Resensi

Balada yang Bopeng dan Penuh Catatan

Jawa Pos, 10 November 2019

Labelisasi seksis, kalimat-kalimat yang kedodoran,
dan salah ketik
bisa ditemukan di berbagai sudut Balada Supri.

 

SAYEMBARA kepenulisan Dewan Kesenian Jakarta (DKJ) terbukti telah menghasilkan nama dan karya yang diakui, baik pembaca kita maupun internasional. Nama-nama seperti Ayu Utami, Ratih Kumala, Andina Dwifatma, Mahfud Ikhwan, Faisal Oddang, hingga Ziggy Zezsyazeoviennazabrizkie terbukti meroket selepas dinobatkan sebagai pemenang sayembara DKJ.

Pada 2018, DKJ mengeluarkan 3 karya sebagai pemenang dan 5 karya sebagai karya yang layak diperhitungkan untuk terbit. Tiga pemenang itu ialah Orang-Orang Oetimu karya Felix K. Nesi, Anak Gembala yang Tertidur Panjang di Akhir Zaman karangan Ahmad Mustafa, dan tajuk Balada Supri milik Mochamad Nasrullah.

Ketiganya boleh dibilang nama baru yang relatif masih muda dalam kancah sastra Indonesia. Nama baru dan jiwa muda penulisnya diharapkan mampu memberi warna segar dan terobosan dalam kepenulisan sastra. Baik dari tema, cara kepenulisan, maupun mungkin keberpihakan Continue reading “Balada yang Bopeng dan Penuh Catatan”

Resensi

Alarm Nyaring, Bumi Sedang Genting

Koran Tempo, 2-3 November 2019

“Lebih buruk, jauh lebih buruk, daripada yang Anda pikirkan!” Begitulah peringatan awal David Wallace-Wells dalam buku ini. Pemanasan global sudah jauh lebih buruk dari apa yang diperkirakan. Seberapa buruk prediksi Wallace-Wells tergambar jelas dalam narasi-narasi mengerikan dalam buku Bumi yang Tidak Dapat Dihuni edisi bahasa Indonesia dari Uninhabitable Earth. Buku yang berangkat dari esai Wallace-Wells berjudul sama di Majalah New York, 9 Juli 2017.

Dalam esai tersebut, Wallace-Wells membuka dengan kalimat, bila kekhawatiran akan dampak pemanasan global sekadar kenaikan permukaan air laut, sejatinya kita telah memperluas dampak mengerikan dari teror ini. Dalam buku ini, Wallace-Wells dengan berapi-api menjabarkan dampak-dampak mengerikan dari pemanasan global. 

Semua sadar bahwa pemasanan global dan perubahan iklim benar adanya. Namun, tidak ada yang sadar betul bahwa perubahannya sudah sedemikian cepat. Kecepatan yang mengerikan ini jelas akibat ulah tangan manusia, revolusi industri, dan pembakaran bahan bakar fosil yang terus-terusan. Wallace-Wells memberikan analogi bahwa Kita sekarang menambah karbon ke atmosfer dengan laju lebih tinggi; sebagian besar perkiraan menyebutnya minimal sepuluh kali lebih cepat. (hal.4) Akibatnya sudah ada sepertiga lebih banyak karbon di atmosfer dibanding kapan pun dalam kurun 800.000 hingga 15 juta tahun terakhir, ketika saat itu belum ada manusia, dan permukaan laut lebih tinggi tiga puluh meter. Continue reading “Alarm Nyaring, Bumi Sedang Genting”

Resensi

Cerita Semanis Racun

Mungkin tersebab kesibukan sebagai anggota Komite Buku Nasional (KBN), penerjemah banyak judul karya sastra dunia, dan menjalankan bisnis penerbitan buku miliknya, Anton Kurnia tak banyak tampil dalam kancah sastra, terutama menerbitkan cerpen di media massa. Terbukti, baru ada dua kumpulan cerpen tunggal Anton Kurnia yang hadir di ranah pembaca. Seperti Semut Hitam yang Berjalan di Atas Batu Hitam di Dalam Gelap Malam adalah buku kumpulan cerpen kedua Anton setelah Insomnia (2004). Dalam judul keduanya ini, hanya termaktub sembilan judul cerita dalam buku ini, yang dianggit dalam kurun 2005-2018.  Namun dari sembilan cerita dalam buku ini, kita akan tahu kerajinan Anton menjahit cerita harus diapresiasi tinggi.

