Cerpen

Kartu Kuning

(Kedaulatan Rakyat, 18 Februari 2018)

MAUT datang menjemput. Bendri sendiri sudah mafhum bahwa Maut suatu waktu pasti akan datang, mengetuk pintu perlahan tapi memekakkan gendang telinga. Bendri yakin dia tidak seperti orang lain, dia bisa mengundur kedatangan Maut tidak hanya sedetik.

Sudah sering Bendri dengar, Maut menjemput dengan rupa yang berbeda-beda di setiap manusia. Bisa serupa raksasa, serupa ular naga, atau gadis semanis Nella Kharisma. Tapi, sebagai mantan wasit sekaligus penggila Manchester United garis keras, Bendri ingin Maut datang berwujud Setan Merah atau paling tidak salah satu legenda MU yang dia idolakan semenjak kelas dua sekolah dasar, Bobby Charlton.

“Tidak mungkin. Aku bakalan kesusahan. Aku tidak bisa bahasa inggris,” Bendri menampik idenya sendiri. “Kalau aku kikuk dan tidak pandai berkelit, bisa-bisa Maut ngotot menjemput.” Continue reading “Kartu Kuning”

Advertisements
Resensi

Cerpen yang Berbahaya

Semasa saya masih di Jogja, saya mendapati buku perihal gonjang-ganjing sastra, milik Ki Panji Kusmin. Saya yang merasa tidak terlalu mengerti  tentang apa yang diributkan kala itu, lebih memilih menikmati buku itu sebagai salah satu sajian kasus yang heboh pada masanya. Dan sekarang, kasus sedemikian heboh tidak lagi terulang. Beberapa cerpen dewasa ini memang mengangkat tema-tema yang cukup sensitif. Dan buku “Bukan Perawan Maria” mencoba berada pada domain yang demikian. Mengorek-ngorek cara kita menghadapi keberagaman dalam beragama. Dan lebih dari itu, cerpen-cerpen dalam buku adalah cara baru mengungkapkan satire–terlepas kesalahan minor yang semoga di cetakan selanjutnya bisa diperbaiki.
Ulasan saya atas buku tersebut ada di Jurnal Ruang. Selamat membaca! []

Resensi

Hadiah Okky untuk Anak-anak

(Koran Tempo, 10-11 Februari 2018)

Karya-karya Okky Madasari, baik cerita pendek maupun novel, selama ini selalu berada di ranah bacaan dewasa. Maka, menjadi suatu lompatan genre ketika Okky memutuskan untuk menulis buku anak.

Saat sampul Mata di Tanah Melus dirilis ke publik dengan label novel anak, rasa penasaran itu semakin memuncak. Apakah novel ini benar-benar bacaan yang pas untuk anak? Atau novel dewasa yang meminjam suara anak-anak, sebagaimana Le Petit Prince karya Antoine de Saint-Exupéry? Di antara keduanya terdapat perbedaan cukup signifikan, baik dari segi bahasa, jalan cerita, maupun misi pembuatan cerita.

Okky bukanlah sastrawan pertama yang menulis buku anak. Sebelumnya, Clara Ng, yang terkenal sebagai penulis novel metropop-sastra, menyusun beberapa judul buku anak. Buku yang benar-benar dapat dibaca untuk anak dengan tokoh anak. Buku Clara Ng, baik dewasa maupun anak-anak, diterima publik dan sukses di dua genre yang berseberangan tersebut. Continue reading “Hadiah Okky untuk Anak-anak”

Resensi

Ibarat Sekerat Cheesecake

(Basabasi, 3 Februari 2018)

Di sudut restoran hotel di dekat Benteng Rotterdam, Makassar, Budi Darma salah satu sastrawan besar kita membincangkan beberapa cerpen dari penulis muda Indonesia di acara Makassar International Writers Festival (MIWF) 2017. Salah satu poin yang berulang kali disampaikan olehnya ialah bahwa penulis tidak berkewajiban memberi informasi dalam cerita karangan secara keseluruhan kepada pembaca. Penulis dan pembaca yang adalah manusia, memiliki sifat bercerita dan suka cerita (baca: homo fabula) dan dengan informasi yang tidak utuh tersebut pembaca dapat menyimpulkan sendiri atau bahkan mengembangkan ceritanya berdasar preferensi masing-masingDan usaha ngirit informasi ini juga menjadikan pembaca berada di strata yang sama dengan penulis.

Namun, nyatanya pendapat Budi Darma tersebut tidak seratus persen diimani oleh banyak cerpenis kita. Banyak sekali cerpen yang dijadikan sebagai ajang pamer kemahiran bertutur, hingga berlarat-larat dan terjebak dalam ketidakintiman prosa yang kemudian menihilkan istilah cerita pendek itu sendiri. Continue reading “Ibarat Sekerat Cheesecake”

Resensi

Biru Laut Berkisah dari Dalam Laut

(Koran Sindo, 28  Januari 2018)

Biru Laut mahasiswa Sastra Inggris Universitas Gadjah Mada. Kemudian terlibat aktivitas mengkritik kebijakan orde baru. Laut bergabung dalam organisasi Winatra, yang berafiliasi dengan Wirasena. Demi menghindari aparat dan selidik mata-mata, Laut beserta kawan-kawannya kemudian menepi di sebuah rumah di Desa Pete, Sayegan, Yogyakarta.

