Cerpen · Resensi

Bukan Sekadar Cetak Ulang Biasa

Hampir semua buku Eka Kurniawan, saya telah baca dan koleksi. Kecuali edisi-edisi yang telah diterjemahkan ke dalam bahasa asing. Heehee. Namun, satu judul yang belum saya baca dan punyai, semenjak saya mulai mengoleksi buku-buku Eka, yakni Cinta Tak Ada Mati. Buku ini susah saya temukan. Tidak seperti Gelak Sedih yang pernah saya temukan di lapak online kala itu. Buku ini benar-benar susah dicari, kalau pun bisa ditemui di lapak online bekas harganya melangit, karena semacam edisi koleksi. Dan betapa girangnya saya, buku ini dihadirkan kembali ke publik di Mei 2018. Saya bungah sekali. Dan setelah memegang edisi barunya, saya terkejut karena terdapat perbedaan dengan edisi lawas 2005. Edisi 2018 disusun dengan komposisi yang berbeda. Bukan Sekadar Cetak Ulang Biasa. Ah, tidak masalah. Toh saya tetap akan membaca buku ini. Dan cerpen favorit saya adalah cerita panjang yang dijadikan judul, Cinta Tak Ada Mati. Kisah orang-orang tua memang selalu membuat saya terharu dan bagaimana gitu. Apalagi kisah Mardio ini, yang diakhiri dengan tragis membahana. Continue reading “Bukan Sekadar Cetak Ulang Biasa”

Advertisements
Resensi

Haru di Gwangju 1980

Rilis pada Agustus 2017, film A Taxi Driver menempati urutan kedua box office di Korea Selatan dengan penghasilan total $84.448.023, mengalahkan Spiderman: Homecoming di urutan keenam. Sebuah fenomena yang harus ditiru di dunia perfilman Indonesia. Film drama sejarah based on true events yang ternyata diminati publik Korea.

A Taxi Driver mengisahkan Jurgen Hinzpeter, reporter televisi Jerman ADZ yang berusaha menembus embargo tentara atas Gwangju dengan bantuan sopir taksi kuning bernama Kim Sa-bok. Dia berhasil mencuri gambar real time kondisi Gwangju, kemudian menyebarkan ke dunia internasional. Kemudian Hinzpeter dikenal sebagai salah satu tokoh penting di kalangan pro-demokrasi. Tergambar betapa pemerintahan dan tentara berusaha menjaga agar tidak ada kebocoran informasi perihal gejolak Gwangju. Pengalaman visual perihal kerusuhan yang menjadi salah satu fragmen sejarah berdarah di Korea Selatan.

Walaupun tidak disebut Han Kang sebagai film yang mendukung dalam proses penulisan buku ini, A Taxi Driver, film yang rilis di Agustus 2017, cukup menjadi komplemen dalam membaca Mata Malam. Benar bahwa novel ini terbit pertama kali dalam edisi Korea pada tahun 2014, tiga tahun lebih awal dibandingkan film. Namun, keduanya telah berhasil membangun nuansa Gwangju di tahun 1980, ketika terjadi pergesekan antara tentara dan sipil. Continue reading “Haru di Gwangju 1980”

Jurnal · Resensi

Anomali

sumber gambar Sean Lewis

Kalian yang pernah membaca novel atau cerpen Ahmad Tohari akan merasakan bagaimana kehidupan para tokoh dijelaskan dengan rinci dan indah. Pertama kali saya membaca Ronggeng Dukuh Paruk, saya jatuh cinta semenjak bagian ketika Ahmad Tohari menulis bagaimana Rasus memakan pepaya langsung tanpa dikupas. Bagian ini menurut saya indah sekali. Entah mengapa saya kemudian jatuh cinta. Cara beliau berkisah memang tenang, detail, rinci, sehingga adegan per adegan hidup dan nyaman dinikmati. Pengalaman demikian juga saya rasakan ketika pertama kali membaca cerpen Bibir Dalam Pispot, milik Hamsad Rangkuti. Entah mengapa penceritaan dengan gaya sederhana, dengan tidak menggunakan teknik neko-neko, yang tidak abai pada detail membuat cerita rekaan itu hampir-hampir saya imani sebagai penggalan kisah nyata yang dipungut penulis. Memang dua contoh itu tidak memiliki teknik yang neko-neko, atau beberapa orang mengatakan itu zadul, ketinggalan zaman, dan enggak mewakili zaman mileneal di mana teks dan penulis berhak hidup atas dirinya sendiri. Novel sekarang mah bebas-bebas saja.

