Cerpen

Tepat Pukul 3:45

(Tabloid Cempaka, 9-15 Maret 2013)

Tabloid Cempaka Maret 2013

Aku sedang menunggumu. Aku duduk di beranda. Di meja tersaji dua gelas teh rosella, masing-masing satu untuk kita, dan sekerat pisang goreng disiram madu. Aku lebih tertarik untuk menyeruput teh rosella yang mengepulkan asap. Setelah hujan, angin gemerisik pelan, hawa dingin mencakar badan lebih tajam dari jarum jam. Pandanganku tidak goyah, lurus tertuju pada gerbang pagar rumah. Selalu kuharap dirimulah yang belok dan masuk ke halamanku. Bukan penjaja gorengan, penyunggi sate ayam, penjahit sol sepatu atau hanya tukang batu yang menumpang meneduh. Mana dirimu?

Cahaya matahari remang, tidak kuat menembus sisa mendung. Terlalu tebal. Ketika hujan mereda, jalanan depan rumah seperti aliran orang dengan aneka beban tugas. Mungkin juga dirimu ada di antara mereka. Mengetuk pintu-pintu rumah, mengambil barang-barang loak yang tidak bisa dipergunakan kembali. Hanya saja kamu tidak akan setiap hari berkeliling kota. Perlu membuat janji. Dan aku sudah membuat janji, pukul tiga lebih empat lima. Di hari jumat ke dua bulan ini.

Aku ingin memberikan semua barang-barang yang tidak lagi bisa kupergunakan. Aku sudah terlalu tua untuk memakainya. Segelas teh rosella sudah mulai dingin.

Sekarang sudah hampir jam yang kita janjikan. Pikiranku mulai mencari-cari cara bagaimana agar semua barang ini musnah dari hadapan. Tidak ingin rumahku penuh dengan perkakas-perkakas aus. Televisi tabung hampa yang sekarang sudah digusur dengan televisi LED, mesin ketik yang beberapa tombol huruf rompal tertekan selama aku menulis cerita, novel dan drama. Kamu tentu tahu itu. Bohlam-bohlam kuning sepuluh watt yang sudah putus. Pena-pena senjataku menuliskan ide. Tumpukan buku, rak-rak soak, sepatu berdebu dan pakaian usang yang robek di beberapa bagian. Mereka sudah kutumpuk meninggi di depan pintu. Akan aku apakan kalau kamu belum juga datang?

Rintik hujan mulai satu-dua membesar. Kubayangkan kamu membawa gerobak kayu besar yang ditarik dengan tampar di punggungmu. Tentu kamu kepayahan membawa barang-barang bekas itu. Kuingat penghuni perumahan ini adalah pensiunan semua. Tentu mereka mempunyai barang-barang lama yang ingin dibuang. Seperti diriku pula. Dan aku juga tidak mengerti apakah mereka juga membuat janji denganmu jam, menit dan hari yang sama denganku. Itu keajaiban.

Tetapi kalaupun tidak sama, aku mengingat kamu terlalu baik untuk menolak tawaran orang untuk mengangkut barang bekas dari rumah mereka. Kamu selalu mengatakan iya. Padahal tentu kamu sudah mempunyai janji dengan orang lain. Aku pernah sekali ingin membuang semua Teddy Bear punya anakku. Benda itu mengingatkanku kepadanya yang sekarang tidak mau lagi mengunjungiku. Terlalu sibuk dengan ratusan pekerjaan.

“Sebenarnya aku  sudah ada janji dengan Pak Mulawarman, pensiunan ABRI yang di pojok kelokan gang,” kamu ingin berkata tidak.

“Pak Mulawarman? Ingin membuang apa dia?”

“Senjata, peluru dan seragam lorengnya ingin dibuang. Aku janji pukul sebelas tepat. Pak Mulawarman tidak mau molor barang semenit.”

“Sebentar saja. Hanya ada dua ratus Teddy Bear, juga boneka-boneka lain milik anakku. Boneka itu ingin kubuang,” kutengok jam. “Masih ada lima belas menit. Kalau kamu cepat, pasti bisa menyusul.”

Kamu terlihat menimbang-nimbang. Mungkin mengukur kecepatan dan daya tampung gerobakmu apabila ditambah dengan barang bekas itu. Meski tidak seberapa dan sudah kukemas dalam kardus-kardus bekas mie instan. Tetapi andai ditambah kembali dengan barang Pak Mulawarman tentu gerobakmu akan muntah.

