Resensi

ORIGIN: Biasa Templatenya, Megah Idenya

sumber gambar: instagram

Saya membaca Dan Brown pertama kali di buku The Da Vinci Code, lama sekali. Waktu itu hak terjemahan bahasa Indonesia masih di Serambi, dan saya baca dengan terkantuk-kantuk di sepanjang kereta Jakarta-Jogja. Mungkin karena saya masih cupu dan bodoh, saya tidak terlalu paham dengan ide-ide Dan Brown. Terlebih waktu itu internet masih jauh dari genggaman tangan, hingga harus duduk di depan PC untuk mencari informasi lengkap terkait lokasi, karya seni, atau kode-kode ajaib dalam buku tersebut. Namun, saat buku itu dialihwahanakan menjadi film dan saya sudah ‘rodo nggak cupu’ saya baca kembali novel itu dan memang penulis ini ‘gila’. Obsesi dan bagaimana keutuhan risetnya adalah yang juara. Meskipun saya tidak mengikuti semua judul Dan Brown secara rutin, tapi secara ide-ide dalam bukunya selalu mencengangkan.
Dan harus diakui kalau teman-teman membaca (tidak harus semua judul Dan Brown) alur perjalanan dan pengungkapannya tidak terlalu jauh berbeda. Ya 11-12 gitu. Dan novel “Origin” menurut saya juga demikian. Saya bahkan di awal sempat kesal, “ini penulisnya ngapain sih, berlarat-larat ingin lama dengan narasi tidak terlalu penting.” Namun, yang harus dikagumi adalah bagaimana ide Dan Brown. Apalagi ‘kegelisahan’ dalam buku ini, beberapa kali saya temukan di buku lain atau film yang lain. Bahkan di beberapa bagian saya sempat berpikir, jangan-jangan agama hanya alusi manusia karena tidak mampu menjelaskan sesuatu yang megah-besar. Soal penciptaan dan akhir dunia. Makanya mereka menyerahkan kepada kekuatan maha yang di dogma itulah kita bersandar. “Tuhan yang bertindak di balik semua ini.” (untung saya tidak jadi ateis setelah membaca buku ini)
Dari mana kita berasal? dan Kemana kita setelah ini? 
Dan Brown mencoba menjawab pertanyaan itu dengan hati-hati dengan temuan Edmond Kirsch!
Ulasan saya ada di Jurnal Ruang.

 

 

 

Advertisements
Cerpen

Melodrama Superhero

Tribun Jabar, 31 Desember 2017

Mimpiku? Sama. Sejak kecil aku bermimpi menjadi superhero dengan kostum paling gagah yang bisa kubayangkan. Tubuh terjiplak ketat dengan simbol kebanggan di tengah dada. Aku ingin menjadi superhero. Hingga bisa terbang menyelamatkan gadis yang tergantung di beranda apartemen, membantu kasir toko emas saat ditodong perampok, atau sekadar membunyikan lonceng tahun baru atas undangan khusus walikota.

Impian itu menjadi kenyataan ketika aku sedang terpuruk akibat persoalan asmara. Kekasihku menikah dan tanpa mengirim pesan pernyataan berpisah. Aku merasa seperti sebentuk bayangan yang tanpa pernah dikehendaki kehadirannya. Dia, kekasihku yang selalu kukirimi pesan pengingat makan, ternyata lebih memilih orang lain. Aku memutuskan untuk mengakhiri hidup saja. Tidak ada lagi orang yang akan kukirimi pesan pengingat makan siang.

Aku pergi ke Bukit Golgota. Aku ingat, di sana ada pohon yang lekuk tajuknya mirip bentuk kepala Kumbakarna. Di sanalah salah seorang kawanku menggantungkan diri. Aku ingin mengikuti dia. Meski aku tahu, Bukit Golgota itu sekarang tak lagi sama dengan sepuluh atau lima belas tahun lalu. Lantaran seorang pebisnis batubara berhasil menemukan kandungan timah yang cukup banyak, 300 meter di bawah Bukit Golgota. Akibatnya, mobil pengeruk, kemah penambang, bangunan kantor menutup sebagian Bukit Golgota. Walaupun pohon yang mirip kepala Kumbakarna itu masih ada, aku tetap harus memutar jauh agar tidak harus melewati pengamanan tambang timah. Continue reading “Melodrama Superhero”

Resensi

Bacaan 2017

Seberapa banyak buku yang kamu baca di 2017? Saya termasuk yang sangat lambat membaca. Sampai kos kadang sudah tepar atau kadang disibukkan dengan tontonan. Heeeheee ^^
Pola genre masih sama dengan tahun-tahun sebelumnya. Hanya saja, ada genre baru yang saya sukai di 2017, yakni thriller. Beberapa buku adalah buku lawas yang baru saya temukan di 2017. Saya kutip dari akun Goodreads saya, ternyata bacaan saya cuma segini setahun. Duuuuh, malas banget saya yaaa tahun ini.
Continue reading “Bacaan 2017”