Leila berhasil merekonstruksi bagaimana dunia aktivis di era orde baru. Laut dan kawan-kawan turut dalam aksi Blangguan tahun 1993. Aksi itu sebagai advokasi terhadap para petani yang lahan garapannya digusur demi tempat pelatihan tentara. Continue reading “Biru Laut Berkisah dari Dalam Laut”

Resensi

ORIGIN: Biasa Templatenya, Megah Idenya

sumber gambar: instagram

Saya membaca Dan Brown pertama kali di buku The Da Vinci Code, lama sekali. Waktu itu hak terjemahan bahasa Indonesia masih di Serambi, dan saya baca dengan terkantuk-kantuk di sepanjang kereta Jakarta-Jogja. Mungkin karena saya masih cupu dan bodoh, saya tidak terlalu paham dengan ide-ide Dan Brown. Terlebih waktu itu internet masih jauh dari genggaman tangan, hingga harus duduk di depan PC untuk mencari informasi lengkap terkait lokasi, karya seni, atau kode-kode ajaib dalam buku tersebut. Namun, saat buku itu dialihwahanakan menjadi film dan saya sudah ‘rodo nggak cupu’ saya baca kembali novel itu dan memang penulis ini ‘gila’. Obsesi dan bagaimana keutuhan risetnya adalah yang juara. Meskipun saya tidak mengikuti semua judul Dan Brown secara rutin, tapi secara ide-ide dalam bukunya selalu mencengangkan.
Dan harus diakui kalau teman-teman membaca (tidak harus semua judul Dan Brown) alur perjalanan dan pengungkapannya tidak terlalu jauh berbeda. Ya 11-12 gitu. Dan novel “Origin” menurut saya juga demikian. Saya bahkan di awal sempat kesal, “ini penulisnya ngapain sih, berlarat-larat ingin lama dengan narasi tidak terlalu penting.” Namun, yang harus dikagumi adalah bagaimana ide Dan Brown. Apalagi ‘kegelisahan’ dalam buku ini, beberapa kali saya temukan di buku lain atau film yang lain. Bahkan di beberapa bagian saya sempat berpikir, jangan-jangan agama hanya alusi manusia karena tidak mampu menjelaskan sesuatu yang megah-besar. Soal penciptaan dan akhir dunia. Makanya mereka menyerahkan kepada kekuatan maha yang di dogma itulah kita bersandar. “Tuhan yang bertindak di balik semua ini.” (untung saya tidak jadi ateis setelah membaca buku ini)
Dari mana kita berasal? dan Kemana kita setelah ini? 
Dan Brown mencoba menjawab pertanyaan itu dengan hati-hati dengan temuan Edmond Kirsch!
Ulasan saya ada di Jurnal Ruang.

 

 

 

Cerpen

Melodrama Superhero

Tribun Jabar, 31 Desember 2017

Mimpiku? Sama. Sejak kecil aku bermimpi menjadi superhero dengan kostum paling gagah yang bisa kubayangkan. Tubuh terjiplak ketat dengan simbol kebanggan di tengah dada. Aku ingin menjadi superhero. Hingga bisa terbang menyelamatkan gadis yang tergantung di beranda apartemen, membantu kasir toko emas saat ditodong perampok, atau sekadar membunyikan lonceng tahun baru atas undangan khusus walikota.

Impian itu menjadi kenyataan ketika aku sedang terpuruk akibat persoalan asmara. Kekasihku menikah dan tanpa mengirim pesan pernyataan berpisah. Aku merasa seperti sebentuk bayangan yang tanpa pernah dikehendaki kehadirannya. Dia, kekasihku yang selalu kukirimi pesan pengingat makan, ternyata lebih memilih orang lain. Aku memutuskan untuk mengakhiri hidup saja. Tidak ada lagi orang yang akan kukirimi pesan pengingat makan siang.

Aku pergi ke Bukit Golgota. Aku ingat, di sana ada pohon yang lekuk tajuknya mirip bentuk kepala Kumbakarna. Di sanalah salah seorang kawanku menggantungkan diri. Aku ingin mengikuti dia. Meski aku tahu, Bukit Golgota itu sekarang tak lagi sama dengan sepuluh atau lima belas tahun lalu. Lantaran seorang pebisnis batubara berhasil menemukan kandungan timah yang cukup banyak, 300 meter di bawah Bukit Golgota. Akibatnya, mobil pengeruk, kemah penambang, bangunan kantor menutup sebagian Bukit Golgota. Walaupun pohon yang mirip kepala Kumbakarna itu masih ada, aku tetap harus memutar jauh agar tidak harus melewati pengamanan tambang timah. Continue reading “Melodrama Superhero”