Siapa tahu kamu juga sedang diminta secara paksa oleh Pak Sulaiman, Pak Jazuli, Bu Mumtahanah, Pak Johanes, Pak Polandri, atau siapa saja. Itu yang membuatmu sekarang belum juga datang. Kamu pengepul barang bekas yang terlalu baik.

Apa harus kubakar semua ini? Tidak mungkin. Langit sepertinya akan mengencingi bumi dengan hujan kembali. Rintik-rintik semakin membesar. Aku tidak bisa membuat api di halaman. Percuma. Api akan kembali padam. Membakar di rumah? Itu tindakan konyol. Hanya cucuku bersama teman-temannya yang membuat api dari kayu sengon di lantai ubin dapur. Mereka ingin mempraktikkan cara narator acara petualangan di televisi membuat api. Itu kekonyolan.

Satu-satunya yang kulakukan adalah menunggumu. Siapa tahu kamu memang sedang terhenti perjalanan. Mungkin saja ban gerobakmu meletus. Velg roda gerobakmu patah, atau mungkin saja sakit wasirmu kambuh. Dan kamu tak mampu menggenjot gerobakmu.

Kalau saja kamu mau kuberikan telepon genggam bekas milikku, tentu aku bisa mendapatkan kabar darimu. Dan tak perlu melakukan persiapan menyambut kedatangamu. Ini juga menjadi seni mengundangmu. Harus membuat janji beberapa hari sebelumnya.

Aku masih menunggumu di beranda, aku memakai pakaian paling baru. Karena pakaian lamaku akan kuserahkan kepadamu nanti. Segelas teh rosella sudah dingin. Kudapan tak kusentuh. Dan rintik semakin melebat. Sudah lewat lima belas menit dari jam yang kita janjikan.

Dirimu ternyata tidak datang. Hingga petang kutunggu. Gerobakmu urung masuk ke halaman. Meski kecewa, aku tidak marah kepadamu. Mungkin karena hujan. Mungkin juga karena dirimu sedang mengangkut barang orang lain. Hingga gerobakmu penuh dan tidak muat lagi ditambahi barang-barangku. Kubawa masuk pinggan nampan. Kutertatih perlahan. Agar cangkir, cawan dan piring tidak jatuh berdenting.

***

Kuamati kembali barang-barang bekas itu. Dahulu barang-barang itu begitu besar kubanggakan. Sekarang menjadi lusuh tidak ada manfaat. Bahkan seorang gembel pernah sekali menolak pemberian televisi tabung hampaku.

“Buat apa Pak? Di rumah sudah ada televisi yang nggak cembung kaya gitu. Berat-berat bawanya. Nanti dirumah juga dibuang.”

“Ini bisa dijual,” aku membujuk. “Kamu bisa memilih barang-barangku di dalam. Pilih mana yang bisa kamu manfaatkan.”

Aku giring dia masuk ke dalam. Aku tidak peduli kakinya kotor tahi jaran, baunya seperti got mampet sebulan. Biar. Yang penting aku berharap dia mau membawa barang-barang itu pergi dari rumahku.

“Ini mau dijual?” dia justru tertawa lebar setelah melihat benda-benda tuaku. “Rupiahnya tidak sama dengan lelahnya, Pak. Mending bapak kubur saja. Aku bisa membuat liang untuk mengubur barang tak laku ini.”

“Maksudmu?”

“Aku mau pulang, itu maksudku.”

Dia pergi begitu saja. Tidak ada respon. Hanya jejak tapak kaki yang mengecap hitam di keramik warna metalik.

Apa mungkin kamu lupa pada janji? Apa mungkin harus kuikuti gembel busuk untuk mengubur semua barang-barang tuaku?

***

Sudah hampir seminggu kamu tak juga datang. Aku sudah membeli semua barang-barang baru. Tentu barang lama harus segera kupindahkan. Kunanti dirimu, belum juga datang.

Atau kukubur saja barang-barang bekasku. Seperti nasihat gembel dulu. Tetapi sebaiknya aku menunggu hingga hari jumat. Siapa sangka kamu lupa pada jumat minggu keberapa. Sebaiknya demikian. Kutunggu hingga lusa, hari jumat. Tepat pukul tiga lebih empat lima. Kalau memang kamu tidak datang, terpaksa kukubur semua.

