Cerpen

Kopi Pahit

(Radar Surabaya, 6 Januari 2013)

Sediakan kopi paling kental, sepiring kacang rebus dan emping melinjo yang super asin. Demikian pesan Emak kalau Lelaki itu datang ke warung. Lelaki yang setiap hari membawa bedil di pinggang, selalu datang setiap pukul sebelas siang. Dia datang dengan motor GL-Pro warna hitam. Lanang menandai kedatangannya dari suara knalpot busuk motor Lelaki yang memekakkan telinga. Lanang bergegas ke dapur warung menyiapkan pesanan. Lanang selalu mengagumi badan Lelaki itu yang tegap dan kumisnya yang melintang tebal.

“Kenapa dia begitu suka kopi kental, Mak?” Lanang polos bertanya demikian karena takaran kopi Lelaki sangat tidak wajar. Kalau orang umum cukup sesendok dua sendok kopi yang ditumbuk sendiri oleh Emak. Dia tidak. Hampir lima sendok untuk gelas bertangkai besar. Benar-benar pahit. Kacang rebus dan emping menjadi nyamikan ketika dia bercakap dengan orang lain.

“Emak tidak tahu. Tetapi dia memang suka kopi yang super pahit.” Begitu Emak menjawab.

“Kabarnya kopi bisa mempercepat denyut jantung, Mak. Kalau kebanyakan bisa-bisa terkena serangan jantung mendadak.”

Hush! Sudah sana kamu main.”

Lanang meninggalkan Emak yang sedang melayani pelanggan di warung.

Lanang bermain bersama teman-teman di pekarangan belakang. Kebun yang dipenuhi pohon ketela, kacang panjang dan tegak berdiri pisang. Mereka biasanya bermain kasti. Tetapi sepertinya kali ini mereka sepakat bermain perang-perangan. Beberapa rimbun dari pepeohonan akan membantu membuat benteng pertahanan. Bedil dibuat dari pelepah daun pisang, yang dipotong seukuran popor. Kemudian diberi gagang dari carang nangka. Tidak lupa propertinya: topi dari rumbia dan daun jati. Untuk membedakan mana teman mana lawan, dipergunakan cara sederhana yaitu cara memakai kaos. Yang menang suit, memakai pakaian wajar. Sedang yang kalah suit, satu lengan kaos harus dilepas. Maka terlihatkah bekas-bekas cacar di bahu mereka yang mirip jamur merang. Wajah penuh bahagia meski harus dicoreng-moreng dengan arang hitam yang ditumbuk dan dicampur minyak. Olesannya bertahan kuat. Jadilah tuntas persiapan perang-perangan yang dibangun dalam angan-angan anak usia kelas lima sekolah dasar itu.

Dor-dor-dor!!!

Suara tembakan bersahutan. Suara dari mulut-mulut mereka. Tidak ada peluru yang terlontar, tetapi riuh-rendah suara senada dengan gempuran perang. Tak perlu susah-susah mengincar lawan. Tak peduli kena atau meleset, toh memang tidak akan ada bekas tembakan di badan. Perang dan menang di khayalan masing-masing. Tidak ada kelompok menang dan kalah. Tidak ada pribumi dan penjajah.

“Aku mau kopi,” seorang teman Lanang yang usianya lebih muda berkata.

“Kamu masih kecil. Nggak baik. Kamu bisa mbegegelen (wasir).” Lanang menasihati.

Lanang pernah mengalami mbegegelen pasca menyeruput kopi hitam. Lanang dua hari kesakitan di atas jamban saat buang hajat. Tak ada yang keluar. Lanang mengerang kesakitan.Anak-anak belum layak minum kopi hitam.

“Aku mau jadi seperti Lelaki itu.” Temanku menunjuk Lelaki yang minum kopi pahit di warung Emak.

“Dia sudah besar. Lihat berengos dan berewoknya sudah tebal.”

“Biar pas, ya kita minum kopi. Yang pegang bedil harus minum kopi.”

Memang benar, Lelaki yang dipuja Lanang memegang bedil dan setiap ke warung Emak memesan kopi hitam. Dalam benak Lanang, mungkin yang memegang bedil harus menegak kopi agar terlihat jantan.

“Kalau begitu kita ke kebun. Kita ambil cincau, kita bikin kopi ala anak-anak.”

“Kopi beneran dong.”

“Kamu pegang bedil mainan, Lelaki itu bedil sungguhan. Lelaki itu minum kopi pahit betulan, maka kamu minum kopi bohongan.”

Semua diam. Mereka beramai-ramai ke rimbun pepohonan janggelan yang biasa diperas untuk bahan cincau hitam. Mereka sudah hafal bagaimana meramu cincau hitam. Beberapa lembar daun janggelan dipetik dan dicuci di sumur. Kemudian ditumbuk dan diperas untuk mengeluarkan sarinya. Kuku-kuku mereka yang panjang dan hitam dipenuhi kotoran meremas-remas. Mereka cekikikan. Merasakan ada rasa lendir di sela-sela jari. Hasil perasan dikumpulan dalam tempolong bekas cat.

Kompor mereka buat dari batu bata dan genteng sisa bangunan. Api dinyalakan. Dan perasan direbus biar matang. Beberapa menit sudah ada buih-buih pertanda mendidih. Diangkat dan didinginkan.

Selama menunggu dingin dan endapan cincau terbentuk, Lanang diperintah pulang ke rumah mengambil juruh, kinca gula jawa di warung Emak. Teman-temannya juga akan menantikan beberapa buah gorengan yang akan diikutsertakan Lanang. Senangnya mereka bisa bereksperimen dengan daun jenggalan.

