Cerpen

Cucak Rawa Kunge

(Koran Merapi, 3 Maret 2013)

Eyang Kakung (kami pangggil Kunge) memelihara burung. Setiap pagi dikeluarkan sangkar dan di-penter dikerek di tiang. Kunge ingin si Projo, burung Cucak Rawa berwarna putih itu tetap sehat dengan dijemur setiap pagi. Kerodong hitam yang buta menutupi kalau malam, dibuka. Si Projo terlihat segar setiap pagi.

“Kalau ditutup persis di sauna, Kunge.” Haikal, cucunya berceloteh.

Kunge meski sudah berusia hampir enam puluh tujuh, setiap pagi bangun sebelum azan subuh. Setelah pulang dari masjid, Kunge berjalan-jalan tanpa alas kaki di sekitaran kompleks. Keempat sangkar baru akan dipenter sekitar pukul setengah tujuh. Selain voer Kunge kadang memberinya buah segar (pepaya dan pisang kepok) dan extrafeeding, makanan tambahan berupa serangga (Jangkrik, Orong-orong, Kroto, Ulat Hongkong, Ulat Bambu, Kelabang atau Belalang) yang di beli di PATSY, sebelum Perempatan Dongkelan Bantul.

“Kalau makan pepaya jadi pintar ngoceh, Le.” Kunge bercerita kepada Haikal.

“Wah, Haikal mau rajin makan pepaya, Kunge. Aku mau jadi anggota dewan. Biar pintar ngomong.”

Hush… ora elok. Nggak baik.” Kakek menempelkan teleunjuknya pada bibir Haikal.

Kunge juga punya resep jitu untuk menjaga agar si Projo tidak penyakitan. Sambil menjemur si Projo, Kunge menyemproti dengan rendaman air beras dan suruh. Air itu dipercaya Kunge membunuh bakteri dan jamur di tubuh si Projo. Kalau sampai Projo terserang jamur di tubuhnya, si Projo akan malas berkicau dan menjabuti bulu-bulunya. Jangan sampai sakit dan mati. Kalau sampai mati Kunge bakal kesepian, karena si Projo kawan berkesah paska ditinggal Eyang Putri meninggal.

“Si Projo ini yang nemenin Kunge seharian. Si Projo setengah nyawa, mirip Eyang Putri.”

“Kunge berlebihan. Masa si Projo disamakan Eyang Putri.”

“Bukan disamakan. Si Projo ini tahu aja keadaan Kunge.”

“Hewan piaraan pasti nurut tuannya, Kunge.”

“Tapi sejak pertama lihat di PATSY, Kunge sudah jatuh cinta. Lihat saja cuek, ules, maupun kaki si Projo. Sempurna Le. Burung pilihan. Kunge juga dengar kalau Cucak Rawa punya katuranggan memperpanjang umur, makane dibuat sama Didi Kempot lagu campursari Cucak Rawa. Coba amati!”

Kunge mengelus si Projo setelah disemprot dengan cairan pembersih jamur itu.

“Ah Kunge….” Haikal merasa kalah debat. Jaman sekarang Kunge masih saja percaya katuranggan.

Si Projo dan Kunge seperti berjodoh.

***

Sore nanti akan diadakan pengajian memperingaji seribu hari Eyang Putri meninggal. Semua anak Kunge setiap hari ke rumah, membantu Mbak Mur, pembantu di rumah Kunge menyiapkan makanan. Kunge minta di seribu hari ini.  ingkung ayam ditambah burung dara pepes dan bebek goreng. Meski menyalahi budaya Jawa, semua anak Kunge merasa wajar. Kunge sudah sepuh, kadang permintaannya kurang masuk akal. Terpaksalah beberapa puluh burung dara dan lima ekor beber di potong. Ini membuat kerepotan Mbak Mur, yang jarang mengolah dua bahan tadi.

“Kunge kok minta burung dara, Ma?” Haikal menanyakannya kepada Bu Dhe Wanda, Ibunya.

“Kunge pingin makan. Haikal suka bebek kremes kan?”

“Asyiiik.” Haikal berlarian menuju Kunge yang duduk di beranda mengelus-ngelus si Projo.

Kunge masih memanjakan si Projo tanpa merasa repot sedikitpun.

“Kunge masih ngelus si Projo?”

“Si Projo sedih, Nang.” Kunge sedikit murung.

“Emang kenapa?” Haikal bertanya ingin tahu.

“Nggak tahu kenapa. Tiba-tiba si Projo murung nggak mau ngoceh. Padahal voer sudah, dijemur sudah, lah sekarang dielus juga. Bingung Kunge?”

“Nggak sakit kan Kunge?”

“Sepertinya Eyang Putrimu sudah datang. Tanya Mamamu, sudah disiapkan belum buat Eyang Putrimu.”

Kunge minta di meja rias Eyang Putri disajikan kopi susu tidak terlalu kental, brutu ayam ungkep, putu ayu, kue talam, dan arem-arem isi sambal goreng ati. Itu jamuan untuk Eyang Putri, yang kata Kunge akan datang di perayaan seribu harinya. Semuanya adalah favorit Eyang Putri. Haikal sedikit kebingungan.

Haikal tidak terlalu paham. Dia justru sibuk dengan perangkat modernnya, tablet sentuh.

