Jurnal · Resensi

7 Novel Thriller Yang Tidak Boleh Kalian Baca Sendirian

sumber gambar: serge no soy

BELAKANGAN saya memang sedang tersandera dan gandrung dengan novel-novel thriller. Hampir beberapa judul dan penulis baru yang kemudian menjadi idola saya adalah thriller, meski genre sastra (meski saya harus sepakat dengan Mas Seno, bahwa mengotakan sastra dan non-sastra adalah kepentingan marketing semata) yang tetap saya idolakan. Kecintaan saya atas novel thriller ini kemudian mengimbas pada beberapa genre film yang memang lebih asyik ketika kita dibuat degdegan tidak keruan saat menebak-nebak otak di balik kejadian, atau dibuat enggak yakin dengan kejutan dan twist di akhir cerita. Sebenarnya, novel thriller juga menyajikan kesan yang demikian. Kemudian saya mulai mendeteksi bahwa genre thriller ini adalah sejatinya genre yang paling susah. Penulis harus pintar bikin twist, bikin karakter yang tidak terpercaya, atau bikin pace cerita yang menarik. Dan di postingan ini, saya mau membagi cerita 7 novel thriller yang menarik dan sewajarnya teman-teman baca dan enggak boleh baca sendirian. Namun, saya tidak mau memasukkan nama Agatha Christie atau Sherlock Homes. Sudahlah, keduanya kita tempatkan di area “beyond” dari semua penulis thriller.

Kita mulai…..  Continue reading “7 Novel Thriller Yang Tidak Boleh Kalian Baca Sendirian”

Advertisements
Resensi

Gurunya Tumbuhan, Kelasnya Alam

Basabasi, 7 April 2018

Setiap orang yang penuh ambisi harus berperang

dengan senjatanya masing-masing,”Oscar Wilde (1854-1900)

Setelah membaca buku Iman Budhi Santoso, budayawan dan penyair andhap-ashor-lembah-manah ini, seketika ingatan terseret pada perkataan Oscar Wilde. Seorang seniman haruslah memiliki ambisibesar atas karyanya. Karya bukan semata buah pikir permenungan, melainkan juga sebagai senjata (meminjam istilah Wilde) untuk melawan cibiran mereka yang meremehkan. Hanya Iman Budhi Santoso yang merasa perlu melakukan tabulasi atas nama-nama tuwuhan/wit-witan yang diabadikan sebagai nama desa.

Raudal Tanjung Banua dalam esai “Pohon dalam Sastra Indonesia” (Kompas, 12 Agustus 2017) menyebut sastra Indonesia terbilang minim menggaet pohon sebagai bahan cerita. Sangat ironis, bila dikaitkan dengan klausa bahwa sastrawan dekat dengan alam, imbuh Raudal. Dan pendapat ini seketika gugur oleh buku ajaib milik Iman Budhi Santosa ini. Continue reading “Gurunya Tumbuhan, Kelasnya Alam”

Jurnal

Tidak Lagi Memberi Impresi

Saya setiap kali nonton budaya Korea, baik drama, variety show, dan film, saya teringat apa yang disampaikan oleh Euny Hong dalam salah satu artikel di bukunya “Korean Cool”. Apa yang dikatakan Euny Hong? Euny Hong bilang, sebenarnya untuk bikin lagu, musik, dan penampilan enak, tidak perlu dibutuhkan 9 atau 11 orang idols. Lantas mengapa kok rata-rata idol itu berjumlah banyak. Setelah saya ngikutin beberapa reality show yang mengundang beberapa idol, saya bisa menyimpulkan teori saya bahwa ini murni keperluan bisnis. Logikanya, mereka bukan lagi sebagai sebuah grup yang memang harus demikian jumlahnya agar bisa menyampaikan pesan lewat lagu. Semakin banyak jumlahnya, maka perusahaan yang menaungi mereka akan semakin banyak kesempatan “memerah” keuntungan dari person person setiap idol. (Ini murni teori saya)

Karena saya baru menyukai budaya Korea akhir-akhir ini, tidak tahu pendahulu-pendahulu mereka bagaimana, terutama yang idol dan penyanyi. Jadi saya juga tidak bisa membandingkan apakah idol atau penyanyi Korea sebelum merebak Korean Wave menempatkan budaya sebagai penyampai pesan atau tidak.  Continue reading “Tidak Lagi Memberi Impresi”

Film · Jurnal

Saya Pelahap Budaya Korea

Saya termasuk generasi yang dimabok oleh budaya pop Korea, terutama drama dan film Korea. Meski sejujurnya saya tidak mudah hapal nama-nama pemain. Maka, ketika teman saya tanya “itu yang main si A, bukan?” Saya tidak akan menjawab dengan detail. Saya hanya bisa menceritakan “itu yang ceritanya begini, begini,” atau minimal “yang pernah main di sana”. Ya, nama mereka susah dihapal.