Benar, generasi penulis sekarang memang tidak boleh menulis dengan gaya kuno. Apalagi kalau selalu dimulai dengan pemandangan alam, matahari bersinar terik, bulan bulat putih, itu gaya-gaya yang enggak akan ditemukan di penulis era mileneal sekarang. Mereka macam-macam dalam teknik, simile. Mungkin ini juga dikarenakan referensi bacaan mereka yang sekarang semakin beragam dan mudah didapatkan. Ya, segarlah dalam dunia literasi Indonesia. Continue reading “Anomali”

Jurnal · Resensi

Resensi Buruk untuk Buku Baik

Ketika Michiko Kakutani, salah satu penulis ulasan dan kritik buku di New Yorks Times, pensiun di 2017 lalu, salah satu media menuliskan kalimat: “Malam ini para novelis akan tidur lebih nyenyak”. Ya, benar. Para novelis itu hampir dipastikan tidak akan menerima ulasan yang supertajam, superpedas, dan mendalam dari Kakutani. Sebagai contoh, Kakutani pernah menyebut The Japanese Lover, milik Isabel Allende dengan istilah “Allende memang bintang, tapi The Japanese Lover tidak bersinar.” Kekuatan Kakutani dalam menulis ulasan dan mengkritik kadang menjadi rujukan dan lebih sering menjadi acuan para toko, misalkan amazon atau sangat sering kalimat Kakutani dikutip untuk dijadikan sampul, tentu dipilih yang kuat dan membuat pembaca tertarik membawa ke kasir. Ya, demikianlah peran kuat dari seorang pengulas yang baik. Saya bayangkan, apabila Kakutani di Indonesia akan sering “mencak-mencak” atas beberapa novel baru yang mungkin akan diulas.

sumber gambar: Wenyi Geng

Pernah juga saya mendengar kisah, ketika Cantik Itu Luka, Eka Kurniawan baru terbit oleh penerbit Yogyakarta sebelum pindah ke GPU, Maman S Mahayana menulis ulasan “pedas” di Media Indonesia. Estetika model mana yang hendak dimainkan Eka Kurniawan dalam Cantik itu Luka?, tanya Maman dalam ulasannya. Kemudian (kalau saya tidak salah ingat), gelombang pembelaan mulai Muhidin M Dahlan dan Katrin Bandel bergantian dimuat di media yang sama. Namun, ulasan yang cukup keras itu tidak menyurutkan kegemilangan novel Eka Kurniawan tersebut. Bahkan sekarang, kita bisa menikmati buku tersebut dalam ragam bahasa terjemahan. Intinya apa? Continue reading “Resensi Buruk untuk Buku Baik”

Jurnal · Resensi

Kok Pada Enggak Baca Buku Ini Sih?

sumber gambar: Miguel Ángel Camprubí

Beberapa waktu lalu, salah seorang penulis muda kenamaan Indonesia, melempar cuitan di twitter. “Kurang tertarik baca XXXXX, maap. Mending ngabisin waktu buat baca YYYYY.” Tidak ada yang salah dengan cuitan ini. Sama sekali tidak keliru. Karena membaca menurut saya adalah kegiatan solitair, meski belakangan banyak kegiatan membaca “berjamaah” macam tasmik quran, sebagaimana yang sering Klub Baca Yogyakarta kerjakan. Sehingga sangat mungkin orang tidak nyaman membaca buku tertentu, dan sebaliknya sangat suka dengan buku tertentu dan tidak memedulikan pendapat orang, ulasan di media, atau bahkan orang yang menjelek-jelekan sekali pun, bagaimana angin yang masuk telinga kanan dan keluar telinga kiri. Continue reading “Kok Pada Enggak Baca Buku Ini Sih?”