Cerpen · Resensi

Memikat Tanpa Muslihat

Beberapa kali saya ditanya buku fiksi apa yang paling membuat terkesima sepanjang 2017 untuk buku fiksi Indonesia, maka saya akan dengan tegas menjawab Muslihat Musang Emas (Penerbit Banana, 2017) milik Yusi Avianto Pareanom. Meksipun saya tahu, saya tidak punya kapasitas mengkritik buku sastra, saya hanya berusaha membaca buku sastra dan sedikit mengocehkannya. Dan sayangnya, kemampuan membaca saya juga tidak paripurna. Banyak sekali buku sastra yang terbit dan saya tidak membaca semuanya. Beli online dong, Teguh? Sayanganya lagi, saya termasuk orang yang konvensional dalam membeli apa saja. Jadilah, saya kerap mengandalkan toko buku fisik dan toko buku online yang kerap saya ‘titipi’ untuk beli buku yang tidak ada di toko buku fisik. Sehingga kesimpulan pertama saya memilih Muslihat Musang Emas, masih sangat personal dengan keterbatasan cakupan bacaan saya. 

Tetapi, dibandigkan Rumah Kopi Singa Tertawa (Terbit pertama 2011 dan diperbaharui 2017) saya jauh lebih terpuaskan dengan Muslihat Musang Emas. Cerpen-cerpen dalam buku ini tidak sekadar cerpen yang telah dimuat di media massa dan kemudian diikat menjadi buku, sebagaimana kebiasaan buku kumpulan cerpen kita. Paman Yusi seolah benar-benar membuat ceritanya baru dan tidak terendus oleh pembaca sebelumnya. Kecuali satu cerpen,  Ia Pernah Membayangkan Ayahnya adalah Hengky Tornando, yang pernah masuk dalam antologi buku tentang Tubaba. Selebihnya adalah cerpen-cerpen baru yang membahagiakan. Mengapa membahagiakan? Kisah-kisah sial dalam buku ini benar-benar bikin kita terpingkal. Apalagi sesuatu yang kalau dalam bahasa stand up comedy, punch line yang bikin terbahak. 

Sedikit curhat saya setelah membaca Muslihat Musang Emas dimuat di Jurnal Ruang. []

 

Resensi

Misi Baik Dalam Komedi

Koran Tempo, 9-10 Desember 2017

Pengarang Amerika Serikat Charles Dickens mengatakan orang-orang di negaranya tidak memiliki humor, labil, mudah marah, dan itu membuat daratan Amerika tampil menyeramkan. Namun bukan berarti semua orang Amerika tidak memiliki selera humor. Terbukti, dari negara tersebut muncul salah satu gaya lelucon yang digemari di seluruh dunia bernama stand-up comedy.

Stand-up comedy atau komedi tunggal disukai, ditayangkan di berbagai acara stasiun televisi, dan menjadi pilihan anak muda untuk mengekspresikan kegelisahan mereka. Terbukti, banyak generasi muda yang kemudian menjadi komika—sebutan bagi pelakon komedi tunggal. Continue reading “Misi Baik Dalam Komedi”

Cerpen

Pohon Randu Wangi

“Aku pasti pulang, Ibu.”

Tanpa harus kusampaikan, janji itu kutanam bersama sebiji randu di pekarangan depan. Kuharapkan janji itu akan tumbuh bersama akar-akar randu. Menguat dan kokoh tidak goyah. Lalu pada masanya ketika dia pulang, pohon itu akan tumbang bersama rindu yang sudah lunas terbayar. Semacam dendang gembira Pak Tani mendorong luku di persawahan.

***

Kudekap erat potret sepia terbingkai figura. Beberapa bagian geripis digerus usia. Kuelus sebingkai foto, seperti mengelus pipinya yang gempil dan jerawat ranum yang tumbuh di sekitar hidung. Rindu sudah sedemikian menyerangku. Aku tak lagi bisa mengontrol jatuhnya air mata. Hingga tanpa harus terisak-isak dan meraung-raung, air mataku menuruni tulang pipi hingga membasahi dagu. Aku benar-benar rindu. Continue reading “Pohon Randu Wangi”

Resensi

Papua dari Mata Bocah

Koran Tempo, 21-22 Oktober 2017.

Novel ini diperbincangkan setelah menjadi naskah unggulan Sayembara Novel Dewan Kesenian Jakarta 2016 dan masuk lima besar Kusala Sastra Khatulistiwa 2017. Kombinasi bergengsi dalam khazanah sastra Indonesia. Apalagi bila menengok nama Nunuk Y. Kusmiana yang terbilang baru sebagai penulis sastra.

Kekuatan terbesar novel ini adalah penggunaan latar lokasi yang memikat. Nunuk mengungkapkan kenangan masa kecilnya ketika mengikuti orang tuanya pindah tugas ke Papua, setahun setelah Operasi Trikora. Kala itu, situasi politik dan ekonomi di sana belum stabil. Ayahnya termasuk kelompok tentara yang pertama dikirim ke Papua setelah Presiden Sukarno mencanangkan Trikora.

Nunuk membuka kisah melalui bocah kecil bernama Kinasih Andarwati alias Asih dengan sebuah misteri bernama tukang potong kep. Dia adalah seorang lelaki yang membawa parang serta kerap memotong kepala anak-anak dan disimpan di karung. Konon, kepala itu akan digunakan sebagai fondasi jembatan. Sejenis dongeng yang diciptakan untuk menakut-nakuti bocah, membuatnya menuruti perkataan orang tua. Continue reading “Papua dari Mata Bocah”