Baru sore, Mereka berramai-ramai meminum kopi-kopian buatan sendiri. Hitam dan kemerahan. Tidak pahit tapi manis menyegarkan. Mereka tertawa-tawa karena coreng-moreng di pipi mereka susah dibersihkan dengan air sumur. Senja menyaga, mereka berlarian ke telaga. Menceburkan diri sambil telanjang. Mereka senang saling membandingkan panjang senapan.

****

Lelaki itu masih saja memesan kopi.

Lanang sebenarnya ingin menayakan, mengapa hobi lelaki itu minum kopi yang super pahit. Tapi kesempatan itu belum juga datang. Lanang dilarang berlama-lama di warung mendengarkan penjung berkelakar. Emak selalu memerintahkan Lanang bermain-main di pekarangan. Padahal Lanang ingin sekali mendengar cerita dari Lelaki yang kabarnya berhasil menembak seorang renta yang mencuri kopra, menangkap lelaki yang mencuri ayam, bergulat dengan pembobol gudang beras miskin, atau yang paling menegangkan adalah keberhasilan Lelaki itu mengayun celurit di kepala maling sepeda motor.

Beneran! Kalau aku silap sedikit, bisa-bisa leherku yang disambit,” Lelaki bercerita.

“Bagaimana dengan Jeng Jinoli?”

Lanang sudah mengerti kelakar kemudian adalah kelakar orang dewasa dengan istilah dan titik kelucuannya tidak dimengerti Lanang yang sedang menguping.

Lelaki itu senang berlama-lama di warung Emak. Hingga sore, menjelang warung Emak ditutup. Emak sebelum menurunkan penutup warung selalu memerintahkan Lanang ke rumah simbah atau Bik Badiah yang harus ditempuh satu jam naik sepeda. Tujuannya beraneka: mengambil beras, menyaring kopi, mengantar pesanan gorengan atau meminta sayuran segar untuk dimasak nanti malam.

“Kamu bawakan Bik Badiah pisang goreng di warung. Masih sisa banyak.”

“Iya…”

Saat Lanang pulang dan ingin memarkirkan sepeda di teras depan, sudah tidak dilihatnya motor GL-Pro hitam milik Lelaki itu. Lanang mengira-ngira saja apa tujuannya minum kopi super hitam.

“Biar punya senjata yang tajam, harus minum kopi.”

“Kalau minum kopi pahit, terlihat sangat jantan.”

“Aku harus minum kopi hitam, biar Aku bisa jadi seperti dia. Punya seragam, punya bedil dan disegani banyak orang.”

“Nanti kalau sudah besar, aku mau minum kopi hitam, kental.”

Selama itu juga Lanang tetap tidak berani menyeruput kopi sisa di gelas pelanggan warung Emak. Lanang trauman. Lanang melampiaskan hasrat ingin minum kopinya dengan cincau dan kinca gula jawa.

***

“Ke rumah Bik Badiah. Minta besok ke sini bantu Emak menggoreng kopi. Bawakan juga Bik Badiah, rondoroyal yang Emak bungkus di plastik hitam.”

Emak siang itu memerintah. Ketika warung sudah di tutup. Dan Lelaki itu masih duduk-duduk di bangku.

“Emak, Aku boleh tanya tidak ke Lelaki itu,” Lanang menunjuk Lelaki itu yang sudah membuka seragam, seperti siap dikeroki Emak.

“Tanya apa?” Emak bersuara agak tinggi.

“Kenapa dia suka minum kopi hitam?”

“Haaahaa…” Lelaki yang sudah bertelanjang dada itu mendekat dengan tertawa yang lebar. “Kamu ingin tahu?”

“Ya. Kalau habis main perang-perangan, Aku dan teman-temanku selalu ingin minum kopi seperti Anda. Pikir kami, kalau mau jadi seperti Anda harus berani minum kopi. Atau memang harus minum kopi pahit biar bisa jadi polisi yang berseragam?”

“Kamu polos sekali. Tidak. Aku minum kopi hitam dan super pahit buatan Emakmu, biar nggak ngantuk. Jaga semalaman, butuh kopi biar bisa melek segar.” Lelaki itu mengedip-ngedipkan mata seperti kelilipan ke arah Emak.

“Tapi kenapa yang lain tidak minum kopi yang sepahit Anda.”

“Karena jadi polisi seperti saya, tidak boleh tidur. Sekali tidur bisa lengah. Bisa kabur pencuri. Kalau bisa matanya yang tajam. Matanya yang trengginas kalau lihat penjahat. Kamu mau jadi polisi?” Lelaki itu mengelus kepala Lanang.

“Iya, Aku juga ingin jadi polisi. Tapi bukan polisi yang suka tidur.”

“Kenapa?”

“Aku ingin bisa minum kopi pahit. Berseragam gagah. Kemudian naik motor GL-Pro Hitam. Bisa menangkap penjahat. Bisa dihormati banyak orang.”

“Bagus, kamu yang rajin belajar dan olahraga.”

Lanang senang lelaki itu memberinya uang bergambar kepala pahlawan. Lanang bergumam sambil menuntun sepedanya.

“Senang kalau sudah besar nanti. Punya seragam. Minum kopi sepuasnya. Banyak uang. Warung Emak masih buka nggak ya, kalau aku nanti besar?”

Lanang mulai mengayuh sepeda menjauh rumahnya yang ditutup Emak dari dalam.(*)

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s