“Haikal kamu baca buku apa? Kok didudul-dudul gitu?” Kunge mendekati Haikal. “Sudah sana bilang ke Mama, untuk ngecek sajian Eyang Putrimu. Kunge mau jemur lagi si Projo.”

“Bentar Kunge, Haikal main facebook.

“Mainan apa itu?”

“Bisa lihat-lihat teman, Kunge. Haikal bisa nge-wall sama temen TK atau SD.”

“Nge-wall itu apa?”

“Tanya-tanya gitu Kunge.”

“Temen TK, SD-mu di Surabaya?” Kunge nanar kagum.

“Itu manfaatnya facebook Kunge.”

Kunge berdiri di atas kursi kayu menjemur si Projo dalam sangkar. Kemudian Kunge beringsut mendekati Haikal, duduk dan menyaksikan Haikal mencubit-cubit layar yang tidak dipahami Kunge. Kunge lebih mengerti bagaimana memilih burung yang baik ketimbang mencubit-cubit barang itu. Kunge sesekali tertawa terpingkal, menyaksikan kotak tadi muncul wajah seorang yang kata Haikal temen TK yang sekolah SMA di Jakarta. Kunge terkagum sekaligus mengurut dadanya. Si Projo masih diam, belum mengoceh.

***

Di dapur orang-orang sibuk mengiris berbagai bahan. Wortel, bawang, cabai dan rempah dihaluskan. Mbak Mur pandai mengulek dengan cobek besar berdiameter setengah meter, dengan duduk di atas dingklik kecil dilapisi beberapa kain untuk mengepukkan bokong. Anak-anak Kunge lebih memilih menyiapkan kue dan berkat di dalam kardus warna putih. Seperti biasa di tutup kardus berkas, ditulisi “Memperingati Seribu Hari Hj.Rubaidah Kartiani”. Anak-anak Kunge sudah tidak terbiasa mengulek bumbu dengan cobek, tangannya lebih lincah dengan blender atau grinder untuk melembutkan rempah.

Sebenarnya mudah bagi anak-anak Kunge memesan katering. Tetapi Kunge selalu rewel dengan katering. Selalu ada yang kurang dengan bumbu dan menu katering. Kalau sudah tidak suka, maka Kunge sama sekali tidak akan mau menyentuh. Kunge hanya melengos kemudian ngelonyor ke depan menuju sarang si Projo.

“Mbak Mur sajian di meja Eyang Putri sudah?”

“Sudah Bu. Sejak pagi sudah di sana.“

“Kunge tadi sudah minta. Katanya si Projo ngambek, karena belum ada sajian di meja rias Eyang Putri.”

“Kunge itu aneh, Cucak Rowo kok disamakan Eyang Putri.”

Hushhh…!!” Bu Dhe Wanda menegur Mbak Mur.

***

Si Projo masih saja murung. Sore nanti jamaah pengajian akan datang. Kunge sebenarnya ingin agar si Projo kembali berkicau menyambut jamaah datang. Orang sekompleks mengagumi kepandaian si Projo berkicau. Tapi sepertinya kali ini si Projo tidak bisa diajak kerjasama. Si Projo belum sumringah untuk berkicau dengan penuh gairah.

Semua sajian pesanan Kunge sudah disiapkan. Juga jajanan dan nyamikan tamu. Kardus-kardus putih yang nanti dibawa pulan tamu sebagai berkat. Semua senang, mungkin kecuali si Projo.

“Kunge mana?” tanya Bu Dhe Wanda kepadaku.

“Tadi sama Haikal. Di halaman main sama si Projo. Mereka terdengar cekikikan.”

“Sudah jam empat, Kunge belum mandi. Sebentar lagi tamu berdatangan. Coba kamu cari, sudah dijarangkan air Mbak Mur buat mandi Kunge. Kamu cari ya, Nang.

Kumasukkan ponsel ke dalam saku dan kuletakkan buku di meja. Meski meja penuh dengan piring, tapi masih ada sedikit sisa ruang pas untuk sebuah buku. Aku lewati menantu dan anak lelaki Kunge yang sedang asyik bergurau. Mereka membicarakan usaha-usaha mereka yang sukses. Kelima anak Kunge sukses menjadi pengusaha di Jogja, Surabaya, Jakarta dan yang paling jauh adalah ayahku di Samarinda. Aku celingukan mencari Kunge. Masih kudengar suara mereka, tapi tidak kuketahui di mana Haikal bersama Kunge.

Di halaman si Projo diam. Mlangkring di bilah kayu dalam sangkar. Kunge dan Haikal tidak ada di sana. Aku ke belakang, siapa tahu Haikal sedang duduk di tepi kolam ikan gurame. Main pancing atau apa.

Yang ada bangku kosong. Aku cepat masuk rumah. Gedebukan langkahku masuk dari pintu belakang. Suara Kunge sepertinya di kamar. Kunge harus segera mandi.

Belum kuketuk, Kunge sudah keluar dengan wajah bungah.

“Mas Lutfi, Kunge punya facebook. Tadi Kunge belajar facebook-an sama Haikal.”

“Siapa tahu, dari facebook bisa ngobrol sama Eyang Putrimu.”

Aku melongo. Ponselku bergetar ada notifikasi pemberitahuan. Sebuah permintaan teman di facebook atas nama “Kunge si Projo”. Kunge masih cengingisan, si Projo masih muram dan Eyang Putri mungkin sedang mengunyah-unyah kue talam di kamar. (*)

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s