Belakangan, saya mungkin sudah mulai jengah dengan drama romantis produksi Korea. Kalau dicermati polanya selalu sama. Beberapa bahkan alur pengisahan cenderung lambat dan klise. Drama romantis yang saya tonton terakhir adalah Because It’s My frist Life dan Go Back Couple, yang keduanya saya nilai punya sudut pandang yang berbeda, unik, dan karakter tokohnya sangat kuat. Saya sekarang mengklaim diri saya sendiri, bahwa saya mungkin sudah mulai pilih-pilih drama untuk hiburan selepas isya saya. Pencita K-drama dan K-movie yang upgraded, heeheee. Drama-drama mainstream kadang tidak menarik hati saya. Oleh sebab itu, saya lebih suka mantengin drama-drama keluaran TvN yang temanya sangat variatif dan tidak jarang sukses membuat dada saya hangat. Misalkan Wise Prison Life atau The Avenger Social Club yang hampir nol-romance tapi ceritanya kuat, karakternya nempel di kepala, dan kisahnya sangat ‘manusiawi’. Juga beberapa drama milik OCN yang kerap menghadirkan tema thriller yang segar dan beda. Continue reading “Saya Pelahap Budaya Korea”

Resensi

Bersua Dengan Cinta Lama

(Harian Bhirawa, 2 Maret 2018)

Poros cerita dalam novel ini terjadi di panti jompo bernama Lark House, yang digambarkan lebih sebagai tempat penuh kerusuhan dibandingkan sebagai tempat menghabiskan masa tua. Ini lantaran para penghuninya yang super ajaib.

Total 250 penghuni Lark house adalah mereka yang mengakui diri sebagai pemikir bebas, pencari spiritual, aktivis sosial dan ekologi, nihilis, dan beberapa dari sedikit hippie yang masih hidup di San Francisco Bay Area. Semuanya dibagi dalam beberapa tingkatan kelas, yang secara leterlek juga digambarkan sebagai tingkatan lantai di mana mereka tinggal. Dan yang teratas adalah surga, yang sudah siap dilepas oleh para penghuni lainnya.

Usia, terlepas dari segala keterbatasannya, tidak menghentikan seseorang untuk bersenang-senang dan mengambil bagian dalam keriuhan hidup,” ujar Isabel Allende dalam salah satu wawancara. Continue reading “Bersua Dengan Cinta Lama”

Cerpen

Kartu Kuning

(Kedaulatan Rakyat, 18 Februari 2018)

MAUT datang menjemput. Bendri sendiri sudah mafhum bahwa Maut suatu waktu pasti akan datang, mengetuk pintu perlahan tapi memekakkan gendang telinga. Bendri yakin dia tidak seperti orang lain, dia bisa mengundur kedatangan Maut tidak hanya sedetik.

Sudah sering Bendri dengar, Maut menjemput dengan rupa yang berbeda-beda di setiap manusia. Bisa serupa raksasa, serupa ular naga, atau gadis semanis Nella Kharisma. Tapi, sebagai mantan wasit sekaligus penggila Manchester United garis keras, Bendri ingin Maut datang berwujud Setan Merah atau paling tidak salah satu legenda MU yang dia idolakan semenjak kelas dua sekolah dasar, Bobby Charlton.

“Tidak mungkin. Aku bakalan kesusahan. Aku tidak bisa bahasa inggris,” Bendri menampik idenya sendiri. “Kalau aku kikuk dan tidak pandai berkelit, bisa-bisa Maut ngotot menjemput.” Continue reading “Kartu Kuning”

Resensi

Cerpen yang Berbahaya

Semasa saya masih di Jogja, saya mendapati buku perihal gonjang-ganjing sastra, milik Ki Panji Kusmin. Saya yang merasa tidak terlalu mengerti  tentang apa yang diributkan kala itu, lebih memilih menikmati buku itu sebagai salah satu sajian kasus yang heboh pada masanya. Dan sekarang, kasus sedemikian heboh tidak lagi terulang. Beberapa cerpen dewasa ini memang mengangkat tema-tema yang cukup sensitif. Dan buku “Bukan Perawan Maria” mencoba berada pada domain yang demikian. Mengorek-ngorek cara kita menghadapi keberagaman dalam beragama. Dan lebih dari itu, cerpen-cerpen dalam buku adalah cara baru mengungkapkan satire–terlepas kesalahan minor yang semoga di cetakan selanjutnya bisa diperbaiki.
Ulasan saya atas buku tersebut ada di Jurnal Ruang. Selamat membaca! []