedang lembur. Tanpa kujelaskan bahwa aku sedang lembur dengan Sandra.

Randy terus saja bercerita. Tanpa kutanggapi.

“Melamun?” Randy memotong lamunanku.

“Aku mulai bosan menunggunya. Seharusnya dia datang, setengah jam yang lalu.” Masih kusapu pandangan, siapa tahu Sandra masuk mencari mejaku.

“Malam ini, kamu ditakdirkan untuk segera bersama istrimu.”

“Mungkin benar.”

Randy gusar. Wajahnya tak lagi terang. Mungkin dia juga gelisah sepertiku. Antara melanjutkan atau urung pulang. Randy menghela napas dalam.

“Mengapa kamu terlihat gelisah?”

“Sebenarnya istriku sedang hamil tiga bulan sekarang.”

“Selamat. Dan seharusnya kau segera pulang, menjaganya. Saat istriku hamil, aku seperti dokter pribadinya,” aku memberi senyuman untuk Randy.

“Tetapi…”

“Jangan terlalu membatasi diri. Segeralah pulang, aku juga ingin segera membatalkan janji dengan kekasihku. Istriku terlalu mulia untuk diselingkuhi.”

Randy menarik napas dalam. Kemudian menatapku ingin menyampaikan sesuatu yang besar.

“Nico, terimakasih sudah memberiku kursi malam ini. Aku juga berterimakasih atas kebaikanmu.”

“Kebaikan apa?”

“Berkat kamu, Sandra hamil. Aku sudah divonis dokter mandul. Sekali lagi terimakasih.”

Hujan berhenti melukis garis di kaca. Mobil masih berjajar mengantri pulang. (*)

Untuk Kurnia Effendi

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s