Kalau boleh memilih aku lebih suka menyerahkan barang bekas ini kepadamu. Kamu mampu mendaur ulang hingga menjadi barang-barang yang lebih bagus dipandang. Kamu mengurai benag-benag di pakaian bekas menjadi pintalan benang yang dijual mahal. Atau kamu preteli baut-baut, kemudian dijual per kilo. Kamu kreatif untuk mengelola barang ausku.

Waktu lebih dulu berlari ketimbang aku. Aku tercekat ketika kubuka buntalan pakaian yang ingin kurapikan. Semuanya apak, tengik. Terlalu lama disekap dalam buntalan, hingga tidak ada udara dan suplai oksigen masuk ke sela-sela lipatan pakaian. Kudedah. Kuhamburkan agar mereka tampak segar, sebelum lusa kukubur di pekarangan.

Saat itu baru kusadari, sudah terlalu tua ternyata barang-barangku itu. Kusaksikan barang-barang sudah berubah warna. Sepatu kulit buaya yang dulu cokelat sekarang abu-abu kisut. Tumpukan buku yang dahulu putih sekarang mulai membiru pucat. Tas kulit dari Italia pun sekarang sudah berubah menjadi putih pasi. Tali-tali pengikat celana sudah kendor, kabel-kabel telepon lemas memanjang. Televisi mati. Mesin ketik berkarat tidak berbunyi. Pemanas kopi dingin meski sudah disambung listrik.

Aku terkaget. Kakiku tanpa sengaja menginjak sebotol wishky. Pecah. Menguarkan aroma busuk. Sepertinya itu bukan wishky. Itu kencing kuda yang difermentasi.

Kualihkan kepada tumpukan bola golf. Bola golf itu berselaput. Menjijikan dan mengerikan.

Aku tak kuasa melihat. Kututup kembali. Aku ke kamar. Mungkin besok saat kamu datang, kuserahkan saja kepadamu. Aku tidak mau melihat barang-barang tua yang mulai membusuk itu.

***

Benar. Akhirnya kamu datang lima menit sebelum pukul tiga lewat empat puluh lima. Gerobakmu kosong, momplong. Kamu lupa hari ternyata.

“Kamu sudah pelupa ternyata,” kusapa dirimu, sebelum kamu parkirkan gerobak dan masuk ke beranda. Untung langit tidak lagi mengencingi dengan hujan.

“Ada yang harus didahulukan.”

“Kebiasaan. Kamu itu terlalu baik.”

“Tidak ada alasan untuk menolak. Pekerjaanku yang seperti itu. Siapa yang harus didahulukan. Dan siapa yang harus ditunda.”

“Sudah, kamu harus segera membawa semua barangku. Mereka mulai melapuk.”

Tanpa banyak bicara kamu kemasi semua barangku. Diikat dan dirapikan. Masih sempat kulihat tabung hampa televisi yang meletus, buku-buku yang lembab dan beberapa tulisan luntur. Tulisan di sertifikat penghargaan mulai luntur, menghilang. Tinta hitamnya meleleh. Bongkahan kenangan mencair.

“Sudah.” Kamu merampungkannya cepat.

“Terimakasih.”

Kucermati dirimu mengepak gerobak berisi barang-barang lawasku. Tidak lagi berharga di mataku. Melihat kondisinya yang busuk, basah, meleleh dan melapuk. Kenangan, repertoar dan masa lalu juga ikut sirna bersama gerobakmu. Kusaksikan rumahku kini sudah dengan barang-barang baru. Semua baru. Kembali kumengantarkan kepergianmu. Kamu sudah melepas penyangga di gerobakmu. Itu tanda kamu akan pergi.

“Sekali lagi terimakasih,” aku sedikit membungkuk.

“Ada yang tertinggal?” dia berhenti.

“Apa?” kumenoleh ke dalam.

“Itu…” dia seperti  menunjuk ke arahku atau kananku, mataku mulai lamur tidak jelas.

Aku tercekat. Tubuhku tiba-tiba lentur bak balerina. Tubuhku sedingin es batu. Hatiku sakit seperti ada yang menggerogoti. Kulitku mencair. Beberapa detik kemudian, ragaku kaku seperti mayat. (*)

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s