Seperti Semut ditulis dengan kesadaran penuh pada kepaduan sebuah narasi, efek melankolia, dan intertekstual yang membuat pembaca dapat membayangkan suasana saat masuk dalam dunia rekaan ini. Anton sebagai penulis tidak membuat cerpen-cerpennya sebagai media untuk melontarkan kritik atau menyuarakan ketidakadilan sebagaimana biasa sering dihadapi pada jebakan sastra. Anton mengisahkan aneka persoalan manusia berkaitan dengan asmara. Tokoh-tokoh dalam sembilan cerita ini sedang mengalami episode haru dalam urusan cinta Continue reading “Cerita Semanis Racun”

Resensi

Cinta Perkara Lokal, Kematian Interlokal

rumah ilalang-twitter basabasi

Novela ini mungkin sama tipisnya dengan Padang Ilalang di Belakang Rumah (1987) milik Nh. Dini. Juga sama-sama menggunakan kata ilalang yang sangat sastrawi sebagai simbol. Beberapa kali kata ilalang muncul dalam karya sastra kita. Penyair Dorothea Rosa Herliany menulis buku puisi Nikah Ilalang (1995), D Zawawi Imron menulis buku Bulan Tertusuk Lalang (1982) juga menggunakan lema tersebut dalam salah satu penggalan baitnya, Angin pun tiba dari tenggara. Daun-daun dan bunga ilalang/memperdengarkan gamelan doa (dalam puisi ‘Dialog Bukit Kemboja’). Dan tentu kita pernah mendengar lagu mendayu berjudul Ilalang yang pernah dinyanyikan Machica Mochtar.

Meski sama-sama tipis dan sama menggunakan ilalang, dalam novel Nh. Dini akan bergulat tentang kenangan perihal ladang ilalang di belakang rumahnya yang memisahkan kaum jaba (luar) dan kaum ndalem (dalam)—kaum priyayi keluarga Sri dan keluarga nonpriyayi, yakni pembantu dan batur yang di rumah. Padang ilalang itu pula yang kemudian menyatukan priyayi dan non-priyayi itu ketika agresi Belanda merangsek dan membuat batas itu lebur di tengah padang ilalang. Continue reading “Cinta Perkara Lokal, Kematian Interlokal”

Cerpen · Jurnal

(Tak) Berharap pada Sastra Koran

Pernah pada masanya penerbit buku Kompas dengan rajin mengeluarkan buku kumpulan cerpen yang rata-rata berbasis pada cerpen-cerpen yang dimuat media massa, baik Kompas maupun media massa lainnya. Pada masa itu banyak cerpenis mengeluarkan buku kumpulan cerpen, misalkan Triyanto Triwikromo, Yusrizal KW, A Mustofa Bisri, Jujur Prananto, Agus Noor. Era-era itu bolehlah saya sebut sebagai era keemasan sastra koran, cahayanya terang dan memberi banyak pengaruh pada penulis pada masa itu.

Masa kejayaan sastra koran setidaknya membuat banyak buku bagus terbit dan memberi warna tersendiri. Misalnya, Tabir Kelam (2003) karya Herlino Soleman, Dari Bui Sampai Nun (2004) karagan Agus Vrisaba, Cerita-Cerita dari Negeri Asap (2005) kumpulan cerita milik Radhar Panca Dahana. Tiga judul ini mungkin mewakili buku cerita yang bagus yang mungkin luput dibaca secara masif. Selain tiga tersebut, masih banyak judul kumpulan cerpen yang terbit di masa itu. Juga kumpulan cerpen pada masa itu pernah mendapatkan penghargaan Kusala Sastra Khatulistiwa, Bibir dalam Pispot (2003) milik Hamsad Rangkuti yang beroleh penghargaan pada tahun 2003.