Resensi

Buku Terpanas 2018

sumber gambar Inca Pan

Kalau boleh menyebut, mungkin Aroma Karsa, akan menjadi salah satu buku fenomenal di 2018. Selain ini adalah karya Dee setelah rampung seri Supernova, juga dengan beragam kisah yang sangat menarik. Pertamabuku ini hadir lebih dahulu dalam bentuk ebook, versi digital, dengan sistem ala-ala cerita bersambung mingguan. Yaaa, mungkin versi lain dari wattpad. Namun, karena penulisnya Dee yang sudah punya nama dan fanbase kuat, maka tidak ayal versi digital pun mengundang banyak respon postif dan membawa tren baru. (Seharusnya penulis-penulis tenar, menarik kalau mewarnai dunia digital dengan cara sebagaimana Dee ini. Tentu akan lebih baik kalau anak-anak muda itu baca versi digital novel, daripada baca berita hoax penuh kebencian). Keduatema penciuman itu seksi sekali. Entah mengapa saya langsung menandai buku ini akan jadi the hottest, karena keunikan pokok cerita Dee tersebut. Saya mau nostalgia lebih dahulu. Perkenalan pertama saya dengan Dee adalah di Filosofi Kopi, ketika masih diterbitkan oleh GagasMedia dan Truedee, belum pindah ke Bentang. Sampul mencolok membuat saya membawa buku itu dan saya langsung suka dengan ceritanya, sederhana dan ajaib. Terutama gaya Dee menyusun kalimat dan merangkai narasi. Tenang dan adem gitu. Barulah kemudian saya suka dengan Perahu Kertas dan Madre. Dan Aroma Karsa ini punya tema yang benar-benar beda. Coba kalau ada buku Indonesia yang beracuan pada indera penciuman, bisa komen di bawah. Kalau luar negeri, mungkin saya bisa menyebut Parfume-nya Patrick Suskind. Kemudian penciuman ini dirangkai dengan mitos, legenda, dan fantasi lokal yang kuat. Tidak ‘receh’ ala-ala sinetron ajaib Indosiar, tapi tetap enggak high-fantasy. Ketiga, saya mau angkat topi dengan ketekunan riset Dee. Dalam novel ini sudah terbukti. Bahkan semenjak berita ini mencuat di media, saya justru penasaran dengan adegan apa yang mengharuskan Dee riset langsung dengan Ananda Mikola. Semula saya menganggap tokoh utama adalah pembalap, nyatanya adegan penting itu hanya sekelumit. Wow! Yang sekelumit saja riset langsung, apalagi semua bangunan cerita. Makanya tidak ayal, bila dunia parfume, Bantargebang, seluk beluk gunung lawu, dll tampak begitu nyata. Heeheee. Keempat, karena buku ini adalah awalan dari gerbang kisah baru. Meski Dee, malu-malu mengakui, saya yakin Aroma Karsa adalah awalan seri baru setelah Supernova. Dan saya tidak sabar menunggunya.
Baca ulasan saya atas Aroma Karsa, di Jurnal Ruang. []

 

Jurnal · Resensi

7 Novel Thriller Yang Tidak Boleh Kalian Baca Sendirian

sumber gambar: serge no soy

BELAKANGAN saya memang sedang tersandera dan gandrung dengan novel-novel thriller. Hampir beberapa judul dan penulis baru yang kemudian menjadi idola saya adalah thriller, meski genre sastra (meski saya harus sepakat dengan Mas Seno, bahwa mengotakan sastra dan non-sastra adalah kepentingan marketing semata) yang tetap saya idolakan. Kecintaan saya atas novel thriller ini kemudian mengimbas pada beberapa genre film yang memang lebih asyik ketika kita dibuat degdegan tidak keruan saat menebak-nebak otak di balik kejadian, atau dibuat enggak yakin dengan kejutan dan twist di akhir cerita. Sebenarnya, novel thriller juga menyajikan kesan yang demikian. Kemudian saya mulai mendeteksi bahwa genre thriller ini adalah sejatinya genre yang paling susah. Penulis harus pintar bikin twist, bikin karakter yang tidak terpercaya, atau bikin pace cerita yang menarik. Dan di postingan ini, saya mau membagi cerita 7 novel thriller yang menarik dan sewajarnya teman-teman baca dan enggak boleh baca sendirian. Namun, saya tidak mau memasukkan nama Agatha Christie atau Sherlock Homes. Sudahlah, keduanya kita tempatkan di area “beyond” dari semua penulis thriller.

Kita mulai…..  Continue reading “7 Novel Thriller Yang Tidak Boleh Kalian Baca Sendirian”