Cerpen

Sialnya Gunar

(Solo Pos, 17 Februari 2013)

SoloPos 17 Februari 2013

Sial!! Gunar ngomel. Seharusnya pagi ini dia mendengkur, usai semalam memandikan lima korban kecelakaan di Jalan Lingkar Luar kota. Apa daya, pesan singkat dari bosnya untuk segera kembali ke rumah sakit tidak bisa ditampiknya. Memang orang kecil sering ditimpa kesialan. Sudah bekerja sebagai tukang mandi jenazah, masih harus ikhlas dijadikan tenaga perah. Siap kapan saja kalau bosnya memerintah.

Dengan mata masih ingin melekat, Gunar ke dapur bermaksud mengisi perutnya. Nah, istrinya sedang menyuapi Rudi, anak bontotnya yang ribut tak mau sarapan sebelum ke sekolah. Gunar jadi bertambah iba, anak itu harus tuntas hingga sarjana. Tak apa, harus menekan-nekan perut mayat. Asal perut sekeluarga diisi nasi.

“Sudah bangun?” Nah masih berusaha menyorongkan nasi ke Rudi.

“Ada panggilan. Kopi, Nah?”

“Buat sendiri ya. Rudi rewel.” Anak lelakinya sedang berlari-lari.

Dia ngeloyor masih mengatuk ditambah dongkol.

Gunar menuang air panas, dua sendok kopi dan sesendok gula. Gunar menyendok nasi dan ditumpuki mie. Dua tangannya penuh gelas kopi dan sepiring nasi.

Gedabruk…bruk!!

“Rudi!!!” Gunar membentak kasar.

“Apasih? Sama anak-anak saja marah.”

Celana Gunar basah oleh kopi. Mie dan nasi berhamburan di kaki. Gunar meninggalkan kopi dan sepiring sarapan. Matanya sudah menggebyar karena marah kepada Nah. Langsung saja dinyalakan motor dan berangkat. Berkali-kali pedal motornya diselah. Gagal. Dan hanya suara blegedes kedinginan.

“Ini motor juga ikut-ikutan ngadat!” Tidak ada tanda menyala.

Gunar ingin menendang motor bebek merah tahun 70an. Gunar mendorong motor sampai ke bengkel Munaji berjarak lima ratus meter. Tentu masih dengan perut keroncongan tak jadi sarapan.

“Busi mati, Pak Gun.”

“Diganti bisa? Aku buru-buru.”

“Bisa..!”

Gunar mengelus dasa, lega. Lima belas menit kelar. Gunar mencoba menstarter. Nyala tapi buru-buru Munaji menyela.

“Pak, sepertinya ban kurang angin.”

Munaji membantu memompa ban. Jungkat-jungkit kaki Gunar menumpu gerakan tangan menggerakkan pedal pompa manual. Berkeringatlah dan semakin melilit perutnya. Kalau tidak ingat rupiah upah, Gunar ingin kembali ke rumah dan berbaring tidur seharian.

Matahari sudah semakin tinggi. Bosnya pasti marah kepada Gunar. Ponsel bututnya berkali-kali bergetar. Itu pasti panggilan dari bosnya. Tidak digubris. Gunar terlampu kesal. Kalau sudah kadung demikian, bisa-bisa ponsel melayang. Ponsel itu cukup tebal untuk membuat anjing keliyengan.

Motor bebek dikendarai agak cepat. Jarak rumah dengan rumah sakit biasa ditempuhnya sekitar lima belas hingga dua puluh menit. Terburu-buru membuat perjalanan terkesan lebih banyak memakan waktu. Gunar menoleh kanan kiri, meyakinkan bahwa dia tidak salah ambil jalan.

Gedubrak…brak!!!

Motor bebek menabrak bamper belakang sedan. Gunar melamun memang.

“Pakai mata Pak!” seorang lelaki berdasi warna merah keluar dan langsung mengecek bagian belakang.

“Maaf, Pak!” Gunar gugup. Gunar langsung terpikir ganti rugi, karena dialah yang salah. Mobil diam diseruduk kencang. Tapi Gunar tidak bisa mengira berapa uang untuk ganti rugi. Apalagi kalau orang berdasi itu melapor polisi. Sudah sering Gunar mendengar orang-orang miskin yang dihukum karena kesalahan sepele, mecuri biji kopra, maling piring, mengambil semangka, membabat rumput gajah. Semuanya dihukum berat. Harga kesalahan tidak sebanding dengan hukuman dan ganti rugi. Gunar khawatir, kalau sampai dibawa ke pengadilan siapa yang memberi uang makan ke Nah dan anak-anaknya.

“Penyok!? Pak tahu nggak motor bapak dijual, masih kurang buat nambal. Hati-hati kalau bawa motor, Pak!”

“Maaf Pak, saya terburu-buru!”

“Memang cuma Bapak yang buru-buru?”

Orang berdasi itu terlihat marah.

“Maaf Pak, kalau bapak minta ganti rugi. Bawa saja motor saya, saya tidak bawa uang.”

Orang berdasi itu melihat orang sekeliling yang mulai menaruh perhatian.

“Tidak usah! Lain kali hati-hati!” orang berdasi itu segera masuk ke sedan dan mengegas mobil kencang.

Seperti kesialan ditumpahkan hari ini. Diteruskan perjalanan dengan penuh bimbang. Pasti sudah terlambat lama. Belum lagi di perempatan lampu merah terakhir muncul keramaian. Gunar tidak menaruh perhatian. Hanya bagaimana dia merangkai alasan agar tidak dipecat dari pekerjaan.

Gunar sampai di kamar jenazah. Sudah sepi. Hanya ada meja dimana Gunar biasa mengafani jenazah. Gunar bergumam, hidup manusia susah dan menyusahkan, bahkan hingga meninggal. Gorden bergoyang santai.

“Ada jenazah tabrakan, Pak Gunar yang memandikan.” Bosnya datang.

“Siap, Pak!” Gunar menjawab patuh.

Sebuah ranjang putih dengan jenazah tertutup kain, dengan bercak-bercak merah merembes datang di hadapan Gunar. Gunar membelalakan mata. Gunar akan memandikan jenazah lelaki berdasi yang tadi memarahinya. Matanya masih terbuka, kepalanya pecah. Gunar menerka keramaian di perempatan tadi adalah insiden kecelakaan mobil yang tadi diseruduknya.

“Sial!!!” Gunar berkata pelan.

Gunar hanya menemukan dua puluh ribu di kantong celana depan. Gunar mengira akan bisa mengantongi seratus ribuan dari tubuh korban yang bisa dibawanya pulang. Memang hari paling sial bagi Gunar. (*)

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s