Beberapa tahun terakhir, mungkin kita telah masuk pada era, ketika kita tidak lagi bisa menggantungkan koran dan majalah sebagai habitat sastra, terutama cerpen. Ada beberapa alasan yang membuat saya—yang mungkin gegabah—menyimpulkan hal ini. Continue reading “(Tak) Berharap pada Sastra Koran”

Resensi

Luka itu Bernama Sita

Koran Tempo, 14-15 September 2019.

Membaca Ramayana maupun Mahabharata, sejatinya adalah membaca manusia. Dari negara asalnya, India, epos-epos ini menjelajah ke penjuru dunia, termasuk kawasan Asia Tenggara dan juga Indonesia. Di berbagai kawasan epos itu kemudian disesuaikan dengan kearifan lokal. Misalkan kisah Ramayana di Bali dan Jawa memiliki sedikit perbedaan. Namun dari ragam versi itu, dalam cerita perempuan selalu ditempatkan di belakang—konco wingking, dan seolah tak memiliki peranan besar dalam garis cerita.

Dalam khazanah sastra Indonesia, telah banyak sastrawan yang menginterpretasikan ulang bagian atau potongan baik dari epos Ramayana. Misalnya novel Anak Bajang Menggiring Angin (1983) Sindhunata, yang mengambil sudut penceritaan dari sisi Anoman. Atau Kitab Omong Kosong (2004) milik Seno Gumira Ajidarma yang mengupas Sinta selepas upacara obong dan hidup di pengasingan bersama dua anak kembarnya serta Empu Walmiki.  

Cok Sawitri menghadirkan karya baru berupa tafsir dan penceritaan ulang atas kisah Rama, Sita, dan Rawana dalam tajuk Sitayana (2019) Continue reading “Luka itu Bernama Sita”

Resensi

Nelayan Boleh Berhenti Melaut, Penulis Tidak

Basabasi, 13 Juli 2019.

‘Buku-buku terbaik di seluruh dunia’ hampir semua terbit di tangan penerbit kecil, penerbit independen, setidaknya pendapat ini diukur dari penghargaan Man International Booker Prize di 2019. Saat Guardian menurunkan berita tersebut, daftar panjang pemenang sudah menguatkan pendapat spektakuler yang harusnya menambah energi pada pegiat penerbitan independen. Dari tiga belas judul, hanya ada dua judul yang diterbitkan oleh penerbit nonindie. Sebelas judul tersebut muncul dari penerbit indipenden seperti Fitzcarraldo Editions, Sandstone Press, Granta, dan Other Stories and Scribe. Maureen Freel—penulis, penerjemah, sekaligus salah satu panel juri dalam penghargaan tersebut, berujar dengan santainya, “Penerbit besar harus berusaha lebih.”

Di luar penerbit independen (kita tidak akan membahas bagaimana yang independen dan tidak independen) teruji memiliki taji dalam percaturan literasi dunia. Namun bagaimana dengan Indonesia, yang sudah menjadi rahasia umum bahwa “semua orang bisa menerbitkan buku dan punya penerbitan”? Lantas, mampukah buku terbitan penerbit independen yang hendak dibahas ini menunjukkan taji?

Sudah menjadi pengetahuan publik, penerbitan buku secara independen atau secara istilah sederhana adalah tiras yang tidak begitu banyak. Yang sedikit itu tetap diharuskan berkancah dalam rimba judul buku yang terbit setiap minggunya. Secara serampangan penerbit independen luar negeri yang mampu menyuguhkan judul-judul yang diperhitungkan dalam penghargaan sastra, pastilah bukan sekadar beralasan “dicetak sendiri, disesuaikan jumlah modal kita saja.” Itu terlalu remeh. Bisa dipastikan kurasi, penyuntingan, pengemasan, dan pemasaran independen mereka jauh-jauh-dan-sangat-jauh bila dibandingkan dengan sistem independen milik kita. Continue reading “Nelayan Boleh Berhenti Melaut, Penulis Tidak”